Kemaksiatan Pangkal Kekalahan

0

Kemaksiatan Pangkal Kekalahan

(Serial Tadabbur Sirah 2)

Oleh: Ust. Fajar Jaganegara, S.Pd.I

Uhud. Sebuah bukit granit kemerahan dengan ketinggian 350 m berdiri dengan gagah. Bukit batu ini menjadi bagian penting dari perjalanan sejarah Islam di Madinah. Bukit yang tanahnya pernah diinjak manusia mulia, dan di sekitarnya terkubur para Syuhada’.

Uhud adalah saksi bisu patriotisme Sang Nabi dan para sahabat ketika perang melawan musyrikin Quraisy pada tahun 3 H. Uhud menjadi saksi bagaimana luka-luka menggores wajah Nabi, Uhud menyaksikan bagaimana pelipis Nabi berdarah dan gigi serinya tanggal terluka.

Dengan menjadi bagian dari sejarah tersebut, Uhud mendapatkan cinta sang Nabi, sebagaimana yang diriwayatkan oleh Imam al-Bukhari, Rasulullah shalallahu ‘alahi wa salam bersabda:

أُحُدٌ جَبَلٌ يُحِبُّنَا وَنُحِبُّهُ

“Uhud adalah gunung yang mencintai kita, dan kita pun mencintainya.” (HR.al-Bukhari)

Syahdan, pada hari pertempuran itu terjadi, Uhud juga menyaksikan bagaimana perintah Nabi telah diabaikan. Yang kemudian menjadi salah satu sebab, pasukan kaum muslimin berantakan.

“Hadang kuda-kuda (musuh) dengan panah kalian sehingga mereka tidak datang dari belakang kami dan tetaplah di posisi kalian; baik kami menang ataupun kalah. Tetaplah pada posisi kalian dan jangan meninggalkannya.” (Ali ash-Shalabi, Sirah an-Nabawiyah, 648)

Abdullah bin Jubair selaku komandan pasukan pemanah yang menerima mandat tersebut menerima perintah tersebut dengan satu keyakinan, bahwa pasukan pemanah punya peran sangat strategis dalam perang ini. Sedikit kesalahan bisa berbuah kekalahan.

Luka-Luka Di Medan Uhud

Episode perang Uhud bisa dikatakan adalah salah satu episode paling pilu dalam kehidupan Nabi. Luka, duka dan kehilangan orang-orang tercinta menjadi bagian pahit dari perang tersebut.

Ada 70 sahabat Nabi yang gugur pada pertempuran ini, salah satunya adalah sang Paman tercinta, Hamzah bin Abdul Muthalib yang dibunuh oleh Wahsy. Tidak cukup hanya dengan kematiannya saja, bahkan jasad sang paman dimutilasi; telinga dan hidungnya terpotong, dadanya bolong dan hatinya hilang dari tempatnya.

Perang Uhud juga merupakan saat-saat paling kritis bagi Nabi, dimana segala serangan diarahkan kepadanya. Nabi menjadi sasaran nomor satu untuk dibunuh. Perang Uhud, adalah kesempatan bagi Quraisy untuk membalaskan dendam atas pertempuran sebelumnya.

Serangan demi serangan tertuju kepada Nabi, Syaikh Syafiyurrahman al-Mubarakfuri menyebutkan ada 3 serangan yang langusng mengenai Nabi pada perang ini.

Pertama, lemparan batu dari Utbah bin Abi Waqqash yang mengenai lambung  dan wajah beliau.

Kedua, pukulan Abdullah bin Syihab az-Zuhri yang melukai kening beliau.

Ketiga, serangan Abdullah bin Qami’ah sambil menunggang kuda yang mengenai pundak beliau, akan tetapi tidak tembus karena baju besi yang dikenakan Nabi. Dan serangan kedua darinya, menghantam topi besi Nabi yang menyebabkan rantainya copot dan melukai pelipis beliau.

Serangan demi serangan terus terjadi, hingga wajah Nabi terluka, gigi serinya tanngal dari tempatnya. Hari itu, benar-benar hari yang berat bagi Nabi dan para sahabat. Luka dan duka melekat pada setiap kaum muslimin yang membersamai Nabi hari itu.

