Memahami Makna Rabbul ‘Alamin

0

Memahami Makna Rabbul ‘Alamin
(Serial Kajian Kitab Fikih Asmaul Husna 04)
Oleh: Ust. Zaid Royani, S.Pd.I

Kita sering membaca dan mendapati kata Rabb, salah satunya pada kalimat Rabbul ‘Alamin (rabb semesta alam). Kata Rabb juga merupakan bagian dari asmaul husna. Bahkan termasuk salah satu dari ketiga nama pokok asmaul husna, sebagaimana telah dijelaskan pada pembahasan sebelumnya.

Sebenarnya apa makna dari nama Rabb, adakah rincian makna padanya, apasaja pengaruh nama ini bagi kehidupan manusia serta bagaimana keadaan manusia dalam memahami nama ini.

Pengertian Rabb

Secara bahasa rabb berasal dari kata rabba-yarubbu-rububiyyah atau rabba-yurabbi-tarbiyah. Inti kedua kata tersebut adalah: mentarbiyah, menciptakan, mengurusi secara bertahap hingga sempurna.

Sedangkan secara istilah rabb memiliki dua aspek makna; pertama, jika dimutlakkan tanpa idhafah (penyandaran) maka hanya untuk Allah. Kedua, adapun jika diidhafahkan (disandarkan) atau dalam bentuk nakirah maka boleh untuk selain Allah.

Contoh: Rabbul Manzil (pemilik rumah), Rabbul Ibil (pemilik unta), begitupla dalam Al Qur’an disebutkan, “amma ahadukuma fayasqi rabbahu khamra” (Adapun salah seorang dari kalian berdua akan memberi minuman kepada tuannya)

Karena yang menciptakan dan mengatur alam semesta ini hanyalah Allah maka dalam kajian akidah Islamiyah, Allah berhak untuk ditauhidkan dengan tauhid rububiyah. Yaitu meyakini bahwa hanya Allah yang mampu menciptakan, mengidupkan, mematikan memberi rezeki serta mengatur seluruh keadaan di alam semesta.

Rukun Rububiyyah dan Macamnya

Dikatakan rabb ketika memenuhi dua rukun, yaitu menciptakan yang mencakup menciptakan dan memiliki dan rukun kedua adalah mengurusi (tadbir).

Hal ini sebagaimana firman Allah:

ٱللَّهُ خَٰلِقُ كُلِّ شَيۡءٖۖ وَهُوَ عَلَىٰ كُلِّ شَيۡءٖ وَكِيلٞ

“Allah Pencipta segala sesuatu dan Dia Maha Pemelihara atas segala sesuatu.” (QS. Az-Zumar: 62)

Dengan demikian tidak ada yang berhak mendapat sifat rububiyyah kecuali Allah. Allah lah yang menciptakan seluruh manusia, hewan dan apa yang ada di alam semesta ini serta memelihara dan mengaturnya.

Demikian pula, rububiyyah Allah terbagi menjadi dua, yaitu; pertama, rububiyyah ‘amah. Yaitu Allah mengatur seluruh hambanya baik yang mukmin maupun yang kafir. Sedangkan kedua, rububiyyah khashah. Yaitu Allah pengurusan Allah secara khusus dan lebih terhadap orang beriman dan taat.

Buah Memahami Makna Rabb

Dengan memahami rukun rububiyyah maka seorang hamba akan faham bahwa Allah tidak hanya menciptakan makhluknya saja, namun setelah itu mengurusi segala kebutuhan mereka. Tidak ada satu hal pun yang lepas dari perhatian Allah.

Tentang sejauh mana Allah mengurusi makhluk-Nya, bisa kita renungkan seorang bayi yang baru lahir, ia bisa menangis, bisa menyusu ke ibunya hingga ia tumbuh dewasa. Begitupula dengan hewan, bagaimana bisa seekor hewan bisa menyayangi anaknya, mencari makan hingga berhubungan intim padahal hewan tidak memiliki akal. hal ini semua menunjukkan bahwa Allah lah yang mengatur mereka dengan memberi mereka insting.

Ketika seorang hamba menyakini tauhid rububiyyah maka ia akan mendapatkan ketenangan. Karena Allah menjadi tempat bersandar dalam segala urusan kita.

Selain itupula, buah dari tauhid rububiyyah adalah tatkala berdoa, seorang muslim akan berdoa dengan penuh keyakinan. Jangan sampai kita menyangka bahwa Allah hanya mengabulkan doa para raja, penguasa sedangkan rakyat biasa tidak didengar, tidak demikian. Yang benar adalah Allah mendengar setiap doa hamba-Nya.

Oleh sebab itu, banyak lafadz doa yang dibuka dengan menggunakan kata rabbana (wahai rabb kami), karena pengkabulan doa berkaitan dengan rububiyyah. Allah mengatur dan mengurus hidup manusia.

Bantahan Untuk Paham Atheis

Selain itu penting untuk mengetahui dalil-dalil tentang rububiyyah. Karena pada zaman ini pengingkaran terhadap keberadaan tuhan (atheisme) semakin banyak.

Pengingkaran terhadap adanya tuhan merupakan keyakinan baru, keyakinan ini baru muncul di awal abad 18 hingga 20 Masehi. Keyakinan ini menyebar pertama kali di Wilayah Eropa, disebabkan ketidak puasan masyarakat terhadap ajaran gereja yang melakukan diskriminasi. Hingga akhirnya mereka mulai membuat buku-buku tentang atheisme.

