Kelembutan Hati Para Pengikut Nabi Isa

0

Kelembutan Hati Para Pengikut Nabi Isa ‘alaihissalam

Allah subhanahu wa ta’ala berfirman dalam surah Al-Hadid ayat 27:

ثُمَّ قَفَّيْنَا عَلَىٰٓ ءَاثَٰرِهِم بِرُسُلِنَا وَقَفَّيْنَا بِعِيسَى ٱبْنِ مَرْيَمَ وَءَاتَيْنَٰهُ ٱلْإِنجِيلَ وَجَعَلْنَا فِى قُلُوبِ ٱلَّذِينَ ٱتَّبَعُوهُ رَأْفَةً وَرَحْمَةً وَرَهْبَانِيَّةً ٱبْتَدَعُوهَا مَا كَتَبْنَٰهَا عَلَيْهِمْ إِلَّا ٱبْتِغَآءَ رِضْوَٰنِ ٱللَّهِ فَمَا رَعَوْهَا حَقَّ رِعَايَتِهَا ۖ فَـَٔاتَيْنَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ مِنْهُمْ أَجْرَهُمْ ۖ وَكَثِيرٌ مِّنْهُمْ فَٰسِقُونَ

“Kemudian Kami susulkan rasul-rasul Kami mengikuti jejak mereka dan Kami susulkan (pula) ‘Isa putra Maryam; dan Kami berikan Injil kepadanya dan Kami jadikan rasa santun dan kasih sayang dalam hati orang-orang yang mengikutinya. Mereka mengada-adakan rahbaniyyah padahal Kami tidak mewajibkannya kepada mereka (yang Kami wajibkan hanyalah) mencari keridaan Allah, tetapi tidak mereka pelihara dengan semestinya. Maka kepada orang-orang yang beriman di antara mereka Kami berikan pahalanya, dan banyak di antara mereka yang fasik.”

Pelajaran dari ayat di ayat:

1⃣ Firman-Nya

ثُمَّ قَفَّيْنَا عَلَىٰٓ ءَاثَٰرِهِم

Keturunan Nabi Nuh memiliki 4 anak, salah satunya tenggelam. Dari ketiga putranya tersebut berketurunan, ada yang menjadi bapaknya orang Arab dan orang Eropa, ada yang menjadi bapaknya orang Asia, dan bapaknya orang Afrika.

Salah satu keturunan Nabi Nuh adalah Nabi Ibrahim yang menjadi bapaknya para nabi. Dari Nabi Ibrahim lahirlah Nabi Ismail yang menurunkan Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam. Nabi Ishaq menurunkan Nabi Ya’qub, Nabi Yusuf, Nabi Musa, Daud, Sulaiman, Zakariya, Yahya hingga Isa ibnu Maryam.

قفى Itu maknanya tengkuk, di belakang kepala mereka. ءَاثَٰرِ Itu makanya jejak kaki; kalau bahasa kita sekarang adalah rekam jejak, rekam digital (yang bisa ditelusuri).

ثُمَّ قَفَّيْنَا عَلَىٰٓ ءَاثَٰرِهِم

Kemudian Kami ikutkan nabi-nabi di belakang kepala mereka, di atas jejak kaki mereka.

Para nabi itu mengikuti jejak Nabi Nuh dan Nabi Ibrahim. Jejak kaki itu masih terlihat jika mengikuti dalam waktu yang berdekatan. Kalau mengikuti di padang pasir, jejak kaki itu akan masih terlihat dalam waktu yang belum lama. Jika rentang waktunya sudah lama, maka jejak kaki dapat terhapus oleh angin dan yang lainnya. Ini maksudnya Allah mengutus seorang Nabi & Rasul itu diutus setelah Nabi yang sebelumnya dalam rentang waktu yang cukup dekat.

2⃣ Firman-Nya:

ءَاثَٰرِهم

Atsar menunjukkan bahwa:
(a) kita harus mengikuti jejak para nabi dengan mengikuti petunjuk dan kitab-kitab yang ditinggalkannya. Adalah nikmat yang sangat besar bahwasanya kita masih dapat mengetahui sirah kehidupan para nabi. Itulah kenapa Allah selalu mengulang-ulang cerita para nabi dalam Al-Qur’an. Contoh al-Qashshash berisi cerita Nabi Musa dan nabi lainnya, surah al-Anbiya menceritakan 25 nabi dan rasul, surah Yusuf menceritakan khusus nabi Yusuf.

