Benteng Diri

0

Benteng Diri

Oleh: Abu Harits, Lc. –غفر الله له ولواديه-

Sebagai seorang mukmin haruslah menyadari bahwa fase kehidupan di dunia ini adalah fase ujian. Tidaklah seorang hamba telah mengikrarkan keimanannya melainkan pasti akan diuji. Perkara yang diuji adalah keimanannya. Bukan tentang masalah bagaimana hidup dengan jatah bagian dunianya. Allah ﷻ berfirman tentang keniscayaan ujian iman bagi para hamba-Nya :

﴿ولَنَبْلُوَنَّكُمْ حَتَّى نَعْلَمَ الْمُجَاهِدِيْنَ مِنْكُمْ وَالصَّابِرِيْنَ وَنَبْلُوَ أَخْبَارَكُمْ (31)﴾

Artinya: “Dan sungguh Kami akan menguji kalian hingga Kami mengetahui orang-orang yang berjihad dan orang-orang sabar di antara kalian, dan Kami akan uji perihal kalian”[QS. Muhammad: ayat 31]

Salah satu ujian iman yang dihadirkan dalam kehidupan dunia ini adalah keberadaan musuh yang senantiasa menyasar iman. Siang dan malam tidak berhenti untuk selalu menggelincirkan dan menghalangi manusia pada umumnya dan kaum beriman pada khususnya dari jalan kebenaran. Musuh yang dimaksud adalah syaitan. Dalam banyak ayat Al Quran, Allah ﷻ telah mengingatkan tentang permusuhan nyata dan abadi ini agar setiap mukmin dan mukminah senantiasa waspada terhadap tipu dayanya, salah satunya adalah firman-Nya:

﴿إِنَّ الشَّيْطَانَ لَكُمْ عَدُوٌّ فَاتَّخِذُوْهُ عَدُوًّا إِنَّمَا يَدْعُو حِزْبَهُ لِيَكُوْنُوْا مِنْ أَصْحَابِ السَّعِيْرِ(6)﴾

Artinya: “Sesungguhnya Syaitan itu adalah musuh yang nyata bagi kalian, maka perlakukanlah ia sebagai musuh. Sesungguhnya dia (syaitan) itu hanya mengajak kelompoknya menjadi penghuni neraka yang menyala-nyala”. [QS. Fathir: ayat 6]

Imam Ibnu Katsir dalam tafsirnya menjelaskan tentang ayat ini bahwa syaitan senantiasa menantang dan menghalangi kalian wahai manusia dengan segenap rasa permusuhan, maka kalian juga harus memperlakukannya sebagai musuh yaitu dengan menyelisihinya dan mendustakan seluruh ajakannya yang sarat dengan tipu daya. Karena tujuan utama dari seruan syaitan adalah agar manusia bisa masuk neraka bersamanya.[1]

Dalam menyesatkan manusia dari jalan islam dan iman syaitan menggunakan strategi “pengepungan”. Iblis selaku panglima tertinggi syaitan menyatakan di hadapan Allah ﷻ tentang strategi ini yang kemudian diabadikan dalam Al Quran agar setiap manusia bersikap waspada dan menyadari secara penuh tentang permusuhan Iblis dan bala tentaranya. Allah ﷻ berfirman mengabarkan tentang hal itu :

﴿قَالَ فَبِمَا أَغْوَيْتَنِيْ لَأَقْعُدَنَّ لَهُمْ صِرَاطَكَ الْمُسْتَقِيْمَ(16) ثُمَّ لَأتِيَنَّهُمْ مِنْ بَيْنِ أَيْدِيْهِمْ وَمِنْ خَلْفِهِمْ وَعَنْ أَيْمَانِهِمْ وَعَنْ شَمَائِلِهِمْ وَلَا تَجِدُ أَكْثَرَهُمْ شَاكِرِيْنَ (17)﴾

