Istri Ideologis

0

 Istri Ideologis
(Serial Tadabbur Sirah 7)

Oleh: Ust. Fajar Jaganegara, S.Pd.I

Salah satu episode penting dari perjalanan Nabi shalallahu ‘alaihi wa salam dalam mengemban dakwah adalah pernikahan beliau dengan Khadijah binti Khuwailid radhiyallahu ‘anha. Karena dalam pernikahan ini terdapat hikmah yang begitu besar bagi yang mau memperhatikan.

Khadijah adalah cinta pertama Nabi shalallahu ‘alaihi wa salam, wanita pertama yang mengisi relung hatinya, wanita pertama yang beriman kepadanya, dan wanita yang memberikan anak keturunan untuknya.

Seperti ungkapan pepatah Arab:

مَحَبَّةُ الْأُولَى لَا تُنْسَى فِيهَا

“Cinta pertama, tidak terlupa.”

Adalah kisah Nabi bersama Khadijah adalah kisah cinta dalam balutan iman karena Allah. Tidak terlupa dan sulit terganti. Apa kiranya yang membuat Nabi begitu jatuh hati kepada Khadijah, bahkan setelah wafat pun Nabi senantiasa menyebut-nyebut namanya.

Sedemikian kuat memori Rasulullah tentang Khadijah, tentang perjalanan mereka berdua selama 25 tahun melalui lika-liku kehidupan, susah-senang, suka-duka telah jadi rasa dalam kisah keduanya.

Aisyah radhiyallahu ‘anha punya kenangan tersendiri bagaimana ia begitu cemburu, karena Sang Nabi selalu punya tempat khusus di hatinya akan sosok Khadijah. Bahkan Khadijah yang telah meninggal masih mampu membuat hati Nabi senantiasa ditumpuk rindu dan dibakar asmara.

كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا ذَكَرَ خَدِيجَةَ أَثْنَى عَلَيْهَا فَأَحْسَنَ الثَّنَاءَ قَالَتْ فَغِرْتُ يَوْمًا فَقُلْتُ مَا أَكْثَرَ مَا تَذْكُرُهَا حَمْرَاءَ الشِّدْقِ قَدْ أَبْدَلَكَ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ بِهَا خَيْرًا مِنْهَا

“Adalah Nabi shalallahu ‘alaihi wa salam ketika menceritakan tentang Khadijah pasti ia selalu menyanjungnya dengan sanjungan yang indah. Maka suatu hari aku cemburu dan berkata, ‘betapa sering engkau menyebut-nyebut wanita tua itu. Padahal Allah telah menggantikan dia dengan wanita yang lebih baik.” (HR. Ahmad)

Amboi. Sekiranya Nabi shalallahu ‘alaihi wa salam tidak mencintai Khadijah dengan begitu sangat, maka tidak mungkin kenangan bersamanya begitu melekat. Dan seandainya Khadijah tidak begitu berkesan, tentu Nabi tidak akan mengingatnya begitu terkesan.

Tidak heran Aisyah sampai cemburu sekali kepada Khadijah, dan Aisyah tidak pernah cemburu kepada istri Nabi yang lain, melebihi kecemburuannya kepada Khadijah. Dan hal tersebut ia akui sendiri sebagaimana yang diriwayatkan oleh Imam Muslim:

قَالَتْ مَا غِرْتُ عَلَى نِسَاءِ النَّبِىِّ -صلى الله عليه وسلم- إِلاَّ عَلَى خَدِيجَةَ وَإِنِّى لَمْ أُدْرِكْهَا. قَالَتْ وَكَانَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- إِذَا ذَبَحَ الشَّاةَ فَيَقُولُ « أَرْسِلُوا بِهَا إِلَى أَصْدِقَاءِ خَدِيجَةَ ». قَالَتْ فَأَغْضَبْتُهُ يَوْمًا فَقُلْتُ خَدِيجَةَ فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- « إِنِّى قَدْ رُزِقْتُ حُبَّهَا

“Aku tidak pernah cemburu kepada istri-istri Nabi shalallahu ‘alaihi wa salam kecuali kepada Khadijah, padahal aku tidak pernah bertemu denganya. Jika Rasululllah Shalallahu ‘alaihi wa salam menyembelih kambing, beliau akan bersabda, ‘Kirimkan daging ini kepada teman-teman Khadijah’, Aisyah berkata, ‘suatu hari aku marah (cemburu) sampai aku berkata, ‘Khadijah aja terus!’. Maka Nabi shalallahu ‘alaihi wa salam bersabda, ‘Sungguh aku telah mendapatkan cintanya’.”

