Membantu Agama Allah

0

Membantu Agama Allah

Oleh: Ust. Oemar Mita, Lc

Membantu agama Allah ‘azzawajalla itu salah satu amalan yang besar. Syaikh Utsaimin dalam kitab Riyadhus Shalihin berkata:

“Termasuk amalan yang besar di sisi Allah itu membantu agama Allah.”

Dakwah itu menjadi bagian amalan yang besar pahalanya di sisi Allah karena membantu agama Allah.

Kita pun mendapat tuntutan yang sama, yaitu untuk membantu agama Allah sesuai dengan kemampuan kita. Kalau tidak mampu untuk berdakwah, kita masih bisa membuka pintu yang lainnya, ketika satu pintu tertutup.

Kita masih bisa melakukan apa pun supaya dapat ikut serta dalam persoalan membantu agama Allah ini dan mendapat pahala yang besar.

Contoh saat ini adallah dakwah yang sungguh luar biasa dan dibutuhkan oleh umat. Namun, hari ini umat hanya memetik manisnya saja, tidak pernah menikmati prosesnya ketika membantuk dai. Rata-rata kantong-kantong umat itu hanya menikmati hasil saja.

Ada ustadz bagus, undang! Ada ustadz bagus, panggil! Tetapi, kita lupa menikmati prosesnya untuk membentuk dai. Padahal, dengan menikmati prosesnya, berpahala besar dan Masyallah itu berat dalam mizan kebaikan kita nantinya.

Contoh: hari ini, adik-adik kita yang sekolah di Timur Tengah, entah di Mekkah, Madinah, Sudan, Mesir, Yaman dan lainnya itu tidak sampai 7000 orang. Nanti mereka pulang dan mengampu 180 juta penduduk dengan berbagai macam latar belakang. Yang 7000 ini pun tidak semuanya rukun, ada yang sukanya bertengkar.

Bisa kita bayangkan, betapa beratnya perjalanan dakwah di masa mendatang. Yang mengkhawatirkan adalah anak-anak nantinya, kalau sampai tidak mendapatkan dai yang mengajarkan manhaj Nabi shallahu’alaihiwasallam dan para sahabat, nanti mereka belajar di mana?

Maka, salah satu pintu yang berpahala besar saat ini adalah ayo nikmati proses membentuk dan mencetak dai.

Caranya adalah dengan menyekolahkan. Kita mencari anak-anak yang kurang mampu, tapi pandai kemudian disekolahkan ke luar negeri.

Ada beberapa keluarga di Bekasi yang menyekolahkan salah satu adik kelas saja di jenjang S1 dan S2 di luar negeri.

Ketika saya mengetahui hal itu, timbul ghibtah (iri hati) saya kepada mereka, membayangkan betapa besar pahala mereka.

Klau membantu saudara kita satu hari sebanding dengan 30 hari I’tikaf, apalagi membantu salah satu anak dan hamba-Nya Allah untuk mempelajari agama-Nya supaya nanti menjadi dai. Itu pahalanya sebesar apa kalau ditimbang, iya kan?

Yang disekolahkan menghafal Al-Qur’an, yang membiayai mendapat pahala walaupun hanya hafal 3 surat terakhir. Yang disekolahkan menghafal hadits, yang membiayai mendapat pahala walaupun hanya hafal hadits ‘innamal a’malu bin niyat…” itu saja, dan tidak bisa melanjutkan.

Adik kelas saya yang sekolah di luar negeri, sudah pulang. Sekarang ia mengajar di pondok dan ada sekitar 1500 santri yang diajar. Bisa kita bayangkan sebesar apa pahala oang yang menyekolahkannya? Itu ibarat sungai yang bersambung dengan lautan.

Tahu tidak berapa biaya yang dibutuhkan untuk menyekolahkan anak kita ke sana?

Satu bulannya kira-kira dibutuhkan 1,5 sampai 2 juta. Kita kan mampu menanggung itu bareng-bareng 100 orang kalau memang uang kita sedikit. Atau 10 orang kalau uang kita banyak.

