Kehidupan Thayyibah Dalam Al Qur’an

0

Kehidupan Thayyibah Dalam Al Qur’an

Oleh: Dr. Ahzami Sami’un Jazuli, MA

Membahas tentang makna al hayatut thayyibah (kehidupan yang baik) perspektif Al Qur’an sangatlah penting. Terutama pada hari ini. Setidaknya karena beberapa alasan:

Pertama, tema ini sering diulang dalam Al Qur’an.

Dalam Al Qur’an sering disebutkan kata thayyibah, thayyibin dan lainnya. Tidak mungkin Al Qur’an mengulang-ulang suatu kata jika perkara itu tidak penting. Para ulama ahli tafsir menyebutkan jika suatu kata sering diulang-ulang dalam Al Qur’an itu karena memiliki sisi penting.

Kedua, untuk melihat realitas umat hari ini.

Logikanya, jika jumlah umat Islam hari ini menurut sebagian orang telah menembus angka 1,7 Milyar jiwa, jika kaum muslimin seluruhnya thayyibun (baik-baik saja) seharusnya dunia ini baik. Karena kaum muslimin tampil sebagai orang baik, tapi faktanya tidak sedikit negara yang penduduknya mayoritas umat Islam yang khabits (yang buruk) lebih dominan daripada yang thayyib (yang baik).

Sehingga dunia dalam keadaan darurat jika umat Islam tidak hadir menampilkan kebaikan di dunia ini. Maka salah seorang ulama menulis buku berjudul: Madza Khasiral ‘Alam Biinkhithatil Muslimin (Apa Yang Diderita Dunia Jika Umat Islam Lemah)

Sebagai contoh adalah kekhawatiran PBB yang secara khusus WHO terhadap virus corona (covid 19) salah satu sumbernya adalah karena manusia memakan makanan yang buruk. Padahal Allah telah menghalalkan makanan yang baik dan mengharamkan makanan yang buruk. Inilah yang dirasakan dunia syariat Islam tidak diterapkan.

Ketiga, dalam Al Qur’an kehidupan thayyibah terdapat rincian.

Karena tema ini sangat penting, maka dalam Al Qur’an Allah tidak menyebutkan makna ath-thayyibah  secara global, namun sebagiannya terdapat perincian sebagai bentuk pendetailan. Terutama dalam masalah yang asasiyah (fundamental), yang baik maka akan Allah sebut dengan thayyib sedangkan yang merusak, buruk akan Allah sebut dengan khabits (buruk).

Mari kita bahas satu persatu makna ath-thayyibah dalam Al Qur’an dalam berbagai aspek kehidupan:

Pertama, Thayyibah Dalam Aqidah

Aqidah yang benar kalimat laailahaillah adalah kalimatun thayyibah (kalimat yang baik), sedangkan seluruh bentuk yang bertentangan dengan laa ilaha illah baik kesyirikan dan kekufuran diredaksikan dalam Al Qur’an dengan kata khobitsah (buruk).

Allah Ta’ala berfirman:

أَلَمۡ تَرَ كَيۡفَ ضَرَبَ ٱللَّهُ مَثَلٗا كَلِمَةٗ

طَيِّبَةٗ كَشَجَرَةٖ طَيِّبَةٍ أَصۡلُهَا ثَابِتٞ وَفَرۡعُهَا

فِي ٱلسَّمَآءِ  تُؤۡتِيٓ أُكُلَهَا كُلَّ

حِينِۭ بِإِذۡنِ رَبِّهَاۗ وَيَضۡرِبُ ٱللَّهُ ٱلۡأ

مۡثَالَ لِلنَّاسِ لَعَلَّهُمۡ يَتَذَكَّرُونَ

  وَمَثَلُ كَلِمَةٍ خَبِيثَةٖ كَشَجَرَةٍ

 خَبِيثَةٍ ٱجۡتُثَّتۡ مِن فَوۡقِ ٱلۡأَرۡضِ مَا لَهَا مِن قَرَارٖ

“Tidakkah kamu memperhatikan bagai-mana Allah telah membuat perumpamaan kalimat yang baik seperti pohon yang baik, akarnya kuat dan cabangnya (menjulang) ke langit, (pohon) itu menghasilkan buahnya pada setiap waktu dengan seizin Tuhannya. Dan Allah membuat perumpamaan itu untuk manusia agar mereka selalu ingat. Dan perumpamaan kalimat yang buruk seperti pohon yang buruk, yang telah dicabut akar-akarnya dari permukaan bumi; tidak dapat tetap (tegak) sedikit pun.” (QS. Ibrahim: 24-26)