Artinya: “Iblis menjawab: “Karena Engkau telah menghukum saya tersesat, saya benar-benar akan (menghalang-halangi) mereka dari jalan Engkau yang lurus. Kemudian saya akan mendatangi mereka dari muka dan dari belakang mereka, dari kanan dan dari kiri mereka. Dan Engkau tidak akan mendapati kebanyakan mereka bersyukur (taat)”. [QS. AL A’raaf: ayat 16-17]

Abdulloh bin ‘Abbas –رضي الله عنه- menjelaskan bagaimana pola syaitan mengepung manusia agar tergelincir dan menjauh dari jalan Allah ﷻ yang lurus (Islam). Ada empat pola yang sering dimainkan oleh syaitan:

  1. Dari arah depan dengan menghembuskan keragua-raguan tentang kehidupan akhirat. Syaitan berupaya untuk menghilangkan keimanan tentang balasan pahala dari Allah ﷻ, surga, neraka, hari kebangkitan dan urusan akhirat lainnya.
  2. Dari arah belakang dengan menghembuskan kecintaan terhadap dunia. Agar manusia lebih disibukkan dengan urusan dunia dan bersikap abai terhadap syari’at Allah ﷻ.
  3. Dari samping kanan dengan menebarkan syubhat tentang masalah agama. Agar seorang hamba tidak mendapatkan kenikmatan dan kekhusyukan dalam beribadah kepada Allah ﷻ, hingga berujung meninggalkan syariat-Nya.
  4. Dari samping kiri dengan menghembuskan syahwat untuk bermaksiat. Agar manusia lebih suka memperturutkan hawa nafsunya. Bahkan menjadikan hawa nafsunya sebagai tuhannya.[2]

Kolaborasi Syaitan dari Jin dan Manusia

Iblis punya bala tentara yang siap sedia setiap saat untuk menyesatkan manusia. Bala tentaranya dari golongan jin dan manusia. Sebagaimana yang disebutkan dalam Al Quran:

﴿وَكَذَلِكَ جَعَلْنَا لِكُلِّ نَبِيٍّ عَدُوًّا شَيَاطِينَ الْإِنْسِ وَالْجِنِّ يُوحِي بَعْضُهُمْ إِلَى بَعْضٍ زُخْرُفَ الْقَوْلِ غُرُورًا وَلَوْ شَاءَ رَبُّكَ مَا فَعَلُوهُ فَذَرْهُمْ وَمَا يَفْتَرُونَ ۝﴾

Artinya: “Dan demikianlah Kami jadikan bagi tiap-tiap nabi itu musuh, yaitu syaitan-syaitan (dari jenis) manusia dan (dan jenis) jin, sebahagian mereka membisikkan kepada sebahagian yang lain perkataan-perkataan yang indah-indah untuk menipu (manusia). Jikalau Tuhanmu menghendaki, niscaya mereka tidak mengerjakannya, maka tinggalkanlah mereka dan apa yang mereka ada-adakan”. [QS Al An’am: ayat 112]

Secara jelas dan tegas Allah menyebutkan dalam ayat tersebut bagaimana bentuk kolaborasi antara syaitan dari jenis jin dan syaitan dari jenis manusia. Mereka bahu-membahu untuk mencoba menutupi kebenaran dan menghalangi manusia dari jalan Allah ﷻ. Dengan menggunakan ucapan bathil yang dihiasi agar bisa menebar syahwat dan syubhat di tengah manusia.

