Karena Akhlakmu, Mereka Masuk Islam

0

Karena Akhlakmu, Mereka Masuk Islam
Oleh: Ust. Adib Fattah, S.Pd.I

Berita masuk Islamnya Shopie Petronin menghebohkan dunia. Pasalnya, peristiwa ini terjadi di tengah panasnya isu penistaan agama Islam yang dilakukan oleh presiden Prancis, Emmanuel Macron. Peristiwa ini bagaikan tamparan keras kepada Macron, yang menuduh Islam sebagai agama yang dilanda krisis. Ternyata, warganya sendiri yang ditawan oleh orang Islam, justru memilih memeluk agama orang yang menawannya.

Shopie Pertonin merupakan seorang wanita berusia 75 tahun yang menjadi relawan kemanusiaan di Mali. Ia ditawan oleh kelompok Al-Qaeda di Maghreb Islam (AQIM) di wilayah Gao, Mali Utara pada Desember 2016. Terhitung sudah empat tahun lamanya ia menjadi tawanan, hingga akhirnya dibebaskan pada Jumat (9/10/2020), Sophie Petronin tiba di Bandara Villacoublay, barat daya Paris. Dia disambut langsung oleh Presiden Emmanuel Macron.

Setelah masuk Islam, ia mengganti namanya menjadi Maryam Petronin. Yang menjadi pertanyaan kita selanjutnya adalah, apa yang membuat Maryam memutuskan untuk bersyahadat? Ternyata menurut penuturannya, ia terkesima dengan perlakuan baik orang Islam yang menawannya selama di penangkaran di Mali Utara, Afrika Barat. Bahkan ia mengungkapkan bahwa penahanan tersebut justru menjadi jalan spiritualnya.

Akhlak mulia generasi terbaik

Kisah semacam ini, tentu banyak kita jumpai pada banyak kasus mualaf. Di mana seseorang menjadi terbuka hatinya menerima hidayah Islam, dikarenakan akhlak kaum muslimin. Di zaman Nabi, kita mengenal seorang Rabi Yahudi bernama Zaid bin Sun’ah. Diceritakan bahwa ia pernah dengan sengaja memancing Rasulullah supaya marah, dengan menarik pakaian beliau hingga Rasulullah tercekik. Kemudian dengan nada kasar ia menagih hutang Rasulullah kepadanya, meskipun sebenarnya belum jatuh tempo. Peristiwa ini disaksikan oleh para sahabat, salah satunya Umar bin Khathab yang bahkan ketika itu sudah menghunuskan pedangnya kepada Zaid. Namun, Rasulullah tidak terprovokasi untuk meluapkan kemarahannya. Bahkan Rasulullah tidak hanya melunasi hutang beliau, namun juga memberikan ganti atas tindakan Umar yang membuat Zaid takut. Karena hal inilah kemudian Zaid bin Sun’ah si Rabi Yahudi ini pun masuk Islam.

Di zaman kekhalifahan Umar bin Khattab, datang seorang Yahudi miskin dari Mesir. Ia mengadukan kepada Umar, atas tindakan gubernur Mesir, ‘Amr bin ‘Ash yang telah merobohkan gubuknya dengan alasan untuk pembangunan masjid. Mendengar pengaduan tersebut Umar merasa marah. Kemudian ia memerintahkan si Yahudi agar mengambil sebuah tulang. Lalu Umar mengukir satu garis lurus pada tulang tersebut dengan pedangnya. Umar memerintahkan si Yahudi agar menyerahkan tulang itu kepada ‘Amr bin ‘Ash. Dengan penuh keheranan si Yahudi itu pun menyerahkan tulang itu kepada ‘Amr bin ‘Ash di Mesir. Melihat tulang tersebut ‘Amr menjadi pucat dan ketakutan. Ia pun memerintahkan pasukannya agar membongkar masjid yang sedang dibangun dan mendirikan gubuk si Yahudi seperti sedia kala. Melihat hal ini, si Yahudi pun keheranan dan bertanya apa yang sebenarnya terjadi. ‘Amr pun menjelaskan, bahwa makna dari tulang tersebut adalah ancaman dari Umar agar ‘Amr berlaku adil. Mendengar jawaban tersebut si Yahudi pun menjadi takjub, dan akhirnya masuk Islam.