Allah menyebut kalimat tauhid, iman dengan kalimat thayyibah, perumpamaannya seperti pohon yang baik. Apa ciri pohon yang baik? Yaitu akarnya kokoh tertancap ke dalam bumi, cabang-cabangnya menjulang tinggi ke langit, sehingga kontribusinya berupa kebaikan-kebaikan disetiap waktu, tidak musiman.

Jika kita orang beriman maka harus thayyibin, sehingga kebaikan kita bukan musiman, tapi setiap saat, memberikan kontribusi kebaikan setiap saat, untuk dirinya, keluarganya, masyarakatnya, dan negaranya, dunianya dengan kebaikan. Inilah petunjuk Al Qur’an.

Selanjutnya bagaimana dengan realitas hari ini? Sebagian dari umat Islam hari ini ketika ingin membaca Al Qur’an harus menunggu malam tertentu. Atau ingin beribadah menunggu bulan tertentu yaitu bulan Ramadhan. Ini adalah bentuk ibadah yang musiman. Maka jika kita ingin disebut sebagai mukmin yang baik jangan sampai ibadah kita musiman.

Sebaliknya segala bentuk kesyirikan dan kekufuran Allah sebut dengan kalimat khabitsah, maka terlepas dari perbedaan para ulama Allah menyebut orang musyrik dengan sebutan najis, karena telah melakukan perbuatan yang kotor.

Maka sangat disayangkan jika ada orang muslim bermesra-mesraan dengan orang musyrik atau bahkan lebih mesra, loyal dengan orang musyrik ketimbang sesama orang muslim, karena perbedaan ormas dan madzhab.

Kedua, Thayyibah Dalam Keluarga

Setiap pasangan suami-istri pasti mendambakan rumah tangga yang baik, namun hal ini mustahil terwujud jika sang suami tidak menjadi lelaki yang thayyibun dan sang istri tidak menjadi wanita yang thayyibat.

Sangat disayangkan jika ada orang yang merasa dirinya thayyib, akan masuk surga namun tidak menjadi suami yang bertanggung jawab. Maka rumusnya telah Allah sampaikan dalam Al Qur’an, Allah berfirman:

ٱلۡخَبِيثَٰتُ لِلۡخَبِيثِينَ وَٱلۡخَبِيثُونَ لِلۡخَبِيثَٰتِۖ وَٱلطَّيِّبَٰتُ لِلطَّيِّبِينَ وَٱلطَّيِّبُونَ لِلطَّيِّبَٰتِۚ أُوْلَٰئِكَ مُبَرَّءُونَ مِمَّا يَقُولُونَۖ لَهُم مَّغۡفِرَةٞ وَرِزۡقٞ كَرِ

“Perempuan-perempuan yang keji untuk laki-laki yang keji, dan laki-laki yang keji untuk perempuan-perempuan yang keji (pula), sedangkan perempuan-perempuan yang baik untuk laki-laki yang baik dan laki-laki yang baik untuk perempuan-perempuan yang baik (pula). Mereka itu bersih dari apa yang dituduhkan orang. Mereka memperoleh ampunan dan rezeki yang mulia (surga).(QS. An-Nur: 26)

Maka bagi orang tua hendaknya memperhatikan rumah tangganya dan rumah tangga anak-anaknya, dengan mendidik anak laki-laki agar menjadi anak yang thayyib agar kelak mendapat istri yang thayyibah, begitupula mendidik anak perempuan agar menjadi wanita yang thayyibah semoga kelak mendapat suami yang thayyib.

Ketiga: Thayyibah Dalam Sarana Hidup

 Seluruh sarana hidup mulai dari makanan, minuman, rumah, pakaian, kendaraan seluruhnya harus thayyib. Karena jika hal tersebut khabits atau haram baik cara mendapatkannya khabits atau dzatnya khabits maka tidak hanya menjadi virus perusak di dunia namun juga di akhirat.