(b) atsar dalam literatur Islam juga disebutkan untuk menjelaskan rekam jejak para sahabat. Disebut atsar para sahabat dan para tabi’iin. Atsarnya Abu Bakr, Umar bin Khaththab. Jejaknya Nabi Muhammad disebut hadits yang disusun dalam kutubus sittah: Shahih Bukhari, Shahih Muslim, Sunan An-Nasai, Sunan Abu Dawud, Sunan At-Tirmidzi, Sunan Ibnu Majah. Shahih Bukhari diselipkan atsar sahabat. Kitab Muwatha’ yang ditulis Imam Malik menyebut juga hadits dan para sabahat.

Kitab al-Mushannaf khusus berisi tentang rekam jejak tentang Sahabat dan tabi’in dengan sanadnya, عن .. عن .. عن .. Diantaranya Mushannaf Abdur Razaq. Ada juga mushannaf Ibnu Abu Syaibah. Tapi belum diterjemahkan.

(c) atsar itu berarti ilmu. Salah satu adab menuntut ilmu itu harus dari guru.
Firman Allah dalam surah Al-Ahqaf ayat 4:

قُلْ أَرَأَيْتُمْ مَا تَدْعُونَ مِنْ دُونِ اللَّهِ أَرُونِي مَاذَا خَلَقُوا مِنَ الْأَرْضِ أَمْ لَهُمْ شِرْكٌ فِي السَّمَاوَاتِ ائْتُونِي بِكِتَابٍ مِنْ قَبْلِ هَذَا أَوْ أَثَارَةٍ مِنْ عِلْمٍ إِنْ كُنْتُمْ صَادِقِينَ

“Katakanlah: “Terangkanlah kepadaku tentang apa yang kamu sembah selain Allah; perlihatkan kepada-Ku apakah yang telah mereka ciptakan dari bumi ini atau adakah mereka berserikat (dengan Allah) dalam (penciptaan) langit? Bawalah kepada-Ku Kitab yang sebelum (Al Qur’an) ini atau adakah (rekam jejak) peninggalan dari pengetahuan (orang-orang dahulu), jika kamu adalah orang-orang yang benar”.

Artinya ilmu bukan hasil rekayasa atau pengolahan otak kita. Ilmu itu seperti warisan, ilmu turun temurun dari para ulama.

Ayat di atas menunjukkan bahwa ilmu yang diakui sebagai hujjah dan dalil adalah ilmu yang diwariskan dari para nabi atau orang-orang sebelum mereka, yang memang diakui oleh Allah, dan ada dalilnya dari kitab dan sunnah. Bukan ilmu yang mereka ada-adakan sendiri tanpa ada riwayat dari orang sebelumnya. Ini semua menuntut adanya seorang guru ketika belajar.

Berkata al-Qurthubi di dalam al-Jami’ li Ahkam al-Qur’an (16/182): “Berkata al-Harawi: “al-Itsarah wa al-Atsar artinya al-Baqiyah (yang tersisa) ….Berkata Mujahid: “Artinya riwayat yang kalian dapatkan dari orang-orang sebelum kalian. “Berkata ‘Ikrimah dan Muqatil: “artinya adalah riwayat dari para Nabi. Berkata al-Qordhi: “artinya adalah Isnad ( terdapat sanad )” …Asal katanya dari al-Atsar yang berarti riwayat, dikatakan: Atsartu al-hadits… yaitu jika saya menyebutkannya dari selainmu. Dari situlah dikatakan: Hadist Ma’tsur yaitu hadits yang disampaikan khalaf (orang yang belakangan) dari salaf (orang yang terdahulu).”

