Keluarga; Tempat Menyemai Benih Pejuang

0

Keluarga; Tempat Menyemai Benih Pejuang
Oleh: Ust. Burhan Sodiq

Ibarat sebuah perjalanan, setiap perjalanan pasti memiliki tujuan. Apalah kiranya jika sebuah perjalanan kita tidak punya tujuan sama sekali. Mau kemana, tidak jelas. Mau menuju apa, tidak tahu. Hal itu pasti benar benar akan sangat melelahkan.

Orang meniti jalan tanpa tujuan seperti orang yang sia sia dalam hidupnya. Waktu dan bekalnya habis tanpa sisa untuk sesuatu yang tidak ada tujuannya. Orang jawa bilang muspro atau sia sia.

Keluarga juga harus punya tujuan. Jangan sampai keluarga tanpa tujuan. Jika keluarga berjalan tanpa tujuan maka yang terjadi adalah kesia siaan. Suami bekerja mengejar sesuatu yang hampa. Dunia didapat tapi seperti ada yang kurang. Istri melayani kebutuhan suami dan anak anak pun begitu rasanya. Tiada semangatnya dan hilang rasa.

Menyemai Benih Pejuang

Sudah seharusnya di masing masing benak kita menyadari bahwa keluarga adalah tempat terbaik untuk menyemai benih pejuang. Menyiapkan sebanyak banyaknya jumlah anak anak yang kelak akan melanjutkan estafet perjuangan orang tuanya. Perjuangan yang sederhana, yakni menegakkan agama Allah di muka bumi ini.

Anak anak yang punya visi. Sehingga wajahnya tegak lurus pada jalan yang dituju. Tidak merasa sedih dengan kondisi yang ada. Tidak merasa galau dengan masalah masalah yang muncul. Hanya butuh terus menatap jalan juang yang sudah dititahkan. Kemudian berjalan sampai sekuat kuatnya.

Anak anak yang memang punya keinginan untuk melanjutkan misi misi yang tertunda. Tidak terlalu silau dengan kehidupan dunia yang fana. Tetapi terus punya mimpi mimpi sederhana dalam kehidupannya.

Siapkan Kurikulumnya

Semua orang berlomba untuk menyiapkan kadernya. Jika dia berada di jalan isme yang lain, ia pun akan menyiapkan anak anaknya berjuang untuk isme yang diyakininya. Ia tidak akan biarkan anak anaknya lepas. Ia juga tidak akan biarkan anak anaknya bebas begitu saja.

Ia jalani visinya. Ia jaga anak anaknya dengan pendidikan versi dirinya. Ia tidak mau patah akarnya. Selalu ia jaga selama lamanya.

Seorang mukmin idealnya juga seperti itu. Ia harus menyiapkan lembaga pendidikan untuk anak anaknya. Menjaga visi agungnya tuk tetap ada. Tidak melenceng dari garis yang ditentukan. Menikmati proses dari awal hingga terbentuknya karakter terbaik yang bisa dilakukan.

Orang tua orang tua yang tidak cengeng. Tapi orang tua orang tua yang menyadari bahwa melanjutkan perjuangan adalah sebuah kewajiban. Menyiapkan anak anaknya untuk tahan banting. Siap berjuang dengan ilmu dan amal.

Oleh karena itu bekal bekalnya bisa sangat banyak. Selain ilmu agama, juga dibutuhkan ilmu dunia. Tidak harus semua anak anak menjadi ulama. Tidak harus semua anak anak menjadi ahli agama. Tapi anak anak itu harus mengenal rabbnya. Anak anak itu harus tahu kenapa mereka diciptakan di dunia.

Anak anak itu harus tahu apa yang diperjuangkan. Sehingga menjadi apapun di masa depan tidaklah masalah. Selama mereka siap menggenggam bara perjuangan di masa masa yang akan datang.

Benturan Zaman Harus Disikapi

Bisa jadi anak anak itu berbeda zaman dengan orang tuanya. Maka pola pendekatannya pun harus berbeda. Jangan sampai mereka disama ratakan dengan kita saat muda dulu. Tantangannya berbeda, cara menghadapinya juga berbeda.

Pahamilah kekurangan mereka lalu rangkullah mereka dengan pendekatan yang baik. Tanamkan ilmu keislaman yang benar. Jangan jauhkan mereka dari ulama. Karena dengan dekat dengan ulama akan membuat mereka selalu dalam cahaya keilmuan.

Tanpa ilmu mereka bisa buta. Berjalan tak tahu arah sehingga menjadi sesat dan menyesatkan. Tapi jika semangat juang mereka dibimbing oleh ilmu, mereka akan terus melaju dengan potensi yang dimilikinya.