Sebuah ingatan yang indah. Ingatan yang dirawat Nabi shalallahu ‘alihi wa salam tentang sosok wanita yang telah memberikan perjuangan dan pengorbanan terbaiknya. Wanita yang membersamainya dalam lika-liku dakwah dan perjuangan menyampaikan risalah.

Sosok Istri Pejuang

Jika diperhatikan, memori Nabi shalallahu ‘alaihi wa salam tentang Khadijah adalah memori pada fase di mana beliau sedang dalam keadaan terpuruk beliau. Di era permulaan dakwah yang begitu berat, di mana Rasulullah mengalami begitu banyak guncangan, tekanan, penolakan dan sebagainya.

Di sinilah peran Khadijah sebagai istri begitu penting dan memiliki saham besar dalam proses permulaan dakwah di Makkah. Menjadi partner yang selalu membersamai Nabi, selalu ada untuk Nabi dan selalu percaya kepadanya. Dan itu bukan hal mudah tentunya.

Dari proses perjuangan tersebut, justru Nabi melihat pengorbanan yang diberikan Khadijah tidak semata-mata karena dorongan cinta semata, tapi juga karena dorongan imannya kepada Allah. pengabdiannya kepada suaminya berlandaskan iman.

Dalam riwayat Imam Bukhari dan Muslim disebutkan, pernah suatu ketika Jibril ‘alaihi salam datang kepada Nabi shalallahu ‘alaihi wa salam. Jibril berkata:

“Ya Rasulullah, ini dia Khadijah. Ia datang kepadamu membawa wadah berisi makanan dan minuman. Apabila ia datang kepadamu, sampaikan salam dari Allah dan dariku kepadanya. Dan beritahukan pula kepadanya, bahwa rumahnya di Surga terbuat dari emas dan perak, yang di sana tidak ada kebisingan dan kepayahan di dalamnya.” (HR. Muttafaq ‘alaihi)

Pernikahan Nabi dengan Khadijah adalah rencanan Allah yang indah. Allah memberikan pasangan kepada Nabi-Nya seseorang yang disiapkan untuk menjadi pendukung dan penolong saat risalah itu diberikan kepadanya.

Inilah alasan Nabi shalallahu ‘alaihi wa salam mencintai Khadijah dengan begitu pekat. Alasan yang datang dari hati, alasan yang masuk akal, alasan yang tidak dimiliki istri-istri beliau yang lainnya.

قَالَ مَا أَبْدَلَنِي اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ خَيْرًا مِنْهَا قَدْ آمَنَتْ بِي إِذْ كَفَرَ بِي النَّاسُ وَصَدَّقَتْنِي إِذْ كَذَّبَنِي النَّاسُ وَوَاسَتْنِي بِمَالِهَا إِذْ حَرَمَنِي النَّاسُ وَرَزَقَنِي اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ وَلَدَهَا إِذْ حَرَمَنِي أَوْلَادَ النِّسَاءِ

“Nabi shalallahu ‘alaihi wa salam bersabda sembari mengenang Khadijah, “Allah tidak pernah memberiku ganti yang lebih baik darinya. Dia beriman kepadaku saat orang-orang kafir kepadaku, dia membenarkanku di saat orang-orang mendustakanku, dia menolongku dengan hartanya saat orang-orang justru bakhil kepadaku, dan Allah telah anugerahkan anak-anak darinya, yang tidak diberikan wanita-wanita selain dia.” (HR. Ahmad)

Itulah sebabnya Allah condongkan hati Nabi-Nya kepada Khadijah, seorang wanita yang berusia lebih tua dari beliau. Padahal sekiranya beliau hanya mencari kesenangan semata dari pernikahan tentulah Nabi bisa menikahi wanita yang lebih muda, lebih menarik dan lebih cantik.

