Ghadwah, Rauhah dan Duljah; Tiga Waktu Istimewa

0

Ghadwah, Rauhah dan Duljah; Tiga Waktu Istimewa

Oleh: Ust. Marzuki Ibnu Syarqi

Ramadhan -lebih-lebih sepuluh malam yang terakhir- identik dengan malam-malam yang utama, malam-malam yang hidup dengan beragam ibadah; tarawih, qiyamullail, tilawah Al-Qur’an, dzikir, sedekah, doa, itikaf dan seterusnya, karena pada malam-malam itulah terdapat satu malam yang lebih baik daripada seribu bulan. Menghidupkan malam-malam di etape terakhir ini tentu suatu amal yang utama dan mulia. Namun ada suatu yang mungkin dilupakan oleh sebagian kita bahwa ada pula waktu-waktu istimewa selain dari malam lailatul qadar. Waktu yang sangat mudah bagi siapapun untuk meraih keutamaanya. Itulah yang disebutkan oleh Nabi Shalallahu alaihi wasallam dalam hadits yang diriwayatkan oleh Al-Bukhari dalam Shahihnya.   Abu Hurairah menuturkan bahwa Rasulullah shalallahu alaihi wasallam bersabda,

 وَاسْتَعِينُوا بِالْغَدْوَةِ وَالرَّوْحَةِ وَشَىْءٍ مِنَ الدُّلْجَةِ 

“…Dan tolonglah diri kalian dengan memanfaatkan waktu pagi, waktu petang, dan sedikit waktu akhir malam.”

Hadits ini menjelaskan tentang keutamaan tiga waktu yang istimewa, yaitu ghadwah (pagi), rauhah (sore) dan duljah (akhir malam).  

Imam Ibnu Hajar menjelaskan, “Manfaatkanlah ghadwah” Manfaatkanlah waktu pagi, yakni bantulah diri kalian agar bisa mendawamkan ibadah dengan mengerjakannya pada waku-waktu yang menyegarkan. Ghadwah artinya waktu pagi, yaitu waktu antara waktu fajar hingga terbit matahari. Sedangkan rauhah artinya akhir siang yaitu waktu sore. Adapun duljah adalah waktu akhir malam.

Allah telah menyebutkan tiga waktu ini dalam beberapa ayatNya dalam  Al-Qur’an;

“Dan bertasbihlah dengan memuji Rabbmu sebelum terbit matahari dan sebelum terbenamnya dan bertasbihlah pula pada waktu malam dan pada waktu-waktu penghujung siang agar kamu merasa bahagia.” (QS. Thaaha: 130)

“Dan sebutlah nama Rabbmu pada waktu pagi dan petang dan pada sebagian waktu malam, maka bersujudlah kepadaNya dan bertasbihlah kepadaNya pada bagian yang panjang di malam hari.” (QS. Al-Insan: 25-26)

Disebutkannya tiga waktu ini secara khusus tentu menunjukkan keutamaan dan keistimewaanya. Ketika menjelaskan hadits Abu Hurairah di atas Imam Ibnu Hajar mengatakan, “Tiga waktu ini adalah waktu favorit bagi para musafir; seakan Nabi Shalallahu alaihi wasallam hendak mengajak bicara para musafir dan mengingatkan mereka tentang waktu berharga mereka. Karena jika mereka berjalan terus menerus siang dan malam, maka mereka akan diserang kelelahan dan tak sanggup melanjutkan perjalanan. Namun jika mereka memanfaatkan tiga waktu ini dengan baik, maka mereka akan bisa berjalan dengan semangat yang tetap terjaga, tanpa mengalami kesulitan berarti. Ungkapan ini adalah permisalan yang indah karena sejatinya hidup ini adalah perjalanan menuju akhirat.”   