Berkata Ibnu Katsir di dalam Tafsir al-Qur’an al-Adhim (7/274) : “Makanya sebagian membaca (atsaratin min ‘ilmin) maksudnya adalah ilmu shahih yang mereka dapatkan dari seseorang pendahulu mereka, sebagaimana yang dikatakan Mujahid dalam ayat tersebut, yaitu seseorang yang meninggalkan suatu ilmu. “

Berkata Syekh as-Sa’di di dalam Taisir al-Karim ar-Rahman fi Tafsir Kalam al-Manan (1/779): “yaitu ilmu yang diwariskan dari para Rasul yang menyuruh hal tersebut“

Tafsir kitab bil kitab, menafsirkan ayat Al-Qur’an dengan ayat Al-Qur’an yang lain.
Tafsir bil-ma’tsur, tafsir dengan menggunakan hadits-hadits.Tafsir dengan menyebutkan perkataan para sahabat dan tabi’in, seperti Thabari, Ibnu Katsir, Ibnu Abbas, Qurthubi.Tafsir bil-lughoh, tafsir harus dengan menggunakan bahasa Arab.

Dalam bacaan Al-Qur’an harus diajarkan dan dicontohkan oleh guru dimana bacaan sang guru terus tersambung hingga kepada bacaan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sebagaimana malaikat Jibriel mengajarkan Al-Qur’an kepada beliau, itu yang disebut sanad.

Kalau dalam sanad fiqih itu bermadzhab, dengan salah satu dari 4 madzhab dari salah satu imam madzhab: Imam Abu Hanifah, Imam Malik bin Anas, Imam Syafi’i, dan Imam Ahmad bin Hanbal.

3⃣ Firman-Nya

وَقَفَّيْنَا بِعِيسَى ابْنِ مَرْيَمَ

a. Nabi Isa ibnu Maryam disebut secara khusus karena Nabi Isa itu satu-satunya Nabi yang belum meninggal dunia. Dan kelak Nabi Isa akan turun lagi pada akhir zaman. Nabi Isa mirip salah satu sahabat Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam. Nabi Isa itu mengawali Hari Kiamat. Nabi Isa akan mematahkan salib-salib dan membunuh babi-babi. Kaum nasrani akan beriman kepada Nabi Isa dan masuk Islam. Oleh karena itu Nabi Isa sering disebut dalam Al-Qur’an karena beliau yang menyambung risalah Nabi Muhammad di akhir zaman.

b. Beliau termasuk Nabi Ulul Azmi yang keempat dari lima Nabi Ulul Azmi yaitu Nuh, Ibrahim, Musa, Isa, Muhammad.

c. Penyebutan ibnu Maryam setelah nama Nabi Isa secara khusus dan ini tidak disebutkan pada nabi-nabi lain karena banyak orang yang salah faham terutama kaum Nasrani yang mengatakan bahwa Isa adalah anak Tuhan bahkan mereka menjadikannya sebagai tuhan sesembahan, sebagaimana dalam firman-Nya surah Al-Maidah ayat 17, 72-73:

لَّقَدْ كَفَرَ ٱلَّذِينَ قَالُوٓا۟ إِنَّ ٱللَّهَ هُوَ ٱلْمَسِيحُ ٱبْنُ مَرْيَمَ ۚ قُلْ فَمَن يَمْلِكُ مِنَ ٱللَّهِ شَيْـًٔا إِنْ أَرَادَ أَن يُهْلِكَ ٱلْمَسِيحَ ٱبْنَ مَرْيَمَ وَأُمَّهُۥ وَمَن فِى ٱلْأَرْضِ جَمِيعًا ۗ وَلِلَّهِ مُلْكُ ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَٱلْأَرْضِ وَمَا بَيْنَهُمَا ۚ يَخْلُقُ مَا يَشَآءُ ۚ وَٱللَّهُ عَلَىٰ كُلِّ شَىْءٍ قَدِيرٌ

Sungguh, telah kafir orang yang berkata, “Sesungguhnya Allah itu dialah Al-Masih putra Maryam.” Katakanlah (Muhammad), “Siapakah yang dapat menghalang-halangi kehendak Allah, jika Dia hendak membinasakan Al-Masih putra Maryam beserta ibunya dan seluruh (manusia) yang berada di bumi?” Dan milik Allah-lah kerajaan langit dan bumi dan apa yang ada di antara keduanya. Dia menciptakan apa yang Dia Kehendaki. Dan Allah Mahakuasa atas segala sesuatu.
(QS. Al-Maidah ayat 17)

