Adab Kepada Rasulullah

0

Adab Kepada Rasulullah

Serial Tadabbur Ayat “Yâ Ayyuhalladzîna Âmanû” 1

Oleh: Ust. Yazid Abdul Alim, Lc., M.Pd.

Allah Ta’ala memanggil kita dengan seruan “wahai orang-orang beriman” di dalam Al-Qur’an sebanyak 90 kali. Sebuah panggilan mulia, panggilan yang menyenangkan. Bagaimana tidak, Allah memanggil kita dengan predikat iman, gelar iman yang mana kita semua berharap termasuk salah satu dari orang-orang yang beriman kepada Allah Ta’ala. Seruan ini mengundang perhatian kita, dan sudah seharusnya kita merasa terpanggil serta merasa termasuk orang yang dituju oleh seruan ini, terlebih Allah mengulanginya sebanyak 90 kali.

Bahkan ketika Abdullah bin Mas’ud -radhiyallahu ‘anhu- diminta seseorang untuk memberinya nasehat, beliau berkata : “Apabila engkau mendengar Allah berfirman “wahai orang-orang beriman”, dengarkanlah baik-baik. Karena setelahnya Allah akan menyebutkan kebaikan yang Dia perintahkan atau keburukan yang Dia larang” (HR. Abu Daud). (atsar ini disebutkan oleh Ibnu Katsir di dalam tafsirnya dan dishohihkan juga oleh syekh Ahmad Syakir).

Sembilan puluh kali Allah menyeru orang-orang beriman, seluruhnya berkenaan dengan urusan dunia dan agama yang penting untuk diketahui dan diamalkan oleh seorang mukmin, untuk menggapai kebahagiaan di dunia maupun di akherat. Dimulai dengan adab mulia kepada Rasulullah dan diakhiri dengan taubatan nashuha yang dapat menyelamatkan dari kehinaan di dunia dan dari adzab di akherat kelak. (lihat Nidâât ar Rahmân – Syekh Abu Bakar Jabir Al Jazâiri, hal. 7-8)

Ayat Pertama

 يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ لَا تَقُولُوا۟ رَٰعِنَا وَقُولُوا۟ ٱنظُرْنَا وَٱسْمَعُوا۟ ۗ وَلِلْكَٰفِرِينَ عَذَابٌ أَلِيمٌ

Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu katakan (kepada Muhammad): “Raa’ina”, tetapi katakanlah: “Unzhurna”, dan “dengarlah”. Dan bagi orang-orang yang kafir siksaan yang pedih

(QS. Al Baqarah: 104)

Ayat ini berisi larangan kepada orang-orang beriman dari mengatakan “râ’inâ” yang berarti : perhatikanlah keadaan kami. Tentu ada alasan kenapa Allah melarang mengatakan suatu kalimat, padahal hukum asalnya boleh diucapkan. Sebabnya adalah, dahulu apabila Nabi -shallallahu ‘alaihi wa sallam- menyampaikan Al Qur’an dan syariat kepada para shahabat, mereka meminta Nabi untuk mengulang dan tidak tergesa-gesa dalam menyampaikan agar mereka faham dan mengerti, mereka mengucapkan “râ’inâ” yaitu; dengarkanlah, perhatikanlah kami dan janganlah merasa keberatan.

Pada waktu yang bersamaan, orang-orang Yahudi suka mengejek Nabi secara sembunyi-sembunyi dengan kalimat dalam Bahasa Ibrani yang mirip dengan kalimat “râ’inâ” namun maksudnya mengejek Nabi, yang berarti “kamu tidak dapat mendengar”. Mereka berkata kepada sebagian yang lain, biasanya kita mengejek Muhammad sembunyi-sembunyi, sekarang lakukanlah dengan terang-terangan -dengan mengucapkan “râ’inâ” dengan maksud tersembunyi utk mengejek Nabi-. Atau mereka maksudkan dengan kalimat ini yang artinya adalah bodoh. Maka Allah membongkar rahasia mereka agar orang-orang Yahudi dan munafik berhenti mengucapkannya. (Tafsir At Tahrir wa At Tanwir – Ibnu ‘Asyûr)

