Islamic Self Driving

0

Islamic Self Driving

“Pengemudi yang baik adalah pengemudi yang dapat mengendalikan nafsunya hingga berada pada jalan yang benar. Ia mampu melanjutkan perjalanan meskipun menghadapi banyak rintangan.”

Setiap orang pada hakikatnya sedang melakukan perjalanan menuju Allah. Start perjalanan ini adalah ketika keluar dari perut ibunda dan finishnya bisa di surga yang istimewa atau di neraka yang menyala. Kita sendirilah yang menentukan arah tujuan perjalanan tersebut. Kita adalah driver dari kehidupan kita. Dalam perjalanan panjang tersebut, Allah telah membekali manusia dengan berbagai sarana, mulai dari jasad, ruh, dan fitrah.

Menentukan arah

Seorang muslim seyogianya membuat satu tujuan. Rasulullah bersabda sebagaimana disampaikan oleh Ibnu Majah, “Siapa saja yang cita-citanya adalah untuk meraih satu tujuan, yaitu akhirat, maka Allah akan mencukupkan kehidupan duniawinya. Dan barangsiapa tujuannya untuk mencari dunia, Allah tidak akan memperdulikan di lembah mana ia akan binasa.”

Beliau juga bersabda, “Siapa yang menjadikan akhirat sebagai tujuannya maka Allah akan menjadikan kekayaan berada dalam hatinya, menyatukan kekuatannya, dan dunia akan mendatanginya dalam keadaan hina.”

Membuat peta kehidupan

Setelah menetapkan tujuan, kita perlu membuat peta kehidupan sehingga bisa menentukan jalan terdekat untuk sampai ke tujuan. Seorang driver yang bijaksana pasti memilih jalan yang paling dekat, paling hemat biaya bahan bakar. Al-Qur’an menjelaskan ada tipe manusia yang berjalan menuju Allah, yaitu:

Pertama, tipe zalimunlinafsihi (orang yang menganiaya diri sendiri). Manusia tipe ini akan memilih jalan panjang dan penuh bahaya untuk menuju Allah. Terkadang mereka berbelok, tergelincir, jatuh, dan terkadang berada di jalur yang tepat. Dia melakukan dosa yang dapat merusak amal sehingga terjatuh ke neraka. Hingga akhirnya ia dikeluarkan dari neraka dengan kehendak dan rahmat Allah.

Kedua, tipe muqtashid (pertengahan). Ia berada di jalur yang benar namun sedikit licin dan berbatu. Ia selalu melakukan kewajiban, meninggalkan larangan, tetapi harus melewati hisab yang ringan.

Ketiga, tipe sabiqun bi khairat (lebih dulu berbuat kebaikan). Ia melewati jalan yang lurus lempang, halus, dan tidak ada kelokan. Ia adalah orang yang cerdas dan mengutamakan ketaatan kepada Rabbnya dalam setiap urusan.

Tipe ketiga inilah yang akan lebih dahulu sampai ke surga dibandingkan tipe pertama dan kedua.

Sarana menuju tujuan

Setelah menentukan jalan yang terbaik, seorang driver hendaknya menentukan sarana yang akan mengantarkannya ke tujuan. Apakah ia ingin pergi dengan mobil, kereta api, sepeda, atau yang lainnya.

Semua orang pasti menginginkan kebahagiaan sebagai tujuan, namun masing-masing orang memilih sarana yang berbeda untuk mencapainya. Ada yang memilih bahagia dengan harta, kedudukan yang tinggi, wanita yang cantik, dan lain sebagainya. Lantas bagaimana dengan seorang muslim? Bagi seorang muslim yang tujuan utamanya adalah surga, Allah telah memberikan sarana baginya,

“Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka beribadah kepada-Ku.” (QS. Adz Dzariyat: 56)

Ya, sarana untuk mencapai tujuan (surga) adalah ibadah. Ibadah merupakan ungkapan umum yang mencakup segala perkataan, perbuatan, dan sifat yang dicintai oleh Alllah

Bahan bakar perjalanan

Setiap kendaraan pasti butuh bahan bakar, demikian pula seorang self driver. Bahan bakar dalam perjalanan menuju Allah telah dipersiapkan oleh Allah dalam diri setiap manusia. Rasulullah bersabda, “Gunakanlah lima perkara sebelum datang lima perkara; masa muda sebelum datang masa tua, sehat sebelum sakit, kaya sebelum miskin, waktu luang sebelum sibuk, dan hidup sebelum mati.” (HR. Al-Hakim)

Berdasarkan keterangan tersebut, dapat ditarik benang merah bahwa bahan bakar tersebut adalah waktu, harta, ilmu, dan kesehatan. Di antara sikap bijaksana adalah pandai memanfaatkan bahan bakar agar tidak habis sebelum mencapai tujuan.

(sumber: majalah ar risalah edisi 169 rubrik al fityan)