Tapi hal tersebut  tidak beliau lakukan, dan pilihan beliau jatuh kepada Khadijah, wanita terpandang dan mulia, wanita kaya yang dermawan, wanita yang terhormat dan berakhak karimah. Demikianlah Khadijah menjadi permata di tengah kaumnya. (Lihat: Fiqh as-Sirah an-Nabawiyah, Muhammad Sa’id Ramdhan al-Buthy, 82)

Peran Khadijah Dalam Dakwah

Khadijah radhiyallahu ‘anha bukan semata istri Nabi shalallahu ‘alaihi wa salam secara biologis. Peran dan pengaruh Khadijah dalam proses dakwah Islam menempati posisi sangat penting dan strategis.

Ada beberapa hal yang bisa dipetik sebagai pelajaran dan teladan dari Khadijah, bagaimana ia mengambil peran sebagai sosok seorang istri yang berperan aktif dalam amal iqomatuddin.

Pertama, merupakan sosok wanita yang mencintai kebaikan.

Khadijah adalah yang mampu melihat kebenaran dan kebaikan serta bersegera mengambilnya. Itu bisa dilihat bagaimana cara Khadijah mengenal Nabi shalallahu a’laihi wa salam dan menangkap segala sifat kebaikan pada diri beliau.

Sehingga Khadijah kemudian menawarkan dirinya kepada Nabi untuk dinikahi. Dan alasan yang disampaikan olehnya adalah alasan-alasan kebaikan yang ada pada diri Nabi shalallahu ‘alaihi wa salam:

“Duhai anak pamanku, sungguh aku telah jatuh cinta kepadamu; karena dekatnya hubungan kekerabatan, karena kedudukanmu di tengah kaummu (terhormat), karena sikap amanahmu, baiknya perangai budimu, dan jujurnya tutur lisanmu.” (Sirah Ibnu Hisyam, 89)

Dari sekian laki-laki Quraisy yang menaruh hati kepadanya, Khadijah memilih Nabi shalallahu ‘alaihi wa salam, semata-mata ia melihat banyaknya kebaikan pada diri beliau dibandingkan laki-laki lain.

Kedua, wanita yang penuh dengan pengabdian. 

Ketika Nabi mendekati usia 40 tahun, di mana beliau mulai cenderung menyukai khalwah (menyendiri) di gua Hira’, beliau biasa menghabiskan waktu sebulan dalam satu tahun untuk berkhalwah di dalam gua.

Selama masa-masa tersebut Khadijah selalu dengan setia menyediakan perbekalan untuk khalwatnya Nabi di gua Hira’. Khadijah menyiapkan segala keperluan dan kebutuhan Nabi di fase tersebut. (Rahiq al-Makhtum, 134)

Sekiranya Khadijah bukan tipe wanita yang penuh pengabdian, tentulah ia akan merasa aneh dengan kebiasaan suaminya, yang banyak menghabiskan waktu berdiam diri di gua, dan bukan melakukan aktifitas lain yang lebih mendatangkan manfaat secara materi.

Tapi ketulusan dan pengabdian Khadijah bisa dilihat bagaimana ia berkhidmat kepada Nabi shalallahu ‘alaihi wa salam sebagai suaminya.

Ketiga, wanita yang beriman pertama kali.

Imam ad-Dzahabi menuliskan bahwa Khadijah adalah orang pertama yang beriman kepada Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa salam dan membenarkannya sebelum orang lain. (Siyar A’lam an-Nubala, 2/109)

Hal ini juga bisa dilihat saat Nabi pulang dari gua hira’ dalam keadaan ketakutan karena baru saja melihat malaikat Jibril dalam bentuk aslinya untuk pertama kali. Dan Khadijah menguatkan suaminya dengan apa yang baru saja Nabi alami.

Dalam keadaan menggigil ketakutan, Nabi meminta Khadijah untuk menyelimutinya kemudian menceritakan apa yang baru saja terjadi kepada dirinya. lalu Khadijah memberikan jawaban yang bisa menenangkan Nabi,

“Tidak demi Allah, Allah tidak akan menghinakanmu selamanya, karena engkau suka menyambung silaturahmi, membantu orang lain, memberi makan orang miskin, menjamu tamu, dan menolong orang yang menegakkan kebenaran.” (Ar-Rahiq al-Makhtum, 135)

Keempat, sosok wanita yang cerdas.

