Belajar kepada Guru Ngaji atau Dukun?

0

Belajar kepada Guru Ngaji atau Dukun?

Pertanyaan:

Assalamu’alaikum Pak, yang mau saya tanyakan terkait syirik. Saya kan pernah belajar ngaji sama salah satu guru ngaji, namun seiring saya ikut pengajian saya melihat beliau ini bisa dibilang seperti dukun sebagai contoh beliau bisa usir mahluk halus dari rumah atau ambil semacam jimat dari gaib. Nah dari situ saya mulai perlahan2 meninggalkan pengajian dan ikut ke tempat lain. Apakah hal yg saya lakukan ini salah atau gimana Pak. Mohon pencerahannya. Makasih.

Jawaban:

وعليكم السلام ورحمة الله وبركاته

بسم الله، والحمد لله، والصلاة والسلام على رسول الله، وعلى آله وأصحابه ومن والاه، وبعد:

Mencari sosok guru untuk belajar Islam merupakan salah satu rukun dalam tholabul ‘ilmi yang menentukan keberhasilan seseorang dalam belajar ilmu Islam. Oleh sebab itulah para ulama memberikan perhatian besar dalam masalah ini. Imam Muhammad bin Sirin –رحمه الله- pernah berkata:

 إِنَّ هَذَا الْعِلْمَ دِينٌ ، فَانْظُرُوا عَمَّنْ تَأْخُذُونَ دِينَكُمْ

Artinya: “Sesungguhnya ilmu ini adalah agama, maka perhatikanlah dari siapa kalian mengambil agama kalian”. [Muqoddimah Shohih Muslim].

Dari sinilah kita memahami bahwa belajar ilmu Islam bukan suatu hal yang remeh, namun menjadi perkara besar dan penting karena menyangkut benar dan sesatnya kita dalam beragama. Lebih dari itu, perkara ini menjadi penentu sah dan tidaknya ibadah kita kepada Allah ﷻ. Jika benar dalam memilih sosok guru maka selamatlah iman dan islam kita. Namun sebaliknya jika salah dalam memilihnya bisa berakibat fatal; yaitu rusaknya agama kita.

Setidaknya ada beberapa sifat dan kriteria guru yang harus kita ketahui dalam mengambil ilmu darinya. Di antara sifat dan kriterianya adalah sebagai berikut:

  1. Ikhlas dalam mengajarkan ilmu.
  2. Selalu menghadirkan rasa muroqobah (pengawasan dari Allah) dalam kondisi tersembunyi maupun secara terang-terangan.
  3. Menjaga kehormatan ilmu dari perkara yang merendahkannya.
  4. Bersikap zuhud terhadap dunia.
  5. Mensucikan ilmu dari kepentingan-kepentingan duniawi.
  6. Senantiasa menjaga pengamalan syari’at Islam.
  7. Mensucikan jiwa dari akhlaq yang buruk.
  8. Senantiasa disibukkan dengan ilmu baik secara bacaan, hafalan, tulisan dan penelitian ilmiyah.
  9. Senantiasa menjaga waktu untuk selalu disibukkan dengan yang bermanfaat dan beribadah kepada Allah ﷻ.
  10. Tidak pernah menolak ilmu dan mengambil faidah dari orang yang lebih muda atau lebih sedikit ilmunya atau dari orang tidak terkenal nasabnya.

Inilah beberapa sifat dan kriteria guru yang harus kita ketahui dalam rangka mengambil ilmu darinya.

Terkait dengan menganggap sosok guru yang tersebut dalam pertanyaan sebagai dukun, maka harus ditabayyunkan terlebih dahulu. Kalaupun indikasinya hanya mengusir makhluk halus (jin) maka perlu dilihat dengan apa dia mengusirnya. Kalau mengusirnya dengan ayat-ayat AL Quran ataupun dari doa-doa yang ma’tsur (ada periwayatan yang shohih) maka tidak mengapa. Inilah yang disebut dengan ruqyah yang sesuai syariat.

Namun jika cara mengusirnya dengan tata cara yang di luar dari tuntunan syari’at Islam, seperti ritual yang biasa dilakukan oleh seorang dukun maka bisa dikatakan itu perkara syirik dan kufur. Jika yang dilihat adalah tipe yang seperti ini, maka kita wajib menjauhkan diri darinya. Selanjutnya mencari guru yang lebih sholih dan lebih taqwa.

Semoga Allah menganugerahkan kepada kita ilmu yang bermanfaat, rizki yang baik, amalan yang diterima dan hadirnya guru yang sholih dalam membimbing kepada kebenaran.

والله أعلم بالصواب، وصلى الله على نبينا محمد وعلى آله وأصحابه وسلم.

Dijawab oleh: Abu Harits, Lc. –غفر الله له ولواديه-