Namun semua itu bukan tanpa sebab. Ada picu yang membuat hal tersebut terjadi, yaitu ketidakpathan sebagian kaum muslimin atas perintah Nabi, sehingga kemaksiatan mereka berbuah bencana dan musibah.

Kekalahan Adalah Buah Kemaksiatan

Putaran pertama perang Uhud milik kaum muslimin. keberanian, kesungguhan dan mencintai kematian menjadi turbin penggerak utama yang membuat 700 pasukan Madinah mampu menggoyang 3000 pasukan musyrikin Mekkah.

Prajurit musuh sudah lari mundur ke belakang, pasukan lawan berantakan mendapat serangan yang di luar perkiraan mereka. Meski secara moril mereka unggul, namun secara moral mereka tumpul.

Aroma kemenangan sudah mengudara di tengah-tengah pasukan kaum muslimin. Melihat pasukan musuh lari dari medan pertempuran menandakan kemenangan sudah diraih. Sisa-sisa pertempuran berikut ghanimah perang menyilaukan sebagian pasukan pemanah.

Kelalaian ini yang menjadi pangkal dari kehancuran setelahnya. Silau terhadap kemenangan sesaat dan melupakan mandat dari Nabi untuk tetap menjaga bagian belakang pasukan dan memantau musuh dari atas bukit, untuk memastikan tidak adanya serangan balik dadakan.

Di sinilah kemalangan itu dimulai. Bermula dari sebuah pembangkangan dan ketidakpatuhan pasukan pemanah atas intruksi Nabi kepada mereka; untuk tetap berada di pos mereka. Apapun keadaannya.

Seketika mereka lupa dengan pesan Nabi, “Jangan tinggalkan posisi kalian; baik kami menang ataupun kalah.” Tapi hampir mayoritas pasukan pemanah di bukit ‘Ainain gelap mata, dan lupa tugas yang dibebankan Nabi kepada mereka.

“Ghanimah! Ghanimah!”  sekelompok orang berteriak setelah melihat berbagai pernak-pernik sisa-sia pertempuran tengah dikumpulkan teman-teman mereka.

Kemilau harta membutakan mereka, tanpa disadari bahwa hal tersebut adalah kemaksiatan yang akan menghatarkan kepada kekalahan dan kehinaan.

Empat puluh orang pemanah turun dari pos mereka untuk ambil bagian mengumpulkan ghanimah yang tertinggal. Sementara sepuluh lainnya memilih bertahan bersama Abdullah bin Jubair, menaati perintah Nabi untuk tetap berjaga di pos mereka.

Kekosongan pos pasukan pemanah dimanfaatkan dengan baik oleh Khalid bin Walid yang memimpin pasukan kavaleri Quraisy. Ia mengambil jalan memutar dan melakukan serangan kilat dari arah belakang. Pasukan pemanah yang hanya berjumlah sepuluh orang tumbang.

Angin segar itu berbalik arah. Pasukan Makkah berada di atas angin setelah kavaleri Khalid mengubah langkah catur pertempuran. Kesalahan pasukan pemanah meninggalkan pos mereka berdampak sangat fatal pada pertahanan kaum muslimin.

Barisan mereka berantakan, satu demi satu gugur berjatuhan. Keadaan berbalik seratus delapan puluh derajat. Yang pada mulannya memimpin arah peperangan, kini berbalik menjadi sasaran serang berkelanjutan.

Syaikh Abu Hasan an-Nadawi mengomentari penyebab terjadinya hal tersebut, “Sesungguhnya ini adalah hasil dari kesalahan pasukan pemanah. Karena mereka tidak menaati intruksi Nabi (untuk tetap di pos mereka).” (as-Sirah an-Nawabiyah, Abu Hasan Ali an-Nadawi, 234)

Ketidakpatuhan atas perintah Nabi berbuah kecelakaan yang besar. Ini adalah pelajaran penting bagi kaum muslimin, bahwa Ketidakpatuhan pasukan pemanah atas petunjuk Nabi pada perang Uhud telah mengubah peta jalannya pertempuran. Sekaligus membebat luka yang besar bagi kaum muslimin.

