Hidup yang Feeling Good

0

Hidup yang Feeling Good
Oleh: Ust. Burhan Sodiq, S.S

Dalam sebuah video durasi pendek dikisahkan seorang dosen yang sedang mengajar. Dosen ini mengatakan kepada mahasiswanya, berapa berat gelas ini. Lalu gelas itu dipegangnya. Mahasiswa menjawab dengan aneka macam jawaban.

Lalu dosen itu menjawab sendiri pertanyaannya. Berat gelas yang berisi air ini tidak seberapa. Ia akan ringan kalau dipegang sebentar. Tapi ia akan menjadi sangat berat dan membuat lengan kesakitan kalau dipegang selama berjam jam.

Ilustrasi yang diberikan dosen itu hanya ingin menjelaskan kepada kita bahwa, masalah masalah kehidupan juga seperti gelas tadi. Kalau masalah itu kita pikirkan sejenak saja, maka tidaklah berat. Sesekali kita pikirkan solusinya. Lalu beraktivitas lagi seperti biasa.

Tetapi jika masalah masalah hidup itu dipikirkan terus menerus sehingga menyita seluruh hidup kita, maka kita akan stress dan tertekan. Hidup menjadi sangat berat. Kenapa bisa seperti itu? Karena kita tidak tahu ilmunya.

Masalah itu pasti ada

Masalah itu pasti ada. Semua orang pasti mengalami masalah. Adakah di dunia ini orang yang tidak mengalami masalah? Tidak ada. Semua orang mengalami masalah. Ada yang masalahnya soal keuangan. Tidak punya uang, tidak bisa membayar tagihan tagihan. Ada juga yang masalahnya adalah soal pertemanan. Temannya jahat dan tidak bisa memberi lingkungan yang baik untuk dia. Ada pula yang punya masalah dengan orang tuanya. Mereka selalu bertengkar di rumah. Cakar cakaran dan saling menyakiti.

Ada yang masalahnya lebih besar. Mau nikah tidak ada pasangan. Sudah ada pasangan, tapi tidak nikah nikah. Sudah nikah tapi bercerai. Sudah bercerai tapi pengen balikan. Sudah balikan tapi malah pasangannya tidak bisa cinta. Banyak, banyak sekali masalah di dunia ini.

Maka Rasulullah shallalahu’allaihi wasallam bersabda,

عَجَبًا لِأَمْرِ الْمُؤْمِنِ إِنَّ أَمْرَهُ كُلَّهُ خَيْرٌ وَلَيْسَ ذَاكَ لِأَحَدٍ إِلَّا لِلْمُؤْمِنِ إِنْ أَصَابَتْهُ سَرَّاءُ شَكَرَ فَكَانَ خَيْرًا لَهُ وَإِنْ أَصَابَتْهُ ضَرَّاءُ صَبَرَ فَكَانَ خَيْرًا لَهُ

“Sungguh menakjubkan  keadaan seorang mukmin. Segala keadaan yang dialaminya sangat menakjubkan. Setiap takdir yang ditetapkan Allah bagi dirinya merupakan kebaikan. Apabila dia mengalami kebaikan, dia bersyukur, dan hal itu merupakan kebaikan baginya. Dan apabila dia tertimpa keburukan, maka dia bersabar dan hal itu merupakan kebaikan baginya.” (HR. Muslim no.2999, dari sahabat Shuhaib)

Lalu bagaimana cara menghadapinya? Agar masalah masalah itu tidak membuat kehidupan kita runyam. Agar kita tetapi bisa feeling good dalam menghadapi masalah masalah itu?

Pertama, Minta tolong sama Allah.

Saat kita meminta tolong, saat itulah kita merasa punya Tuhan yang kita andalkan. Dia yang bisa menyelesaikan masalah masalah kita. Tentu saja kita terus berusaha untuk menyelesaikannya. Tetapi kita bertawakal kepada Allah agar Allah berikan pertolongannya.

Dengan meminta pertolongan, kita juga sadar bahwa kita manusia lemah. Tidak berdaya dan tidak ada upaya, kecuali Allah yang menguatkan kita. Maka memohon pertolongan pada Allah akan mengajarkan kepada kita arti ketawadukan. Mengaku memang tidak bisa dan tidak mampu kecuali Allah mampukan. Mengaku tidak bisa menyelesaikan apa apa kecuali Allah yang selesaikan untuk kita.

Kalau cara berpikirnya seperti ini, kita tidak akan mudah mengalami stress. Semua masalah bisa kita selesaikan satu persatu. Semakin bersabar meminta pertolongan Allah, maka semakin Allah mudahkan jalan kita. Semakin kita bersabar dalam meniti jalan yang disyariatkan, maka semakin mudah pula pertolongan akan datang.

Dengan meminta tolong kepada Allah, kita juga menyandarkan kepada Allah yang Maha kuat. Tidak ada yang tidak bisa diatasi oleh Allah. Allah yang Maha Perkasa. Semua masalah bisa dibantu oleh Allah subhana wa taala.