Sementara itu Imam Ibnu Rajab Al-Hanbaly menerangkan, “Dalam tiga waktu tersebut ada amalan yang wajib yang sunnah; pada dua waktu pagi dan sore ada Shalat Subuh dan Shalat Ashar yang merupakan shalat yang paling utama, disebut dalam hadits Nabi dengan sebutan al-bardan siapa yang menjaganya maka dia akan dijamin surga. Adapun amalan sunnah adalah dzikir pagi setelah subuh hingga terbit matahari, dan dzikir petang dari bada Ashar hingga tenggelam matahari. Dalam banyak hadits disebutkan tentang keutamaan dzikir pagi dan petang, sebagaimana dalam riwayat dari Ibnu Umar bahwa Rasulullah shalallahu alaihi wasallam bersabda, Allah Ta’ala berfirman,“Wahai anak Adam, berdzikirlah kepadaku pada awal siang dan akhirnya, maka Aku ampuni untukmu dosa-dosa diantara keduanya.”  Dalam hadits lain disebutkan, “Berdzikir pada waktu pagi lebih aku sukai daripada membebaskan dua orang budak. Dan berdzikir pada waktu sore lebih aku sukai daripada membebaskan empat orang budak.” (HR. Al-Baihaqi)

Kemudian Ibnu Rajab menyebutkan bahwa Para salaf lebih kuat perhatiannya kepada akhir hari (waktu sore) daripada pagi hari.  

  Disebutkan bahwa Imam Ibnu Mubarak mengatakan, “Siapa yang menutup harinya dengan dzikrullah maka dia dicatat berdzikir sepenuh hari.”

Demikianlah sore hari jumat lebih utama daripada pagi harinya, karena waktu sore adalah waktu diijabahinya dosa, sore hari Arafah lebih utama daripada pagi harinyam, karena waktu sorenya adalah waktu untuk wuquf, dan akhir malam lebih utama daripada awalnya.

Oleh karena itu bulan Ramadhan lebih-lebih disepertiga akhir ini, hendaknya kita isi dengan melazimi dzikir pagi petang. Juga memerbanyak doa utamanya menjelang berbuka puasa, sebab waktu tersebut adalah waktu yang mustajab.  

Adapun duljah yaitu akhir malam yang dimaksud adalah penghujung malam yang akhir. Waktu yang utama untuk memerbanyak istighfar dan permohonan ampun kepada Allah. Allah berfirman, “Dan pada waktu sahur mereka memohon ampun.” (QS. Adz-Dzariyat: 18)  

Imam Ibnu Rajab berkata, “Akhir malam adalah akhir waktu turunnya Allah Ta’ala ke langit dunia untuk mengabulkan permohonan hamba-hambaNya yang meminta, pengampunan bagi para pendosa yang bertaubat. Adapun pertengahan malam adalah waktu bagi para pecinta untuk menyendiri dengan kekasihnya (Allah), adapun akhir malam adalah untuk para pendosa yang berharap ampunan dari Rabbnya. Siapa yang tidak bisa menyertai para pecinta dipertengahan malam, maka hendaknya membersamai para pendosa dengan taubatnya.”

Oleh itu di bulan yang mulai ini sudah seharusnya kita memanfaatkan waktu sahur untuk tidak sekadar menikmati hidangan jasadiah, menikmati makan dan minum, akan tetapi juga bersungguh-sungguh bertaubat kepada Allah, dengan memerbanyak istighfar, dengan demikian mudah-mudahan Allah memberikan pengampunan dan jalan keluar dari berbagai kesulitan, dibebaskan dari bala dan pandemi yang mengguncang negeri, serta diberikan kelapangan rezeki dari arah yang tiada diperhitungkan.  

“Siapa yang mezalimi istighfar maka Allah akan memberikan kepadanya jalan keluar dari setiap kesulitan, mendapatkan kelapangan dari setiap kegundahan, dan diberikan rezeki dari arah yang tidak ia sangka-sangka.” (HR. Abu Dawud) 

Yang sungguh merugi adalah mereka yang tidak kuasa menghidupkan malam-malamnya dengan qiyam dan bacaan Al-Qur’an, dan tidak pula memanfaatkan waktu sahurnya untuk beristighfar dan berdoa, tidak pula waktu pagi dan sorenya dengan berdzikir kepadaNya.

Alangkah indah nasihat yang disampaikan oleh Imam Ibnu Rajab Al-Hanbali, katanya, “Jika kamu tidak kuasa membersamai para pecinta yang berkhawat di tengah malam bersama Rabbnya, maka temanilah para pendosa yang larut dengan istghfar dan taubat di akhir malamnya.”