لَقَدْ كَفَرَ ٱلَّذِينَ قَالُوٓا۟ إِنَّ ٱللَّهَ هُوَ ٱلْمَسِيحُ ٱبْنُ مَرْيَمَ ۖ وَقَالَ ٱلْمَسِيحُ يَٰبَنِىٓ إِسْرَٰٓءِيلَ ٱعْبُدُوا۟ ٱللَّهَ رَبِّى وَرَبَّكُمْ ۖ إِنَّهُۥ مَن يُشْرِكْ بِٱللَّهِ فَقَدْ حَرَّمَ ٱللَّهُ عَلَيْهِ ٱلْجَنَّةَ وَمَأْوَىٰهُ ٱلنَّارُ ۖ وَمَا لِلظَّٰلِمِينَ مِنْ أَنصَارٍ

Sungguh, telah kafir orang-orang yang berkata, “Sesungguhnya Allah itu dialah Al-Masih putra Maryam.” Padahal Al-Masih (sendiri) berkata, “Wahai Bani Israil! Sembahlah Allah, Tuhanku dan Tuhanmu.” Sesungguhnya barang siapa mempersekutukan (sesuatu dengan) Allah, maka sungguh, Allah mengharamkan surga baginya, dan tempatnya ialah neraka. Dan tidak ada seorang penolong pun bagi orang-orang zalim itu.
(QS. Al-Maidah ayat 72)

لَّقَدْ كَفَرَ ٱلَّذِينَ قَالُوٓا۟ إِنَّ ٱللَّهَ ثَالِثُ ثَلَٰثَةٍ ۘ وَمَا مِنْ إِلَٰهٍ إِلَّآ إِلَٰهٌ وَٰحِدٌ ۚ وَإِن لَّمْ يَنتَهُوا۟ عَمَّا يَقُولُونَ لَيَمَسَّنَّ ٱلَّذِينَ كَفَرُوا۟ مِنْهُمْ عَذَابٌ أَلِيمٌ

“Sungguh, telah kafir orang-orang yang mengatakan bahwa Allah adalah salah satu dari yang tiga, padahal tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) selain Tuhan Yang Esa. Jika mereka tidak berhenti dari apa yang mereka katakan, pasti orang-orang yang kafir di antara mereka akan ditimpa azab yang pedih.”
(QS. Al-Maidah ayat 73)

d. Penyebutan Ibnu Maryam menunjukkan kebolehan menisbahkan seorang anak yang tidak punya bapak seperti Nabi Isa atau anak hasil perzinahan kepada nama ibunya. Hal itu dikarenakan anak hasil perzinahan tidak boleh menisbahkan kepada bapak biologisnya dan dia tidak boleh menjadi wali pernikahan bagi anak perempuan hasil perzinahannya.

4⃣ Firman-Nya

وَآتَيْنَاهُ الْإِنْجِيلَ

Nabi Isa ibnu Maryam diberi kitab Injil. Injil berasal dari bahasa Yunani yang berarti kabar gembira atau berita penyelamatan. Ada yang berpendapat, Injil dari kata najlu artinya asli. Dikatakan رحم الله ناجليه artinya Allah merahmati kedua orang tuanya.

Injil menurut Islam adalah wahyu Allah yang diturunkan kepada Nabi Isa yang berisi tentang tauhid dan perintah menyembah Allah saja serta berisi tentang akan datangnya Nabi akhir zaman yang bernama Muhammad. Di antara dalilnya firman Allah subhanahu wa ta’ala dalam surah Ash-Shaf ayat 6:

وَإِذْ قَالَ عِيسَى ٱبْنُ مَرْيَمَ يَٰبَنِىٓ إِسْرَٰٓءِيلَ إِنِّى رَسُولُ ٱللَّهِ إِلَيْكُم مُّصَدِّقًا لِّمَا بَيْنَ يَدَىَّ مِنَ ٱلتَّوْرَىٰةِ وَمُبَشِّرًۢا بِرَسُولٍ يَأْتِى مِنۢ بَعْدِى ٱسْمُهُۥٓ أَحْمَدُ ۖ فَلَمَّا جَآءَهُم بِٱلْبَيِّنَٰتِ قَالُوا۟ هَٰذَا سِحْرٌ مُّبِينٌ