Dalam surat Al Baqarah, Ayat ini terletak setelah ayat sihir bani Israil, dimana keduanya memiliki kesamaan. Sihir menjadi kebiasaan yang melekat pada bani Israil dengan ucapan, mantra-mantra yang ditujukan kepada seseorang dengan maksud tersembunyi. Sebagaimana kalimat “râ’inâ” diucapkan terang-terangan dengan maksud mengejek Nabi. Lantas Allah membongkar rahasia mereka sebagaimana membongkar sihir mereka sehingga tidak berpengaruh. Adapun ayat ini mengajarkan adab mulia seorang mukmin kepada Rasulullah dan kepada apa yang disampaikan beliau berupa alquran dan syariat.

Diantara mukjizat Al Qur’an, ketika Allah melarang orang-orang beriman mengucapkan  “râ’inâ, Allah menggantinya dengan kalimat yang sama dalam huruf, makna dan maksud dari pengucapannya, yaitu “Undzurnâ” yang artinya: memperhatikan, memudahkan dan mendengarkan mereka.

Dan ayat ini mengajarkan kepada kita untuk melakukan tindakan pencegahan dan menjauhi segala macam sarana yang menjerumuskan kepada perkara yang dilarang (baca; Sadd Dzari’ah). Sehingga kita dilarang mengucapkan kalimat “râ’inâ atau istilah-istilah lain karena memiliki makna ganda dan mudah dimanfaatkan oleh orang-orang kafir, orang munafik dan musuh-musuh Islam untuk merendahkan syariat. (lihat At Tahrir wa At Tanwir Ibni Asyûr dan Tafsir syekh Al Sa’di pada ayat ini).

Ayat inipun menegaskan kepada kita haramnya bertasyabbuh, menyerupai orang-orang kafir baik pada ucapan maupun perbuatan mereka, pakaian serta ritual-ritual ibadah mereka. Ibnu Umar -radhiyallahu ‘anhu- berkata  : Rasulullah -shallallahu ‘alaihi wa sallam- bersabda:

“Aku diutus menjelang terjadinya kiamat dengan pedang, sehingga hanya Allah disembah di muka bumi dan tidak ada sekutu baginya. Dijadikannya rizkiku di bawah naungan tombakku, dan kehinaan ditimpakan atas orang yang menyelisihi perintahku, dan siapa saja yang menyerupai suatu kaum, niscaya dia termasuk dari mereka”. (HR. Ahmad; Lihat Tafsir Ibnu Katsir)

Dalam mendidik orang-orang beriman dengan adab yang mulia, Allah tidak hanya mengganti kalimat “râ’inâ” dengan “Undzurnâ”. Namun menambahkan dengan perintah “dan dengarkanlah oleh kalian”. Sebuah perintah untuk mendengarkan dengan baik dan setelah itu disempurnakan dengan melaksanakan semua perintah Rasulullah, sebagaimana dijelaskan oleh Ibnu ‘Athiyyah -rahimahullah-. Karena apa yang Rasulullah sampaikan memuat perintah dan larangan yang merupakan tuntutan keimanan seseorang untuk taat dan patuh kepada perintah Allah dan Rasul-Nya.

Berdasarkan hal ini, Imam Ibnu Jarir -rahimahullah- menjelaskan makna ayat dengan berkata : “Wahai orang-orang beriman, janganlah kalian mengucapkan kepada Nabi kalian “Râ’inâ” dengarkanlah kami agar memahami dan engkau memahami apa yang kami ucapkan. Akan tetapi ucapkanlah: tunggulah dan perhatikanlah kami, hingga kami memahami yang kami pelajari dari engkau, dan dengarkanlah dengan baik apa yang beliau sampaikan, fahami dan hafalkanlah -untuk diamalkan-. Kemudian Allah mengabarkan barangsiapa yang mendustakan ayat-ayat-Nya, menyelisihi perintah dan larangan-Nya serta mendustakan Rasul-Nya, baginya siksa pedih di akherat kelak”. (Tafsir Ath Thabari)

Betapa pentingnya kita menghiasai diri dengan adab mulia, sehingga seruan pertama berisi perintah untuk memuliakan Rasulullah, tidak menyakitinya dengan ucapan maupun perbuatan karena akibatnya adalah terjerumusnya seseorang kepada kekafiran karena merendahkan dan menyakiti Rasulullah. Seorang mukmin hatinya takut ketika mendengar nama Allah diucapkan,  mendengarkan lantunan ayat alquran dengan khusyu’, tidak tertawa atau bahkan meninggikan suaranya.