Ketika Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa salam menceritakan tentang sesuatu yang baru saja menghampirinya, maka tidak lama Khadijah bergegas menemui sepupunya Waraqah bin Naufal, seorang Nashrani yang menguasai kitab-kitab samawi terdahulu untuk dimintai komentarnya atas apa yang baru saja menimpa Rasulullah.

Setelah mendengar apa yang disampaikan oleh Khadijah, Waraqah pun mengkonfirmasi bahwa apa yang telah datang kepada Rasulullah adalah Malaikat Namus (Jibril) yang dahulu juga telah datang kepada Musa ‘alaihi salam. (Sirah Ibnu Hisyam, 111)

Ini menunjukkan bahwa Khadijah adalah wanita yang mampu berpikir dengan jernih dan mengambil tindakan yang tepat dan cepat, dengan mendatangi Waraqah sebagai ahli kitab yang dapat dipercaya ucapannya serta bisa menjaga rahasia.

Sehingga Khadijah semakin yakin bahwa suaminya benar-benar di atas kebenaran dan bukan sedang mengalami gangguan ataupun khayalan. Kemudian juga membuat Khadijah semakin yakin bahwa suaminya adalah Nabi akhir zaman yang Allah utus untuk seluruh manusia.

Kelima, wanita yang berjuang dengan totalitas.

Apa yang membuat Nabi tidak akan pernah sanggup menggantikan Khadijah dengan wanita lain di hatinya? Jawabannya karena loyalitas dan totalisanya membersamai Nabi dalam memperjuangkan Islam.

Semua dilalui bersama Khadijah; dimulai saat permulaan datangnya wahyu yang sungguh berat, dakwah sirriyah yang menegangkan dan mendebarkan, dakwah jahriyah yang penuh penolakan dan ancaman, berbagai cemooh dan hinaan, cacian dan makian, intimidasi, boikot dan rencana pembunuhan. Semua berhasil dilalui Nabi. Dan Khadijah selalu setia membersamai.

“Selalu ada wanita hebat, di balik pria hebat” begitu kata pepatah. Allah telah menjadikan Khadijah sebaik-baik teman perjalanan bagi Nabi shalallahu ‘alaihi wa salam, sebaik-baik sandaran, sebaik-baik pelipur lara, dan sebaik-baik wanita yang menemaninya.

Imam Ibnu Hisyam berkomentar tentang sosok Khadijah dalam lembaran kitab sirahnya dengan deskripsi agung dan luhur tentang sosok Khadijah radhiyallahu ‘anha, satu gambaran sosok wanita yang begitu didamba semua pria, sosok wanita yang dirindu oleh Surga.

“Maka saat Rasulullah membawa risalah ini (Islam), kemudian beliau menemui penolakan dan gangguan dari kaumnya, tapi tidak dengan Khadijah binti Khuwailid. Ia beriman, ia membenarkan, ia menolong, ia menjadi orang pertama yang beriman dan membenarkan apa yang datang darinya, lewat Khadijah Allah ringankan beban Nabi-Nya…”

“…Tidak pernah sekalipun Nabi mendengar kalimat yang tidak menyenangkan darinya, saat Nabi terus-menerus ditolak atau didustakan yang membuat Nabi sedih, melainkan Allah jadikan Khadijah sebagai pelipur lara baginya saat pulang ke rumah, Nabi disemangati, diringankan bebannya, membenarkan beliau, dan memandang remeh apa yang manusia katakan tentang beliau. Semoga Allah merahmati Khadijah.” (Sirah Ibnu Hisyam, 113)

Maka pantas Nabi shalallahu ‘alaihi wa salam memberikan pujian tertinggi kepada Khadijah atas perjuangan dan pengorbanannya, “Sebaik-baik wanita pada masanya adalah Maryam bin Imran, dan pada masa ini adalah Khadijah.” (Muttafaq ‘alaih)