Dan (ingatlah) ketika ‘Isa putra Maryam berkata, “Wahai Bani Israil! Sesungguhnya aku utusan Allah kepadamu, yang membenarkan kitab (yang turun) sebelumku, yaitu Taurat dan memberi kabar gembira dengan seorang rasul yang akan datang setelahku, yang namanya Ahmad (Muhammad).” Namun ketika Rasul itu datang kepada mereka dengan membawa bukti-bukti yang nyata, mereka berkata, “Ini adalah sihir yang nyata.”
(QS. Ash-Shaf ayat 6)

Dan firman-Nya surah Al-Maidah ayat 72:

لَقَدْ كَفَرَ ٱلَّذِينَ قَالُوٓا۟ إِنَّ ٱللَّهَ هُوَ ٱلْمَسِيحُ ٱبْنُ مَرْيَمَ ۖ وَقَالَ ٱلْمَسِيحُ يَٰبَنِىٓ إِسْرَٰٓءِيلَ ٱعْبُدُوا۟ ٱللَّهَ رَبِّى وَرَبَّكُمْ ۖ إِنَّهُۥ مَن يُشْرِكْ بِٱللَّهِ فَقَدْ حَرَّمَ ٱللَّهُ عَلَيْهِ ٱلْجَنَّةَ وَمَأْوَىٰهُ ٱلنَّارُ ۖ وَمَا لِلظَّٰلِمِينَ مِنْ أَنصَارٍ

Sungguh, telah kafir orang-orang yang berkata, “Sesungguhnya Allah itu dialah Al-Masih putra Maryam.” Padahal Al-Masih (sendiri) berkata, “Wahai Bani Israil! Sembahlah Allah, Tuhanku dan Tuhanmu.” Sesungguhnya barang siapa mempersekutukan (sesuatu dengan) Allah, maka sungguh, Allah mengharamkan surga baginya, dan tempatnya ialah neraka. Dan tidak ada seorang penolong pun bagi orang-orang zalim itu.
(QS. Al-Maidah ayat 72)

Dan surah Al-Maidah ayat 117:

مَا قُلْتُ لَهُمْ إِلَّا مَآ أَمَرْتَنِى بِهِۦٓ أَنِ ٱعْبُدُوا۟ ٱللَّهَ رَبِّى وَرَبَّكُمْ ۚ وَكُنتُ عَلَيْهِمْ شَهِيدًا مَّا دُمْتُ فِيهِمْ ۖ فَلَمَّا تَوَفَّيْتَنِى كُنتَ أَنتَ ٱلرَّقِيبَ عَلَيْهِمْ ۚ وَأَنتَ عَلَىٰ كُلِّ شَىْءٍ شَهِيدٌ

Aku tidak pernah mengatakan kepada mereka kecuali apa yang Engkau perintahkan kepadaku (yaitu), “Sembahlah Allah, Tuhanku dan Tuhanmu,” dan aku menjadi saksi terhadap mereka, selama aku berada di tengah-tengah mereka. Maka setelah Engkau mengangkatku ke langit, Engkaulah yang mengawasi mereka. Dan Engkaulah Yang Maha Menyaksikan segala sesuatu.
(QS. Al-Maidah ayat 117)

Adapun Injil menurut versi Nasrani ada 4: Injil Yohanes, Markus, Matheus, Lucas.

5⃣Firman-Nya:

وَجَعَلْنَا فِي قُلُوبِ الَّذِينَ اتَّبَعُوهُ رَأْفَةً وَرَحْمَةً

Allah menjadikan di hati para pengikut Nabi Isa dua hal yaitu: rasa ra’fah dan rahmah (kasih sayang).
Perbedaan ra’fah dan rahmah.
Kedua sifat di atas mirip dengan sifat Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam terhadap umatnya sebagaimana dalam surah At-Taubah ayat 128.

لَقَدْ جَآءَكُمْ رَسُولٌ مِّنْ أَنفُسِكُمْ عَزِيزٌ عَلَيْهِ مَا عَنِتُّمْ حَرِيصٌ عَلَيْكُم بِٱلْمُؤْمِنِينَ رَءُوفٌ رَّحِيمٌ

“Sungguh, telah datang kepadamu seorang Rasul dari kaummu sendiri, berat terasa olehnya penderitaan yang kamu alami, (dia) sangat menginginkan (keimanan dan keselamatan) bagimu, penyantun dan penyayang terhadap orang-orang yang beriman.”
(QS. At-Taubah ayat 128)

Ayat di atas menunjukkan lima sifat para Rasul:
1. Beliau adalah utusan Allah
2. Dari jenis manusia, ini membantah klaim orang kafir bahwasanya para rasul dari kalangan malaikat. Lihat surah Al-Isra ayat 95.