Apa yang membuat pasukan pemanah abai atas perintah Nabi?

Jawabannya adalah, mereka silau dengan harta dunia (ghanimah) dan terjadinya perselisihan di antara mereka serta tidak patuhnya mereka atas peringatan Abdullah bin Jubair selaku pimpinan pasukan pemanah.

Hal tersebut sebagaimana dicatat oleh Imam Muhammad Yusuf Asy-Syami dalam kitabnya Sabil al-Huda wa ar-Rasyad fi Sirati Khair al-‘Ibad, Abdullah bin Jubair memperingatkan mereka ketika akan meninggalkan pos jaga mereka.

“Tidakkah kalian ingat pesan Nabi!? ‘Jagalah punggung kami (arah belakang) dan jangan tinggalkan tempat kalian! Jika kalian melihat kami bertempur, maka tidak perlu menolong kami, jika kalian melihat kami mengambil ghanimah (menang), tidak perlu mengikuti,  tetap jaga kami dari arah belakang!”

Akan tetapi mereka yang kadung terlena menjawab, “Bukan demikian yang diinginkan Nabi kepada kita.” Dan mereka pergi meninggalkan tempat mereka. Sebuah ketidakpatuhan dan kemaksiatan yang menghantarkan pada kehancuran. (Lihat: Sabil al-Huda wa ar-Rasyad fi Sirati Khair al-‘Ibad, Muhammad Shalih asy-Syami, 290)

Peristiwa ini Allah rekam dalam firman-Nya:

وَلَقَدۡ صَدَقَكُمُ ٱللَّهُ وَعۡدَهُۥٓ إِذۡ تَحُسُّونَهُم بِإِذۡنِهِۦۖ حَتَّىٰٓ إِذَا فَشِلۡتُمۡ وَتَنَٰزَعۡتُمۡ فِي ٱلۡأَمۡرِ وَعَصَيۡتُم مِّنۢ بَعۡدِ مَآ أَرَىٰكُم مَّا تُحِبُّونَۚ مِنكُم مَّن يُرِيدُ ٱلدُّنۡيَا وَمِنكُم مَّن يُرِيدُ ٱلدُّنۡيَا وَمِنكُم مَّن يُرِيدُ ٱلۡأٓخِرَةَۚ وَلَقَدۡ عَفَا عَنكُمۡۗ وَٱللَّهُ ذُو فَضۡلٍ عَلَى ٱلۡمُؤۡمِنِينَ

“Dan sesungguhnya Allah telah memenuhi janji-Nya kepada kamu, ketika kamu membunuh mereka dengan izin-Nya sampai pada saat kamu lemah dan berselisih dalam urusan itu dan mendurhakai perintah (Rasul) sesudah Allah memperlihatkan kepadamu apa yang kamu sukai. Di antaramu ada orang yang menghendaki dunia dan diantara kamu ada orang yang menghendaki akhirat. Kemudian Allah memalingkan kamu dari mereka untuk menguji kamu, dan sesunguhnya Allah telah memaafkan kamu. Dan Allah mempunyai karunia (yang dilimpahkan) atas orang orang yang beriman.” (QS. Ali Imran: 152)

Allah menjanjikan kemenangan itu bagi hamba-hamba-Nya yang beriman, dan hal tersebut Allah berikan pada putaran pertama dari perang Uhud. Akan tetapi yang menyebabkan hal tersebut berbalik menjadi kekalahan adalah kemaksiatan mereka terhadap perintah Rasulullah.

Serta perselisihan yang juga merupakan menjadi penyebab kekalahan itu ditimpakan sebagai ujian dan cobaan. Maka penderitaan tersebut adalah hasil perbuatan tangan kita sendiri. (Lihat: Taisir Kalim ar-Rahman fi Tafsir Kalam al-Mannan, Abdurrahman as-Sa’di, 161-162)

#MerawatIngatan

#TadabburSirah