Imam Mujahid –رحمه الله- berkata tentang ayat ini:

“Golongan jin kafir adalah syaitan yang memberikan bisikan kepada syaitan manusia yaitu orang-orang kafir dari mereka dengan perkataan yang menipu”.[3]

Sebagai contoh dalam masalah ini adalah perkara keharaman makan bangkai. Dikisahkan ada sekelompok orang yahudi yang mendebat Nabi ﷺ tentang haramnya makan bangkai, mereka berkata : “Apakah kita dibolehkan memakan sembelihan kita sementara kita tidak boleh memakan apa yang Allah sembelih untuk kita (bangkai) ?!”. Untuk menjawab syubhat ini maka turunlah firman Allah ﷻ QS. Al An’am ayat 121.[4]

﴿وَلَا تَأْكُلُوا مِمَّا لَمْ يُذْكَرِ اسْمُ اللَّهِ عَلَيْهِ وَإِنَّهُ لَفِسْقٌ وَإِنَّ الشَّيَاطِينَ لَيُوحُونَ إِلَى أَوْلِيَائِهِمْ لِيُجَادِلُوكُمْ وَإِنْ أَطَعْتُمُوهُمْ إِنَّكُمْ لَمُشْرِكُونَ ۝﴾

Artinya: “Dan janganlah kamu memakan binatang-binatang yang tidak disebut nama Allah ketika menyembelihnya. Sesungguhnya perbuatan yang semacam itu adalah suatu kefasikan. Sesungguhnya syaitan itu membisikkan kepada kawan-kawannya agar mereka membantah kamu; dan jika kamu menuruti mereka, sesungguhnya kamu tentulah menjadi orang-orang yang musyrik”. [QS Al An’am: ayat 121]

Benteng diri

Mengingat betapa besarnya rasa permusuhan yang ada pada diri Iblis dan bala tentaranya terhadap kaum mukmin dan juga keseriusan mereka dalam menyesatkan manusia dari jalan Allah ﷻ, maka tidak boleh seorang hamba beriman meremehkan perkara ini. Hendaknya setiap hamba beriman harus terus meminta perlindungan kepada Allah dari segala bentuk tipu daya syaitan.

Suatu ketika Rasulullah ﷺ berkata kepada Abu Dzar: “Wahai Abu Dzar, apakah engkau sudah meminta perlindungan kepada Allah dari keburukan syaitan jin dan manusia? Abu Dzar menjawab: “Wahai Rasulullah apakah di kalangan manusia ada syaitan? Nabi menjawab: “Ya ada, mereka (syaitan dari kalangan manusia) lebih buruk dari syaitan dari kalangan jin”. (HR. An Nasai dan Ahmad)

Imam Malik bin Dinar salah seorang ulama dari masa tabi’in pernah berkata: “Sesungguhnya syaitan dari kalangan manusia lebih berat bagiku dari pada syaitan dari kalangan jin. Karena jika aku berta’awudz (meminta perlindungan) kepada Allah maka syaitan dari kalangan jin akan pergi menjauh dariku, sementara syaitan dari kalangan manusia tetap mendatangiku dan menarikku untuk berbuat maksiat secara kasat mata”.[5]

Meskipun demikian syaitan dari kalangan jin juga tidak boleh diremehkan, karena mereka memiliki beberapa kelebihan yang tidak dimiliki oleh manusia, di antaranya adalah bisa merasuki raga manusia. Sebagaimana hadits Nabi ﷺ:

إِنَّ الشَّيْطَانَ يَجْرِيْ مِنَ الْإِنْسَانِ مَجْرَى الدَّمِ

Artinya: “Sesungguhnya syaitan bergerak di tubuh manusia dengan aliran darah”. (HR. Bukhari dan Muslim)

Kelebihan lain yang dimiliki oleh syaitan jin adalah bentuknya yang gaib tidak terlihat secara kasat mata oleh manusia. Sebaliknya, syaitan jin bisa melihat manusia. Hal ini disebutkan dalam ayat Al Quran :

﴿يَا بَنِي آدَمَ لَا يَفْتِنَنَّكُمُ الشَّيْطَانُ كَمَا أَخْرَجَ أَبَوَيْكُمْ مِنَ الْجَنَّةِ يَنْزِعُ عَنْهُمَا لِبَاسَهُمَا لِيُرِيَهُمَا سَوْآتِهِمَا إِنَّهُ يَرَاكُمْ هُوَ وَقَبِيلُهُ مِنْ حَيْثُ لَا تَرَوْنَهُمْ إِنَّا جَعَلْنَا الشَّيَاطِينَ أَوْلِيَاءَ لِلَّذِينَ لَا يُؤْمِنُونَ ۝﴾