Makanan haram yang masuk ke dalam perut hamba kemudian menjadi daging, maka yang akan membakarnya adalah api neraka.

Jika setiap muslim memahami hal ini dengan baik niscaya praktek korupsi, suap dan lainnya akan mudah hilang. Dan usaha untuk memberantas korupsi, suap, riba tidak akan berhasil kecuali dengan menghidupkan motivasi thayyibah dalam kehidupan. Tentunya hal ini harus dilakukan secara bersama-sama.

Lantas pertanyaannya, bagaimana cara agar menjadikan kehidupan kita thayyibah?

Pertama, beriman dan beramal shalih.

Karena janji Allah adalah barangsiapa yang beriman dan beramal shalih pasti Allah akan beri kehidupan yang thayyibah. Sebagaimana firman-Nya:

مَنۡ عَمِلَ صَٰلِحٗا مِّن ذَكَرٍ أَوۡ أُنثَىٰ وَهُوَ مُؤۡمِنٞ فَلَنُحۡيِيَنَّهُۥ حَيَوٰةٗ طَيِّبَةٗۖ وَلَنَجۡزِيَنَّهُمۡ أَجۡرَهُم بِأَحۡسَنِ مَا كَانُواْ يَعۡمَلُونَ

“Barangsiapa mengerjakan kebajikan, baik laki-laki maupun perempuan dalam keadaan beriman, maka pasti akan Kami berikan kepadanya kehidupan yang baik dan akan Kami beri balasan dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan.” (QS. An-Nahl: 97)

Menurut ahli tafsir makna hayatun thayyibah adalah hayatun sa’idah (kehidupan yang penuh dengan kebahagiaan) baik di dunia maupun di akhirat.

Kedua, kebaikan dilakukan semata-mata untuk Allah.

Jangan sampai ketika beramal mengharap balasan selain Allah. Karena siapa yang beramal mengharap balasan selain Allah pasti akan kecewa. Maka salah satu ciri orang beriman adalah, sebagimana firman Allah:

إِنَّمَا نُطۡعِمُكُمۡ لِوَجۡهِ ٱللَّهِ لَا نُرِيدُ مِنكُمۡ جَزَآءٗ وَلَا شُكُورًا

(sambil berkata), “Sesungguhnya kami memberi makanan kepadamu hanyalah karena mengharapkan keridhaan Allah, kami tidak mengharap balasan dan terima kasih dari kamu.” (QS. Al-Insan: 9)

Banyak sekali gambaran dalam kehidupan dunia dimana perbuatan baik dibalas dengan keburukan. Jika tidak benar-benar mengharap balasan semata-mata dari Allah maka ia akan kecewa.

Terakhir yang perlu difahami bahwa kebahagiaan yang hakiki hanya ada di jannah. Meskipun kita merasakan kebahagian di dunia karena iman dan amal shalih kita maka pasti ada saja kesulitan yang kita masih temui. Karena dunia memang darul ibtila’ (ladang ujian).

Allah Ta’ala berfirman:

كُلُّ نَفۡسٖ ذَآئِقَةُ ٱلۡمَوۡتِۗ وَإِنَّمَا تُوَفَّوۡنَ أُجُورَكُمۡ يَوۡمَ ٱلۡقِيَٰمَةِۖ فَمَن زُحۡزِحَ عَنِ ٱلنَّارِ وَأُدۡخِلَ ٱلۡجَنَّةَ فَقَدۡ فَازَۗ وَمَا ٱلۡحَيَوٰةُ ٱلدُّنۡيَآ إِلَّا مَتَٰعُ ٱلۡغُرُورِ

“Setiap yang bernyawa akan merasakan mati. Dan hanya pada hari Kiamat sajalah diberikan dengan sempurna balasanmu. Barangsiapa dijauhkan dari neraka dan dimasukkan ke dalam surga, sungguh, dia memperoleh kemenangan. Kehidupan dunia hanyalah kesenangan yang memperdaya.” (QS. Ali ‘Imran: 185)

(ditranskrip oleh zaid royani, S.Pd.I dari link youtube: https://www.youtube.com/watch?v=tZ1HmyiUY8w)