Memaknai Azab, Ujian dan Mushibah

0

Memaknai Azab, Ujian dan Mushibah

Oleh: Ust. Oemar Mita, Lc

Kita terkadang sulit membedakan antara adzab, ujian dan musibah.

Dalam bahasa hadits ujian disebutkan dengan kata Al Bala’, sedangkan dalam kamus-kamus Arab kata Al Bala’ mengandung tiga makna; nikmat, ibtila’ dan makruh (sesuatu yang dibenci). Maka kalau konteksnya ujian maka tidak seluruhnya menyedihkan terkadang ada pada hal yang menyenangkan.

Sebagai contoh adalah anak, istri dan harta benda yang kita miliki. Seluruhnya disebut sebagai ujian. Tidak akan kita katakan itu musibah.

Sedangkan kata musibah yang disebutkan tujuh dalam dalam Al Qur’an tidak ada makna yang ditunjukan kecuali satu yaitu sesuatu yang dibenci oleh jiwa, kehilangan, sakit dan kesedihan.

Dan musibah adalah identitas yang diberikan kepada orang beriman. Maka orang beriman itu ujiannya banyak. Diriwayatkan dari sahabat Sa’ad bin Abi Waqqash rahidyallahu ‘anhu bahwa ia bertanya kepada Rasulullah:

أيُّ الناس أشد بلاءً؟ قال: ((الأنبياء، ثم الأمْثَلُ فالأمثل، يُبتلَى الرجل على حسب دينه، فإن كان في دينه صلابة زِيدَ صلابةً، وإن كان في دينه رقَّةٌ خُفِّف عنه، ولا يزال البلاء بالعبد حتى يمشي على الأرض ما له خطيئة

Siapakah manusia yang paling berat ujiannya?” Beliau bersabda: “(Orang yang paling keras ujiannya adalah) para Nabi, kemudian yang semisalnya dan yang semisalnya, diuji seseorang sesuai dengan kadar agamanya, kalau kuat agamanya maka semakin keras ujiannya, kalau lemah agamanya maka diuji sesuai dengan kadar agamanya. Maka senantiasa seorang hamba diuji oleh Allah sehingga dia dibiarkan berjalan di atas permukaan bumi tanpa memiliki dosa.” (HR. At-Tirmidzy, Ibnu Majah, berkata Syeikh Al-Albany: Hasan Shahih)

Semakin tinggi iman seseorang semakin berat ujiannya. Namun pertolongan Allah lebih besar dari besarnya ujian yang ada. Maka dari itu, meski kehidupan orang beriman begitu besar ujiannya namun ia masih bisa tersenyum.

Perbedannya dengan orang yang tidak beriman, meski ujiannya tidak berat, namun ia tidak menapat pertolongan. Sehingga akan sesak dadanya ketika medapat ujian yang begitu kecil. Hanya karena masalah kecil ia bunuh diri dll,  sebagai contoh negara Jepang, negara yang paling besar angka kasus bunuh dirinya. Dibanding dengan negara Palestina, seharusnya negara Palestina lah yang jumlah kasus bunuh dirnya paling banyak karena disana sangat banyak kesulitan hidup. Karena mayoritas penduduk Palestina beriman sedangkan negara Jepang dan Korena tidak beriman.

Mengapa Allah memberikan kepada orang beriman ujian dan musiba sekaligus? Jawabannya karena Allah tidak ingin mereka terjanggikit penyakit wahn. Yaitu cinta dunia dan takut mati. Jatuh cinta dengan dunia adalah ra’su kullu khatiatin (Pokok segala keburukan). Dan menasehati orang yang sudah cinta dunia sangatlah sulit. Menasehati orang yang terlanjur cinta kepada seseorang saja sulit apalagi mencintai orang yang cinta dunia.

Sekali lagi alasan Allah menguji orang beriman agar kita tidak menjadikan dunia tempat tinggal namun tempat meninggal. Kalau manusia menjadikan dunia sebagai tempat tinggal maka dia akan takut mati.