Artinya: “Hai anak Adam, janganlah sekali-kali kamu dapat ditipu oleh syaitan sebagaimana ia telah mengeluarkan kedua ibu bapamu dari surga, ia menanggalkan dari keduanya pakaiannya untuk memperlihatkan kepada keduanya auratnya. Sesungguhnya ia dan pengikut-pengikutnya melihat kamu dan suatu tempat yang kamu tidak bisa melihat mereka. Sesungguhnya Kami telah menjadikan syaitan-syaitan itu pemimpin-pemimpim bagi orang-orang yang tidak beriman”. [QS. Al A’rof: ayat 27]

Oleh sebab itulah wajib bagi seorang mukmin untuk selalu khawatir dan merasa tidak aman dari godaan syaitan. Karena dengan sikap inilah yang nantinya melahirkan kewaspadaan diri dan perasaan ingin selalu dekat dengan Allah ﷻ. Seorang hamba beriman akan berusaha untuk beribadah dengan sepenuh jiwa serta menghindarkan diri dari segala perkara yang merusak kedekatannya kepada Allah ﷻ.

Inilah hamba yang digolongkan sebagai orang-orang yang ikhlas. Karena hanya dengan ikhlas inilah seseorang mendapatkan jaminan perlindungan dan benteng yang kuat dari godaan syaitan. Allah berfirman tentang mereka:

﴿قَالَ رَبِّ بِمَا أَغْوَيْتَنِي لَأُزَيِّنَنَّ لَهُمْ فِي الْأَرْضِ وَلَأُغْوِيَنَّهُمْ أَجْمَعِينَ ۝ إِلَّا عِبَادَكَ مِنْهُمُ الْمُخْلَصِينَ ۝﴾

Artinya: Iblis berkata: “Ya Tuhanku, oleh sebab Engkau telah memutuskan bahwa aku sesat, pasti aku akan menjadikan mereka memandang baik (perbuatan maksiat) di muka bumi, dan pasti aku akan menyesatkan mereka semuanya. kecuali hamba-hamba Engkau yang mukhlis di antara mereka”. [QS. Al Hijr: ayat 39 – 40]

Imam Al Qurthubi menjelaskan bahwa yang dimaksud dengan hamba-hamba yang mukhlis adalah orang-orang yang memurnikan ibadah hanya untuk Allah dan membersihkannya dari kerusakan dan riya (pamer amal).[6]

Semoga Allah menjadikan kita semua bagian dari hamba-hamba-Nya yang selalu ikhlas beribadah hanya untuk-Nya. Sebagaimana kita juga mengharap rahmat-Nya untuk menganugerahkan kepada kita benteng diri yang kokoh dari segala macam tipu daya syaitan. Wallohu a’lam bis showab.


[1] Abu al Fida Isma’il bin katsir al Qurosyi, Tafsir al Quran al ‘Adzim (Beirut: Daarul Jiil, tt, tc) juz 3 hal 525

[2] Abu al Fida Isma’il bin katsir al Qurosyi, Tafsir al Quran al ‘Adzim, juz 2 hal 195

[3] Abu al Fida Isma’il bin katsir al Qurosyi, Tafsir al Quran al ‘Adzim, juz 2 hal 159

[4] Abu al Fida Isma’il bin katsir al Qurosyi, Tafsir al Quran al ‘Adzim, juz 2 hal 163

[5] Abu Abdillah Muhammad bin Ahmad al Qurthubi, Al Jami’ li Ahkam Al Quran (Kairo: Daar al Hadits, tc, tahun 1423 H/ 2002 M) juz 7 hal 62

[6] Abu Abdillah Muhammad bin Ahmad al Qurthubi, Al Jami’ li Ahkam Al Quran, juz 10 hal 389