Lagipula berserah itu adalah sebuah sikap yang sangat melegakan. Dimana hari ini orang dituntut untuk menjadi super dalam banyak hal. Harus kuat selalu dan tidak boleh menyerah. Padahal kita manusia biasa. Adakalanya kita harus sadar bahwa kita lemah. Maka menyerahkan urusan kepada Allah adalah jawaban terbaik.

“Maha Suci Allah yang di tangan-Nyalah segala kerajaan, dan Dia Maha Kuasa atas segala sesuatu. Yang menjadikan mati dan hidup, supaya Dia menguji kamu, siapa di antara kamu yang lebih baik amalnya. Dan Dia Maha Perkasa lagi Maha Pengampun.” (QS. Al-Mulk: 1-2)

Kedua, Menikmati yang ada, berdamai dengan yang tidak ada.

Kenapa manusia hidupnya terburu buru dan tergesa gesa. Karena mereka suka mengejar apa yang tidak mereka punya. Lalu setelah punya tidak menyukuri apa yang sudah dimiliki. Selalu melihat yang jauh, dan tidak menyukuri yang dekat dekat.

Apalagi usia remaja seperti kalian. Nampaknya kalian harus sering sering menunduk perlahan. Sebab kalau dongak sedikit, hape mahal mahal di depan mata. Tengok kiri motor gede memesona jiwa. Nengok kanan sepatu sepatu mahal nan menggoda. Semua sangat luar biasa di mata.

Kalau selalu melihat ke atas, maka tidak akan ada kalimat syukur. Selalu merasa kurang. Motor nampak tidak bagus, hape nampak tidak keren, karena selalu melihat yang lebih bagus dan lebih keren dari yang kita punya.

Mau sampai kapan bersikap seperti itu. Pada akhirnya nanti hidup engga feeling good lagi. Tapi selalu tergesa gesa dan tidak menyukuri pemberiannya.

Harus bisa mendidik jiwa agar menerima apa yang sudah diberikan Allah. Berdamai dengan yang tidak dimiliki. Karena dengan begitu kita akan punya jiwa yang lapang. Tidak tergesa gesa dan tidak maruk terhadap kehidupan dunia.

Rasulullah shallalahu ‘alaihi wasallam bersabda:

مَنْ أَصْبَحَ مِنْكُمْ آمِنًا فِي سِرْبِهِ مُعَافًى فِي جَسَدِهِ عِنْدَهُ قُوتُ يَوْمِهِ فَكَأَنَّمَا حِيزَتْ لَهُ الدُّنْيَا

“Barangsiapa di antara kalian mendapatkan rasa aman di rumahnya (pada diri, keluarga dan masyarakatnya), diberikan kesehatan badan, dan memiliki makanan pokok pada hari itu di rumahnya, maka seakan-akan dunia telah terkumpul pada dirinya.” (HR. Tirmidzi no. 2346, Ibnu Majah no. 4141. Abu ’Isa mengatakan bahwa hadits ini hasan ghorib).

Dalam riwayat lainnya dari sahabat Abu Hurairah, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ’alaihi wa sallam bersabda,

انْظُرُوا إِلَى مَنْ هو أَسفَل مِنْكُمْ وَلا تَنْظُرُوا إِلَى مَنْ هُوَ فَوقَكُم؛ فهُوَ أَجْدَرُ أَن لا تَزْدَرُوا نعمةَ اللَّه عَلَيْكُمْ

“Lihatlah pada orang yang berada di bawah kalian dan janganlah perhatikan orang yang berada di atas kalian. Lebih pantas engkau berakhlak seperti itu sehingga engkau tidak meremahkan nikmat yang telah Allah anugerahkan padamu.” (HR. Ibnu Majah no. 4138, shahih kata Syaikh Al Albani)

Ketiga, banyakin syukurnya

Sikap hati yang senantiasa bersyukur akan membuat seseorang lebih bahagia dari yang lain. Mereka lebih bisa menerima apa yang sudah dimiliki. Ketika hati terbiasa bersyukur maka ia akan sangat menghargai apa apa yang dia miliki. Merawatnya dengan baik. Memeliharanya dengan penuh rasa bahagia.

Tidaklah dia merasa kurang dengan kehidupannya. Karena perasaan cukup itu akan menjalar ke seluruh tubuhnya. Selalu dalam kondisi terbaik meskipun tidak bergelimang harta dan kemewahan.

Ia tetap berusaha sebaik baiknya untuk kehidupan dunianya. Tetapi tidak merasa tergesa gesa dan terburu buru akan sesuatu. Melainkan selalu berpikir positif dalam menghadapi beraneka macam masalah yang ada di depan mata.

Ibnu Qayyim menyebutkan bahwa “Syukur adalah menunjukkan adanya nikmat Allah pada dirinya. Dengan melalui lisan, yaitu berupa pujian dan mengucapkan kesadaran diri bahwa ia telah diberi nikmat. Dengan melalui hati, berupa persaksian dan kecintaan kepada Allah. Melalui anggota badan, berupa kepatuhan dan ketaatan kepada Allah.” (Ibnu Qayyim Al Jauziyah, Madarijus Salikin: 2/244).

Demikianlah, tiga hal ini seharusnya membantu kita untuk menikmati hidup. Sehingga hidup kita akan terasa feeling good, bahagia dan tidak dikejar kejar oleh masalah yang tiada habisnya.