Kita sekolahkan mereka, nanti pulang-pulang jadi dai, kemudian ngajar di sini. Lalu, ia menjadi mercusuar ilmu bagi umat. Itu kan pahalanya tidak pernah berhenti, ikhwan.

Ternyata, mungkin kita tidak pernah berpikir sejauh itu. Sering kali yang kita pikirkan hanya puasa sunnah, shalat dhuha, dan lainnya. Itu bentu, dan bagus. Teruskan dan jangan pernah berhenti.

Tetapi, memikirkan agama Allah itu kewajiban kita juga, demi menjaga Islam dari berbagai macam kerusakan.

Mengapa kita tidak pernah berpikir sejauh itu? Kaerna Iblis tidak suka kita beramal dengan jalan pintas, akhirnya hanya disibukkan dengan amal itu-itu saja dan merasa dengan itu kita akan masuk surga.

Loh, kita ini apa tidak paham surga? Surga itu mahal. Nabi shallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

“Ketahuilah sesungguhnya barang dagangan Allah itu mahal, ketahuilah barang dagangan Allah itu adalah surga.” (HR. At Tirmidzi)

Kita khawatir kalau hanya bermodal pada zona nyaman dalam beribadah, jangan-jangan kita tidak mendapatkan pahala di sisi Allah ketika mizan kita tidak terlalu berat.

Misalkan kalau dakwah seperti itu merasa berat, mungkin kita bisa menjadi panitia kajian. Walaupun hanya merapihkan sandal, itu kalau diniatkan untuk Allah, pahalalnya begitu besar di sisi-Nya. Atau membantu pondok pesantren yang menjadi tempat kader dai. Atau bersedekah air karena sedekah air ini salah satu amalan yang besar pahalanya di sisi Allah.

Ada sebuah riwayat dari Sa’ad bin Ubadah, beliau bertanya kepada Rasululllah shallahu ’alaihi wasallam:

“Ya Rasulullah, ibu ku telah meninggal dunia, tapi beliau sangat suka berinfak, bolehkah saya meneruskan infaknya?”

“Sedekahlah atas nama ibumu.” Insyallah pahalalnya sampai.

“Apa sedekah paling utama yang saya berikan kepada orang tua, ya Rasulullah?”

“Alirkan Air.”

Inilah solusi yang lebih ringan ketika merasa berat untuk menyekolahkan calon dai. Membantu air ke pondok pesantren, safarinya sekali-kali datang ke pondok pesantren. Bersama keluarga mengenal kehidupan pesantren karena pesantren itu mendekatkan miniatur kehidupan dengan kehidupannya Rasul shallahu ‘alaihi wasallam.

Cari pondok-pondok yang baru, penuhi kekurangannya. Kalau kurang air kita bantu ngeborkan airnya. Biaya 60-70 juga, tapi masyallah pahalal terus mengalir.

Bisa kita bayangkan, kalau ada orang ngeborkan air sampai air keluar dan dipakai santri; dipakai wudhu lima kali, misalkan 500 santri, 500 wudhunya santri. Dipakai mandi, 500 mandinya santri. Sore harinya, kemudian malamnya juga berpahala.

Itukan pahala yang tak terbatas dan terkadang sering kita lupakan dalam kehidupan ini, karena kita hanya mengandalkan zona nyaman dan ibadah.

Berarti yang harus kita perbaiki ketika kita ingin kehidupan surga adalah bagaimana kita bisa beramall yang bermanfaat untuk orang lain.

Jadilah kita ini orang yang peka dengan keadaan. Misalnya, ada orang tua susah nyari sandal, ya kita bantu nyarikan. Dan lain sebagainya.

Bisa jadi amalan yang kita remehkan semacam itu karena manfaatnya kembali kepada orang lain, justru amalan itu menyelamatkan kita dari neraka hingga kemudian masuk surga. Karena kita tidak tahu amalan mana yang akan menyelamatkan kita dari neraka.

(Sumber: Buku Golden Ways to Jannah, Oemar Mita: 85)