Kampung Pinarak

0

Itulah sebutanku untuk kampung Banyuroto, Sawangan, Magelang. Sebuah desa yang berada di sebelah selatan kaki gunung Merbabu.

Di sini, kondisinya cukup dingin. Bagaimana tidak, desa ini termasuk desa yang terakhir menuju gunung Merbabu. Sudah tidak ada desa lagi di atasnya.

Jika Anda akrab dengan objek wisata Ketep Pass, maka lokasinya sekitar 7 km lagi ke arah menanjak. Di sepanjang jalan, mata Anda akan dimanjakan dengan pemandangan gunung Merapi dan Merbabu.

Di sini tanahnya sangat subur. Masyarakat menanam berbagai macam sayuran. Jika anda berdomisili di wilayah jogjakarta dan sekitarnya, besar kemungkinan sayur-mayur yang Anda beli berasal dari sini.

Meski dakwah Islam terbilang baru, tapi perkembangannya cukup melegakan. Bayangkan, di Desa yang terpencil ini, setidaknya ada 20 masjid dan mushala yang dibangun. Setidaknya kesadaran masyarakat untuk membangun rumah ibadah bisa diacungi jempol.

Oh Iya, mengenai istilah “Desa Pinarak”, itu hanya istilah yang saya berikan untuk desa ini. Karena tingginya budaya ramah-tamah mereka dalam menyambut tamu sekalipun terhadap orang yang tidak dikenal.

Pinarak itu sendiri bermakna “silahkan mampir.” Kalimat yang diucapkan setelah mereka menjawab salam. Siapapun yang lewat dan bahkan orang asing yang lewat pun pasti disapa dan diminta untuk mampir.

Bagi mereka, rumah yang dimasuki tamu adalah sebuah kehormatan. Rasa itu akan semakin besar manakala si tamu mau menyantap menu yang dihidangkan. Masya Allah, luar biasa.

Hal menarik lain dari desa ini adalah adanya anak-anak muda yang semangat untuk mengikuti kajian keislaman. Sebuah kebiasaan yang hampir langka kita temukan di wilayah di desa sekitarnya.

Ust. Sahlan Ahmad.