Bershalawat kepada Rasulullah ketika mendengar nama beliau disebut, memuliakan hadits-haditsnya dan menumbuhkan kecintaan kepadanya. Demikian halnya dengan memuliakan para ulama, para guru dan para pemimpin. Bahkan terhadap sesama muslim dilarang mengolok-olok dan merendahkannya, sebagaimana firman Allah dalam surat Al Hujurat: 11 :

“Hai orang-orang yang beriman, janganlah sekumpulan orang laki-laki merendahkan kumpulan yang lain, boleh jadi yang ditertawakan itu lebih baik dari mereka. Dan jangan pula sekumpulan perempuan merendahkan kumpulan lainnya, boleh jadi yang direndahkan itu lebih baik. Dan janganlah suka mencela dirimu sendiri dan jangan memanggil dengan gelaran yang mengandung ejekan. Seburuk-buruk panggilan adalah (panggilan) yang buruk sesudah iman dan barangsiapa yang tidak bertobat, maka mereka itulah orang-orang yang zalim.”

Sikap inilah yang disebut dengan megangungkan nash syar’i (Al Qur’an dan hadits Nabi). Mengagungkan keduanya merupakan pondasi penting keimanan seorang mukmin. Dr. Hasan Abdul Hamid Bukhari menjelaskan; “Mengagungkan nash Al Qur’an dan hadits mewujudkan lima prinsip penting dalam Islam, pertama: mengagungkan keduanya berarti mengagungkan syariat yang Allah turunkan, sehingga hati siap menerapkannya, kedua: menumbuhkan ketundukan dan ketaatan kepada setiap perintah Allah, ketiga: sebagai bentuk dari mengagungkan Allah yang tumbuh diatasnya tiga pilar ibadah yaitu; mahabbah, khauf (takut) dan roja’ (harap), keempat: mengagungkan larangan-larangan Allah sehingga menjauhinya dan kelima: mengagungkan syiar-syiar agama.”

Para shahabat dan para Salafushsholih telah memberikan kita contoh luar biasa bagaimana seharusnya mengagungkan nash syar’i ( teks Al Qur’an dan hadits), mereka menjaga keduanya dengan hafalan dan tulisan lalu mengajarkannya kepada kita. Ketika larangan khamer turun secara final, merekapun berhenti dan membuang semua persediaan khamer. (HR. Bukhari No. 5582-5583).

Betapa teguhnya mereka memegang wasiat Nabi, hingga Abu Hurairah berkata: Kekasihku (Rasululullah) berwasiat kepadaku untuk melakukan tiga perkara, yang mana aku tidak akan meninggalkannya sampai aku mati; shaum tiga hari dari setiap bulan (ayyamul bidh), dua rakaat dhuha dan sholat witir sebelum tidur. (HR. Bukhari No. 11780).

Tatkala fitnah Mu’tazilah dengan berkeyakinan bahwa alquran adalah makhluk, umat ini menyaksikan bagaimana keteguhan Imam Ahmad dalam membela akidah ahlussunnah dengan tetap tegar menyatakan Al Qur’an adalah kalamullah. Dalam mengajarkan Al Qur’an, para shahabat tidak hanya meriwayatkan lafadhnya namun perhatian terbesar mereka adalah meriwayatkan dan menjelaskan makna dan tafsir seluruh isi Al Qur’an sebagaimana yang dilakukan Imam Mujahid Bersama Ibnu Abbas -radhiyallahu anhuma-, beliau mengkhatamkan Al Qur’an kepada Ibnu Abbas dengan menanyakan makna setiap ayat dari Al Fatihah hingga An Naas. (Lihat, Ta’zhim Nash Syar’i – Dr Hasan Abdul Hamid Bukhari : hal. 40-85)

Itulah adab mulia kepada Allah dan Rasul-Nya, karena memang adab harus dibangun sebelum ilmu. Wallahu a’lam.