Sedangkan azab adalah identitas yang Allah berikan kepada orang kafir dan orang berdosa dikarenakan kekafiran dan kedurhakaan yang mereka lakukan. Dan azab itu ada dua bentuknya, yaitu:

Pertama: Azab isti’shal. Yaitu azab yang membinasakan seluruh manusia yang ada di suatu tempat. Dan adzab ini telah tidak ada semenjak diutusnya Rasulullah shallahu’alaihi wasallam.

Kedua: azab yang disisakan. Yaitu azab yang tidak menimpa seluruh penduduk. Agar menjadi pelajaran bagi umat yang lain. Allah berfirman:

Dan sesungguhnya telah Kami berikan kepada Musa Al-Kitab (Taurat) sesudah Kami binasakan generasi-generasi yang terdahulu, untuk men- jadi pelita bagi manusia dan petunjuk dan rahmat, agar mereka ingat.” (QS. Al Qashash: 43)

Seperti kasus yang terjadi di Lombok-NTB dan Palu-Sulawesi Tengah. Apa yang menimpa penduduk tersebut bisa jadi azab atau musibah. Bahkan jika ditemukan dua korban yang berada di satu tempat, bisa jadi satunya mendapat musibah sedangkan satunya mendapat azab.

Bagi orang yang beriman, saat terjadinya tsunami ia sedang adzan atau shalat kemudian ia meninggal karena tsunami maka setiap rasa sakit yang ia alami menjadi penggugur dosa untuknya. Sedangkan bagi orang kafir dan pendosa itu adalah azab, ia diazab sebelum azab akhirat menantinya.

Begitulah cara mensikapi jika terjadi bencana di suatu tempat. Tidak boleh memgenaralisir bahwa seluruh penduduknya adalah mendapat azab.

Maka jika ada yang bertanya, mengapa orang shalih mendapat juga tertimpa bencana. Maka jawabannya ada pada firman Allah:

“Dan peliharalah dirimu dari pada siksaan yang tidak khusus menimpa orang-orang yang zalim saja di antara kamu. Dan ketahuilah bahwa Allah amat keras siksaan-Nya.” (QS. Al Anfal: 25)

Maka kita harus faham tentang pentingnya amar makruf nahi mungkar. Dan bahaya jika meninggalkannya. Aisyah radhiyallahu’anha pernah ditanya apa yang menyebabkan bumi gempa? Beliau menjawab:

إذا استباحوا الزنا ، وشربوا الخمر ، وضربوا بالمغاني ، وغار الله عز وجل في سمائه فقال للأرض : تزلزلي بهم . فإن تابوا ونزعوا ، وإلا هدمها عليهم . قال : قلت : يا أم المؤمنين ، أعذاب لهم ؟ قالت : بل موعظة ورحمة وبركة للمؤمنين ، ونكال وعذاب وسخط  على الكافرين

“Jika manusia melegalkan zina, meminum khamr dan candu terhadap musik, maka Allah merasa cemburu dan berkata kepada langit: gempalah, maka bumi gempa, jika manusia bertaubat maka terhentilah gempa itu namun jika tidak maka gempa itu akan menghancurkan mereka. Orang tersebut bertanya: apakah itu azab bagi mereka? Beliau menjawab: itu pelajaran, rahmat dan berkah bagi orang beriman dan azab, kemaraan Allah atas orang kafir.” (HR. Thabrani, hadits ini dhaif menurut Syaikh Al Albani)

Jadi kalau teguran Allah berupa gempa bumi tidak difahami olehmanusia dan tidak dijadikan sebagai moment untuk taubat nasional, dan masih asyik dengan anggapan fenomena alam, maka ini merupakan kebutaan terhadap ayat-ayat Allah.

Maka jangan sekali-kali aman dari makar Allah jika kita telah berbuat dosa dan kemaksiatan. Wallahu a’lam.