Dakwah Santun Atau Dakwah Kasar

0

Dakwah Santun Atau Dakwah Kasar
Oleh: Ust. Burhan Sodiq

Inti dari dakwah adalah menyampaikan kebenaran. Bagaimana kebenaran bisa tersampaikan dengan sempurna. Umat paham dan mengerti. Lalu kemudian mengamalkan Islam dengan baik.

“Ketika Nabi shallahu alaihi wasallam mengutus Mu’adz ke Yaman, Rasulullah bersabda padanya, “Sesungguhnya engkau akan mendatangi sebuah kaum Ahlul Kitab. Maka hendaknya yang engkau dakwahkan pertama kali adalah agar mereka mentauhidkan Allah Ta’ala. Jika mereka memahami hal tersebut, maka kabarkan kepada mereka bahwa Allah mewajibkan mereka shalat lima waktu dalam sehari semalam. Jika mereka mengerjakan itu (shalat), maka kabarkan kepada mereka bahwa Allah juga telah mewajibkan bagi mereka untuk membayar zakat dari harta mereka, diambil dari orang-orang kaya di antara mereka dan diberikan kepada orang-orang faqir. Jika mereka menyetujui hal itu (zakat), maka ambillah zakat harta mereka, namun jauhilah dari harta berharga yang mereka miliki.” (HR. Bukhari no. 7372 dan Muslim no. 19)

Syaikh Shalih Al Fauzan menjelaskan, “dari hadits yang mulia ini, dan juga barangsiapa yang memperhatikan dakwah para Rasul yang disebutkan dalam Al Qur’an, dan juga barangsiapa yang memperhatikan sirah Rasulullah, ia dapat memahami manhaj dakwah ilallah. Dan ia akan memahami bahwa yang pertama didakwahkan kepada manusia adalah aqidah, yaitu mengajak mereka menyembah Allah semata dan tidak mempersekutukannya, serta meninggalkan semua ibadah kepada selain Allah, sebagaimana makna Laa ilaaha illallah.” (Al Irsyad ilaa Shahihil I’tiqad, 17)

Perkembangan di masyarakat terjadi sebuah fenomena menarik. Yakni fenomena bahwa dakwah dianggap kasar dan dianggap santun. Ada orang-orang yang mendakwahkan agama dengan cara-cara kasar. Menggunakan kalimat-kalimat yang kurang disukai oleh masyarakat. Kontennya tidak bermasalah. Maka terjadilah penolakan-penolakan dakwah. Bukan karena dakwahnya tapi karena cara menyampaikannya.

Beberapa pihak menyebutkan, terminologi yang dimaksud kasar adalah dakwah yang memecah belah persatuan. Dakwah yang harus terus menjaga persatuan diperbolehkan. Sementara dakwah yang mengungkit soal perbedaan tidak diberikan ruang dan dicap kasar. Mereka mengatakan hal ini perlu diantisipasi demi menjaga persatuan.

Dengan kata lain, kata kasar ini pun masih beraneka ragam pengertiannya. Ada yang memaknai kasar secara verbal memang kasar. Penuh dengan bahasa maki maki dan tidak sopan. Menggunakan bahasa bahasa penyebutan binatang dan lain sebagainya. Ada pula yang menyebutkan kasar yang dimaksudkan adalah konten dakwah yang memecah belah persatuan.

Jika yang dimaksudkan kasar adalah dakwah yang menggunakan bahasa tidak sopan, kita pun akan setuju untuk menghindarinya. Sebab kalimat-kalimat kasar tidak akan diterima oleh masyarakat secara umum. Allah berfirman dalam surat Ibrahim ayat 4, “Kami tidak mengutus seorang rasulpun, melainkan dengan bahasa kaumnya, supaya ia dapat memberi penjelasan dengan terang kepada mereka.”

Secara fitrah kebanyakan manusia tidak suka jika dimaki-maki. Manusia juga tidak suka jika mendengarkan kalimat-kalimat kasar dan buruk. Maka memberikan dakwah dengan makian dan kalimat-kalimat kasar tentu saja akan mendapatkan banyak penolakan-penolakan.

Akan tetapi jika yang dimaksudkan kasar adalah dakwah yang memecah belah persatuan, maka hal ini perlu untuk dikaji lebih dalam. Menjelaskan al-haq dan batil pasti akan beresiko membelah masyarakat menjadi dua bagian. Masyarakat yang membela kebenaran, dan masyarakat yang justru membela kebatilan. Maka kedua belah pihak ini tidak akan mungkin bisa bersatu. Kalaulah bersatu, maka persatuan mereka hanyalah persatuan kepentingan yang mudah sekali rapuh dan tercerai berai.

Maka yang perlu kita perhatikan di sini adalah bagaimana sebuah dakwah tidak perlu menggunakan kalimat kasar dan buruk. Cukuplah kita sampaikan kebenaran itu seperti apa. Dengan hujjah dan dalil yang jelas dan terang benderang serta ilmiah dengan rujukan yang jelas pula. Tidak perlu kita menggunakan kalimat kasar yang membuat umat menjauh dari dakwah. Karena hati hanya bisa disentuh dengan hati.

Allah berfirman: “Dengan sebab rahmat Allah kamu berlaku lemah-lembut terhadap mereka. Sekiranya kamu bersikap keras lagi berhati kasar, tentu mereka menjauh dari sekelilingmu.” (QS. Ali Imran: 159)

Kelembutan ini yang dibutuhkan oleh dai dalam berdakwah di masyarakat. Karena Rasulullah juga memiliki sifat kelembutan seperti ini. Jangan sampai kita sebagai umatnya justru malah melakukan kekerasan dan kekasaran dalam dakwah kita.

Allah berfirman: “Sesungguhnya telah datang kepadamu seorang rasul dan kaummu sendiri, yang berat memikirkan penderitaanmu, sangat menginginkan kamu (beriman dan selamat), amat belas kasihan lagi penyayang terhadap orang-orang mukmin.” (QS. At-Taubah: 128)

Sebaliknya, kesantunan juga seharusnya tidak menghalangi kita untuk menyampaikan kebenaran yang sejati. Jangan sampai karena ingin berlembut lembut pada ummat kemudian kita menghindari menyampaikan kebenaran yang sebenarnya. Kita tutup-tutupi kebenaran hanya karena ingin terlihat santun dan bisa diterima berbagai kalangan, hal ini jelas tidak dicontohkan oleh Nabi shallahu ‘alaihi wasallam.

Maka sekuat tenaga kita akan sajikan dakwah yang santun kepada masyarakat tanpa mengurangi keinginan kita untuk menyampaikan kebenaran wahyu Allah kepada manusia.

(sumber: majalah ar risalah edisi 214)