Tentu masih banyak kisah-kisah lain dari generasi salaf tentang kemuliaan akhlak yang menjadi inspirasi kita. Namun, poin inti dari kisah-kisah tersebut adalah bahwa dakwah tidak selalu harus berupa ceramah atau karya tulis. Dengan menjadikan akhlak mulia sebagai perhiasan kita, maka akan membuat orang di luar Islam tertarik dengan Islam.

Berdakwah tanpa ceramah

Berdakwah merupakan aktivitas yang sangat mulia. Bahkan, dakwah adalah salah satu sendi tegaknya agama Islam. Tugas utama yang diemban Rasulullah adalah berdakwah, menyeru untuk hanya mengesakan Allah semata. Tugas mulia ini kemudian diestafetkan kepada para sahabat beliau, dan terus berlanjut ke generasi sesudahnya hingga sampai kepada kita.

Perintah sekaligus pedoman dalam berdakwah, telah Allah sampaikan dalam firman-Nya,

ادْعُ إِلَى سَبِيلِ رَبِّكَ بِالْحِكْمَةِ وَالْمَوْعِظَةِ الْحَسَنَةِ وَجَادِلْهُمْ بِالَّتِي هِيَ أَحْسَنُ

“Serulah (manusia) kepada jalan Tuhan-mu dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik.” (QS An-Nahl: 125)

Sa’d bin Wahf al-Qathani menjelaskan dalam bukunya al-Hikmah fi Dakwah ilallah bahwa berdakwah dengan hikmah meliputi dua aspek, yaitu aspek ilmu dan aspek amal. Hikmah dalam aspek ilmu artinya adalah berdakwah dengan argumentasi ilmiah yang kuat. Sedangkan hikmah dalam aspek amal artinya dengan berbuat adil dan benar. Tidak mungkin melepaskan makna hikmah dari keduanya. Karena proses manusia mencapai kebenaran itu melalui dua jalan, jalan pengetahuan dan pengamalan. Inilah yang disebut sebagai ilmu yang bermanfaat (ilm an-nafi’) dan amal yang baik (amal ash-shalih).

Dari sini kita tahu, berdakwah tidak selalu berupa ceramah di mimbar-mimbar masjid atau dengan menulis buku-buku keislaman. Berdakwah dapat dilakukan oleh setiap orang, kapan pun dan di mana pun. Yaitu dengan menampakkan keindahan Islam dalam perilaku keseharian. Sebab bisa jadi, keindahan ajaran Islam tertutupi oleh perilaku umat Islam itu sendiri. Sehingga mereka di luar Islam, tidak tertarik dengan ajaran Islam yang indah. Sebagaimana ungkapan Muhammad Abduh yang terkenal,

الإِسْلاَمُ مَحْجُوْبٌ بِالمسْلِمِيْنَ

“Islam itu tertutup oleh pengikut-pengikut Islam itu sendiri”.

Lihatlah kisah-kisah di atas tadi. Apa yang membuat Shopie Petronin, Zaid bin Sun’ah dan orang Yahudi Mesir tertarik masuk Islam? Ya, jawabannya adalah karena mereka melihat keindahan Islam dari para pemeluknya. Zaid bin Sun’ah adalah pemuka agama. Tentu ia tahu seperti apa ajaran agama yang benar. Namun, itu saja tidak cukup untuk membukakan hatinya menerima Islam. Perlu ada bukti riil yang dapat ia saksikan dengan mata kepalanya sendiri. Keindahan Islam tampak nyata baginya melalui akhlak Nabi yang mulia. Seperti itulah seharusnya kita, tidak hanya mendakwahkan Islam lewat lisan dan tulisan, namun juga lewat sikap dan perilaku. Inilah dakwah tanpa ceramah. Wallahu ‘a’lam  bishowab