Jalan Seorang Pejuang

0

Jalan seorang pejuang memanglah berat, berat bagiku dan mungkin berat juga bagi ummi dan abi, apalagi meninggalkan ummi yang sekarang mengurus abi sendirian yang sedang sakit stroke dirumah.

Tapi inilah jalan yang seharusnya anakmu tempuh. Karna di dunia ini tak ada istirahat untuk orang seorang mukmin, istirahat yang haqiqi ialah ketika keduabelah kaki ini telah menapak didalam jannah-Nya.

“Maaf umi … Abi… Izinkan anakmu mengambil sedikit waktu untuk membebaskan manusia dari belenggu dunia dan menjaga dakwah disetiap jengkal tanah.

“Ummi … Ubi…masih ingat kah kisah Uwais Al-Qorni, seorang penduduk bumi yang tak dikenal oleh penduduk bumi tapi dikenal oleh penduduk langit. Seorang pemuda yang menggendong ibunya dari Yaman menuju Makkah untuk berhaji, siapa lagi yang seberbakti ini kepada orang tuanya, Allah lah yang lebih tau.

Ummi… Abi… Disebuah tempat terpencil jauh dari kata kemewahan dunia, beratapkan langit biru dan ditemani bunyi jangkrik dan kicauan burung yang merdu dan suara gemercik air laut, di situlah Allah mengguyur kami dengan rahmat-Nya, membersihkan diri dari karat-karat hati dan membebaskan jiwa dari belenggu cinta dunia dan takut mati.

Semesta menjadi saksi, barisan para pejuang dakwah, kekuatan, kesabaran dan persaudaraan, layaknya barisan para mujahid gagah berani.

Ummi… Abi.… Maafkan aku tak bisa seberbakti Uwais Al-Qorni, bahkan untuk bisa memelukmu dengan erat saja aku belum sanggup. Maafkan aku belum bisa menggendong Abi keluar pintu rumah melihat birunya langit dan hijaunya rumput. Tapi mujahidmu ini selalu bermimpi menjadi pahlawan bagimu walau hanya sekali.

Ummi.. Keluarkan senjatamu Ummi.. Berperanglah bersamaku, sebutlah namaku dalam rangkaian do’a-do’a selepas tahajudmu. Kami akan terus berjuang untuk membela Al-Qur’an, menghidupkan sunnah Nabi dan membebaskan manusia dari belenggu kejahilan.

Semilir angin dingin merasuk kedalam kulit, secercah cahaya dari matahari setinggi ujung tombak, Ahad 6 ramadhan 1442 H. Adalah Perjalanan kami dari toboali ke tanjung sangkar, sebuah desa pesisir di pulau lepar, dari pelabuhan sadai kami menaiki perahu untuk bisa sampai di desa penutuk, dan dilanjutkan dengan kendaraan bermotor agar bisa sampai dilokasi

Bihamdillah aku tak seorang diri, kami ditemani ustadz Hartawijaya (Seorang peruqyah, dan sudah lama bergelimang di dunia tibbun nabawi) Revalino (Seorang hamilul qur’an 26 juz, dari desa ketapang, toboali) dan ayah dari Revalino.

Penduduk yang mayoritas berprovesi menjadi nelayan ini sangat antusias menyambut kedatangan kami. Layaknya kaum anshar berkhidmat kepada kaum muhajirin sebagai pendatang dari Mekkah menuju Madinah.
.
(Insya Allah bersambung)
Ustadz Izzuddin (Da’i Sahdan Madina 1442 H di Pulau Lepar)