قُل لَّوْ كَانَ فِى ٱلْأَرْضِ مَلَٰٓئِكَةٌ يَمْشُونَ مُطْمَئِنِّينَ لَنَزَّلْنَا عَلَيْهِم مِّنَ ٱلسَّمَآءِ مَلَكًا رَّسُولًا

Katakanlah (Muhammad), “Sekiranya di bumi ada para malaikat, yang berjalan-jalan dengan tenang, niscaya Kami turunkan kepada mereka malaikat dari langit untuk menjadi rasul.”
(QS. Al-Isra ayat 95)

3. Beliau merasa berat jika umatnya tertimpa kesusahan.
4. Beliau sangat ingin memberikan maslahat kepada umatnya.
5. Beliau terhadap orang-orang beriman selalu ra’uf/lemah lembut dan rahim/kasih sayang. Perbedaan antara sifat ra’uf dan rahim, ra’uf adalah rasa kasihan atas musibah yang menimpa seseorang. Adapun rahim adalah belas kasihan karena ingin mberikan hal-hal yang positif terhadap seseorang.

Ini dikuatkan dalam firman Allah subhanahu wa ta’ala dalam surah Al-Maidah ayat 82:

۞ لَتَجِدَنَّ أَشَدَّ ٱلنَّاسِ عَدَٰوَةً لِّلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ ٱلْيَهُودَ وَٱلَّذِينَ أَشْرَكُوا۟ ۖ وَلَتَجِدَنَّ أَقْرَبَهُم مَّوَدَّةً لِّلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ ٱلَّذِينَ قَالُوٓا۟ إِنَّا نَصَٰرَىٰ ۚ ذَٰلِكَ بِأَنَّ مِنْهُمْ قِسِّيسِينَ وَرُهْبَانًا وَأَنَّهُمْ لَا يَسْتَكْبِرُونَ

Pasti akan kamu dapati orang yang paling keras permusuhannya terhadap orang-orang yang beriman, ialah orang-orang Yahudi dan orang-orang musyrik. Dan pasti akan kamu dapati orang yang paling dekat persahabatannya dengan orang-orang yang beriman, ialah orang-orang yang berkata, “Sesungguhnya kami adalah orang Nasrani.” Yang demikian itu karena di antara mereka terdapat para pendeta dan para rahib, (juga) karena mereka tidak menyombongkan diri.
(QS. al-Maidah ayat 82)

Ayat di atas menunjukkan bahwa diantara orang-orang kafir yang lembut hatinya dan dekat dengan orang Islam dari kalangan Nasrani adalah pengikut Nabi Isa. Bahkan diantara mereka ada yang menangis jika disebut nama Allah, sebagaimana firman Allah dalam surah Al-Maidah ayat 83:

وَإِذَا سَمِعُوا۟ مَآ أُنزِلَ إِلَى ٱلرَّسُولِ تَرَىٰٓ أَعْيُنَهُمْ تَفِيضُ مِنَ ٱلدَّمْعِ مِمَّا عَرَفُوا۟ مِنَ ٱلْحَقِّ ۖ يَقُولُونَ رَبَّنَآ ءَامَنَّا فَٱكْتُبْنَا مَعَ ٱلشَّٰهِدِينَ

Dan apabila mereka mendengarkan apa (Al-Qur’an) yang diturunkan kepada Rasul (Muhammad), kamu lihat mata mereka mencucurkan air mata disebabkan kebenaran yang telah mereka ketahui (dari kitab-kitab mereka sendiri), seraya berkata, “Ya Tuhan, kami telah beriman, maka catatlah kami bersama orang-orang yang menjadi saksi (atas kebenaran Al-Qur’an dan kenabian Muhammad).
(QS. Al-Maidah ayat 83)

Wallahu A’lam
📝 DR. Ahmad Zain An-Najah, MA.