Padahal dalil aqliy (rasional) dan naqli (Al Qur’an) tentang adanya Allah sebagai Rabb manusia sangatlah banyak. Salah satu dalil yang simple untuk menunjukan adanya tuhan adalah firman Allah:

وَفِيٓ أَنفُسِكُمۡۚ أَفَلَا تُبۡصِرُونَ

“Dan (juga) pada dirimu sendiri. Maka apakah kamu tiada memperhatikan?” (QS. Adz-Dzariyat: 21)

Jika seorang hamba mencari bukti-bukti adanya tuhan yang mengatur kehidupan ini hanya dari apa yang ada pada anggota badannya saja maka hal itu sudah sangat cukup. Bagaimana fungsi jantung, darah, kulit dan anggota tubuh yang menakjubkan lainnya hal ini tidak mungkin terjadi dengan sendirinya.

Bahkan suatu ketika saat Imam Abu Hanifah berdebat dengan orang atheis, beliau membuat perumpamaan sederhana, jika ada orang yang berlayar dari satu pulau ke pulau lainnya tanpa ada yang nakodanya yang mengendalikannya apakah mungkin terjadi dengan sendirinya? Maka orang atheis itu menjawab, “tidak mungkin.” maka beliau menimpali, jika hal sederhana ini saja tidak mungkin terjadi bagaimana dengan apa yang ada di alam semesta ini jika tidak ada yang mengatur.

Kejadian lain pun ternah terjadi, dalam suatu vidio yang tersebar luas, ada seorang tukang cukur rambut yang tidak percaya adanya tuhan berkata kepada orang yang hendak ia cukur rambutnya. Tukang cukur itu berargument bahwa tuhan itu tidak ada karena banyak orang yang miskin, sakit dan terlantar dan kerusakan alam terjadi dimana-mana.

Beberapa saat kemudian orang tersebut keluar dari tempat tersebut dan melihat ada yang berrambut panjang, ia pun mengajak orang berambut panjang itu masuk kembali ke tempat cukur dan berkata, aku tidak percaya ada tukang cukur. Jika pun mereka ada niscaya tidak ada orang yang rambutnya panjang. Mendengar argumentasi temannya, tukang cukur itu ada, hanyasaja dia tidak mau datang kepadaku.

Maka, orang yang dicukur tadi pun tersenyum, begitupun dengan tuhan, ia ada hanya saja manusia yang tidak mau datang kepada-Nya hingga mereka dalam kondisi seperti ini.

Masih banyak lagi argumentasi yang dapat dijadikan dalil bahwa Allah sebagai Rabbul Alamin ada. 

Pemikiran liberal terhadap makna Rabb

Dalam sebuah acara di salah satu televisi nasional, ada seseorang yang bergelar profesor membuat statement yang mengandung unsur liberalisme, terkhusus dalam memahami makna Rabb. Profesor tersebut mengatakan, “Allah itu sangat toleran, Allah itu saat berkata kepada orang yang sudah beriman menyebut dirinya dengan Allah. Namun saat berkata kepada orang yang belum beriman menyebut dirinya tuhan.

Contohnya dalam firman Allah: “Yaa Ayyuhalladzina Aamanu Ittaqullaha Haqqatuqotih.” (Wahai orang orang beriman, bertakwalah kepada Allah dengan sebaik-baik takwa). (QS. ) Namun ketika berbicara kepada manusia yang belum tentu tuhannya Allah, maka berkata: “Yaa Ayyuhannas U’budu Rabbakum.” (Wahai sekalian manusia, beribadah kepada Rabb (Tuhan) kalian). (QS. An Nisa’: )

Dengan menyetir kedua ayat tersebut, beliau ingin menyimpulkan bahwa Allah mempersilahkan para penganut agama selain Islam untuk menyembah kepada tuhannya masing-masing. Artinya Allah tidak mempermasalahkan jika ada manusia yang menyembah kepada selain-Nya.

“Kalau kita kembali ke keyakinan kita, toh sumber agama itu satu dari Allah juga.” pungkas profesor tersebut. Ini menjadi indikasi ia terpapar paham leberalisme yang mengangap semua agama itu sama.

Pernyataan ini sangat berbahaya bagi orang awam yang belum memahami Islam dengan baik. Dan pemikiran ini buah dari pemikiran liberal yang perlu diluruskan. Pertama, profesor tersebut gagal paham dengan makna rabb. Rabb adalah salah satu nama Allah. Bukan berarti tuhan selain-Nya. Sehingga saat Allah menyebut dirinya nama rabb atau ar rahman, ar rahim dan nama lainnya maka pada dasarnya nama tersebut kembali kepada Allah.

Kedua, Ketika Allah menyebut dirinya dengan kata Rabb saat berbicara kepada manusia yang belum beriman kepada-Nya bermakna Allah ingin melakukan pendekatan dari sisi rububiyah, mengingatkan mereka dengan sifat rububiyah Allah, Ia lah yang telah menciptakan, memberi rezeki, menghidupkan dan mematikan mereka. Tujuannya agar mereka yang belum beriman kepada Allah tidak lupa kepada  Allah serta meninggalkan tuhan-tuhan yang mereka pertuhankan yang tidak bisa melakukan apapun.

Hal ini dikuatkan dengan pendapat ulama ahli tafsir, Imam Ibnu Jarir Ath-Thabari menukil perkataan Ibnu Abbas radhiyalahu ‘anhuma saat menjelaskan makna ayat Al Baqarah: 21:

وَحِّدُوْا رَبَّكُمْ

“Tauhidkanlah rabb (Allah) kalian.” (Ibnu Jarir Ath Thabari, Jami’ul Bayan Fii Ta’wil Qur’an: 363)

Dengan demikian, penjelasan sahabat Ibnu Abbas membantah dan meluruskan kesimpulan profesor terhadap ayat 21 surat Al Baqarah.