Apa Yang Kau Cari, Duhai Muslimah…

0

Aktivitas padat merayap. Kira- kira, inilah yang sering dialami oleh para muslimah hari ini. Entah itu ummahat [para ibu] maupun yang masih bergelar fatayat [para muslimah yang belum menikah]. Sejak kelopak mata kita terbuka untuk mulai merenda hari, hingga kemudian terpejam kembali di malam yang hening, seolah tumpukan pekerjaan tak kunjung usai.

Lihatlah Bunda Nita yang berprofesi sebagai ibu  rumah tangga plus tenaga pengajar di sebuah sekolah dasar. Sejak pagi buta ia harus menyiapkan segala sesuatunya. Menyediakan sarapan, memandikan anak, dan ‘uborampe’ lainnya, karena urusan rumah tetaplah menjadi tanggung jawabnya. Lihat pula Ummu Yumna. Meski jabatan utamanya ibu rumah tangga sejati, namun seabrek aktifitas selalu menanti. Mulai dari mengisi pengajian, sampai bisnis online kecil-kecilan yang menyita perhatiannya. Atau, lihat pula Neisya yang setiap pagi hingga sore menjelang sibuk di kampus. Baik untuk kuliah maupun kegiatan ‘kemuslimahan’ yang diikutinya.

Olala… Sibuk sekali engkau, duhai muslimah…. Lalu apa yang kau cari?

 

Kemana kaki ini ‘kan melangkah

Sebenarnya di ruang-ruang pengajian, para ustadz maupun ustadzah telah sering menjelaskan kepada  kita bahwa tujuan penciptaan manusia tidak lain adalah untuk beribadah kepada Allah. Bahkan kita sudah tidak merasa asing dan hafal di luar kepala tentang hal ini. “Dan tidak aku ciptakan jin dan manusia melainkan untuk beribadah kepadaKu.” [QS. Adz Dzariyat: 56]

Lebih gamblang lagi Allah juga menjelaskan, “Maka apakah kamu mengira Kami menciptakan kamu main-main dan bahwa  kamu tidak  akan dikembalikan kepada Kami”. [QS. Al Mukminun: 115].  Itu artinya dalam setiap kedipan mata, segala usaha tidak akan bernilai tanpa ada niatan ibadah kepada Allah SWT. Namun saking sibuknya manusia, saking sibuknya para muslimah, terkadang lupa akan tujuan yang sesungguhnya. Hmm… padahal Allah tidak menciptakan manusia dengan main-main. Namun kita terkadang ‘memilih’ bermain-main dengan tujuan hidup yang telah menjadi perintahNya. Sungguh naif.

Tapi anehnya, waktu yang terbilang sehari semalam selama 24 jam  ini, seringkali tak pernah cukup untuk menyelesaikan semua planing yang telah tersusun. Kerja lembur pun sering dilakukan demi memenuhi deadline. Namun tetap saja rutinitas harian yang sekian banyaknya, seakan memenjara setiap langkah sehingga membuat hak-hak yang lain terkurangi. Dan kita, para muslimah, seolah terjebak dalam pusaran roda yang sama dengan seluruh peradaban manusia dalam bungkus yang lain. Hanya dibedakan oleh penutup kepala, dengan isi kepala dan ambisi yang sama. Ironis.

Tanpa disadari, kita jadi seperti orang yang tak mengenal tujuan hidupnya. Kehidupanpun serasa menjadi rutinitas yang membosankan. Kita pun menjadi takut, galau terhadap sesuatu yang tidak bisa didefinisikan maknanya. Ilustrasi yang paling sederhana, seperti orang yang takut atau merasa tak nyaman berada dalam kegelapan. Mengapa? Karena di tempat gelap kita tidak mampu menguasai situasi. Tak tahu apakah yang ada di sekitar kita membahayakan atau tidak. Jadi tak heran, bila di tempat gelap manusia selalu diliputi ketakutan, rasa was-was, ragu dan khawatir. Bagai manusia yang tak tahu, kemana ia harus melangkah.

Duhai muslimah, akankah kita merasa demikian? Padahal kita tahu pasti, setiap orang akan berujung pada kematian. Alam akherat adalah kehidupan yang sesungguhnya. Maka tak seharusnya kita bergantung kepada dunia. Sekecil apapun. Karena bila kita bersandar padanya, ketika harta itu hilang, tender kita hancur, usaha yang telah dibangun sekian lama musnah, maka kita akan diliputi  rasa kecewa yang besar. Stres. Karena semuanya tinggalah kenangan.

Demikianlah bila kita salah ketika menentukan ataupun memaknai tujuan hidup. Dimana kewajiban untuk menjalankan perintah Allah, bukan berarti hanya menjalankan segala perintahNya yang kita sukai dan meninggalkan yang ‘tidak manusiawi’ dalam pandangan manusia. Bukan demikian. Karena kewajiban untuk menjalankan perintah Allah dan menjauhi laranganNya adalah, menjalankan semua yang ada dalam ketentuanNya. Mungkin tidak menyenangkan dalam pandangan manusia, mungkin berat ketika harus memikulnya. Namun yakinlah, bukan risalahNya yang keliru. Tapi manusialah yang tak mampu mengambil hikmah.

“…boleh jadi kamu tidak menyukai sesuatu padahal itu baik bagimu, dan boleh jadi kamu menyukai sesuatu padahal itu tidak baik bagimu. Allah mengetahui, sedangkan kamu tidak mengetahui.” [QS. Al Baqarah: 216]

Atau jangan-jangan, kita adalah hamba yang tak pandai bersyukur? Selalu merasa kurang dengan setiap kucuran nikmat dariNya. Meski telah memiliki rumah yang indah, kendaraan mewah, pasangan yang baik dan menyenangkan, tetapi masih saja terasa kurang. Alam pikiran kita dipenuhi oleh berbagai target untuk kepentingan dunia semata. Dalam sebuah hadits disebutkan,

“Barangsiapa bangun di pagi hari dan hanya dunia yang dipikirkannya,  sehingga seolah-olah dia tidak melihat Hak Allah dalam dirinya, maka Allah akan menanamkan 4 macam penyakit padanya. Pertama, kebingungan yang tiada putus-putusnya. Kedua, kesibukan yang tidak pernah jelas akhirnya. Ketiga, kebutuhan yang tidak pernah merasa terpenuhi. Keempat, khayalan yang tidak berujung wujudnya.” [HR. Muslim].

Sebuah nasehat yang super sekali. Barangkali kita pernah mengalaminya. Sudah berpayah-payah sedemikian rupa, namun tak juga terpenuhi pundi-pundi harapan kita. Bahkan sibuk yang dirasakan semakin tak jelas dan tak berujung. Na’udzubillah.

Pada akhirnya yang terjadi, sedikit demi sedikit namun pasti, hak Allah dan perhatian kita kepada orang-orang di sekeliling kita pun berkurang. Sebagaimana kisah tsa’labah yang meninggalkan sholat berjamaah karena terlalu sibuk dengan ratusan kambingnya. Sebagaimana kita yang sering tak peduli dengan tetangga terdekat yang tengah sakit. Sebagaimana kita yang membiarkan pergaulan anak-anak kita, entah dengan siapa.

Padahal orang yang ‘kaya’, bukanlah orang yang memiliki banyak persoalan, melainkan orang yang mampu menikmati segala permasalahan yang tengah ia hadapi. Kita boleh memiliki keinginan. Tapi setidaknya perlu menyadari bahwa inilah puncak dari perasaan tidak tentram. Kita dapat mengubah perasaan ini dengan fokus  pada apa yang telah dimiliki, melihat keadaan orang yang jauh kurang beruntung, dan banyak bersyukur. Dengan inilah kita akan merasakan nikmatnya hidup.

Terkadang, kita juga suka sekali membanding-bandingkan keadaan diri sendiri dengan orang lain. Memang, “Rumput tetangga sering nampak lebih hijau dari rumput di pekarangan sendiri.” Parahnya, kalau kita kemudian selalu diliputi rasa iri dengan keadaan orang lain.

Akhir kata, semoga kita bisa menjadi hamba yang pandai bersyukur sehingga lebih memaknai setiap langkah yang kita ambil di dunia ini. Menjadi orang tua terbaik bagi anak-anak, hingga mereka tak pernah segan berkata, “Aku ingin sepertimu, duhai ibu. Aku ingin sepertimu, duhai ayah.”  [Layla tm]

sumber: arrisalah edisi 158