Membunuh Karakter Islam Dengan Mitos

0

Membunuh Karakter Islam Dengan Mitos

 

Para orientalis menancapkan cara p andang dunia bahwa Barat adalah masyarakat yang dinamis. kompleks, dan selalu berubah. Mereka juga merekayasa  gambar tentang Islam sebagai masyarakat yang statis, barbar, misoginik, tidak berperadaban, dan lalim. Para orientalis membangun citra tentang Islam sampai pada titik menjadi satu “common sense”, diyakini sebagai sebuah kebenaran yang tidak perIu lagi verifikasi. Mereka menciptakan mitos tentang Islam dan Muslim.

Mitos ini berarti sesuatu yang dianggap sebagai fakta sejarah, meski sebenarnya palsu dan meragukan. Diantara mitos tersebut;

Pertama: Mitos: Islam Menindas Perempuan.

Salah seorang penulis Barat menulis sebuah pengakuan, “Tldak ada obyek yang berhubungan dengan Islam yang paling panting dalam pikiran orang-orang Eropa dibanding kondisi perempuan dalam Islam.”

Mereka berhasil membuat umat Islam tidak percaya terhadap  syari’at. Terutama syari’at hijab dan ta’addud (poligami). lnilah mitos yang dipropagandakan oleh lnggris selama menjajah Mesir.

Feminis lnggris, Evelyn Baring, atau yang lebih dikenal dengan sebutan Lord Cromer. Saat Inggris menginvasi Mesir pada tahun 1 882, dipercaya memimpin misi penjajahan ini. Tidak butuh waktu lama bagi Cromer untuk mewujudkan mimpinya. Ia berhasi! membuat perempuan Mesir melepaskan hijabnya sebagat sarana untuk memodernisasi msyarakat Islam.

Pada tahun 1920-an, feminis Mesir Huda Sya‘rawi mengunjungi Roma, untuk membuktikan “kebebasannya” sebagai salah satu perempuan pertama yang melepaskan hijabnya sebagai bentuk protes atas “penindasan” Islam.

Hal yang sama menjadi mitos yang diulang-ulang oleh Amerika saat menjajah Afghanistan, lrak. Suriah dan selainnya.

Josh G. Bush. “Karena kemenangan militer yang kita dapatkan di Afghanistan, perempuan tidak lagi dipenjara di rumah mereka. Mereka bisa mendengarkan musik dan mengajari anak-anak perempuan mereka tanpa ada rasa takut akan hukuman” [Shanon Smith, “Using Women’s Rights to Sell Washington’s War,’ lnternatonal Socialist Review 21. Januari-Februari 2002]

Sejarah Barat sendiri tidak lepas dari penindasan terhadap perempuan. Dalam ajaran Kristen, rasa sakit yang dialami perempuan saat melahirkan dianggap sebagai hukuman atas ketidaktaatan Hawa kepada perintah Tuhan. Tiga abad yang lalu, di Eropa dan Amerika, perempuan yang dituduh sebagai tukang sihir dibakar. Sepanjang abad ke 19, perempuan di Barat sama sekali tidak memiliki hak pilih. Perlu ratusan tahun perjuangan untuk kemudian hak mereka diakui.

Di Eropa, dalam sebuah Iaporan yang dirilis oleh European Union Agency for Fundamental Rights (FRA)pada tahun 2012, kekerasan terhadap perempuan mencapai angka yang sangat tinggi: Satu dari tiga perempuan Eropa melaporkan pernah mengalami kekerasan, baik secara flsik maupun pelecehan seksual, sejak usia 15 tahun.

Anehnya, di tiga negara yang selama ini dipuji atas kesetaraan gender, jumlah perempuan yang mengalami kekerasan sejak usia 15 tahun justru sangat tinggi: 52% perempuan di Denmark, 47% di Finlandia 47%, dan 46% di Swedia mengatakan bahwa mereka pernah Mengalami kekerasan fisik atau kekerasan seksual.

 

Kedua: Mitos: Islam Agama Kekerasan dan Terbelakang

Mitos ini memiliki sejarah panjang, yang bermula sejak perang Salib. Disebarkan dengan mengesampingkan, dan menyembunyikan, sejarah panjang kekerasan dalam tradisi Kristen.

Pada awal Perang Salib, Islam diasosiasikan dengan kekerasan, satu tema yang kedepannya diulang-ulang selama berabad-abad. Serangan utama dari narasi ini adalah bahwa siapapun yang tidak mau ikut Muhammad akan diperlakukan dengan kekerasan atau dibujuk dengan daya tarik seksual.

Memang benar, pada awalnya Islam melakukan ekspansi melalui perang. Dua dekade setelah wafatnya Rasulullah SAW, pasukan Islam berhasil menaklukkan Romawi dan Persia, dua imperium yang sebelumnya terus menerus berperang. Dengan kata lain, perang adalah fakta kehidupan di waktu itu.

Bahkan, beberapa wilayah justru dengan lapang dada menyambut pasukan Islam. Kristen sendiri menancapkan dominasinya melalui pedang dan penaklukan. Bermula di wilayah Romawi hingga meluaskan penaklukannya ke wilayah Eropa, Armenia, Arab, Afrika Timur, dan Asia Tengah.Ketika pasukan Muslim menguasai Eropa dari abad ketujuh hingga kesebelas, banyak penduduk non-Muslim yang masuk Islam, termasuk orang Kristen dan Yahudi. Orang-orang Kristen non- Ortodoks yang dianiaya oleh Gereja Yunani menyambut pemerintahan Muslim.

Perang Salib yang dilakukan oleh pasukan Kristen juga menjadi babak lain kekerasan dalam sejarah Kristen. Dalam Perang Salib pertama pada tahun 1099, mereka membunuh hampir seluruh penduduk Yerusalem, dari orang dewasa, wanita, hingga anak-anak. Sasaran mereka bukan hanya Muslim, tapi juga Yahudi.

Mereka membakar sinagog dan membakar seluruh penghuni di dalamnya. Dan ini bukan anomali. Saat pasukan Salib menyerang Konstantinopel pada tahun 1203;

“Selama tiga hari tiga malam pasukan Salib membunuh, memperkosa, merampok, atau menghancurkan setiap orang dan segala sesuatu yang berada di tangan mereka. Ribuan orang dibantai; lebih banyak lagi yang disiksa, dicincang, dan dihancurkan rumahnya.” [John Feffer, Crusade 2.0: The West’s Resurgent War on Islam (SanFrancisco: City Lights Books, 2012), 36]

 

Ketiga: Mitos: Islam Tldak Mampu Mengelola Negara

Mitos ini mulai dibangun oleh orientalis dengan gagasan tentang ”Oriental despotism”. Montesquieu berpendapat bahwa iklim panas di daerah Timur membuat mereka gampang tunduk pada tirani.

Mereka membuat narasi bahwa kesewenang-wenangan adalah inti dari peradaban Islam. Dan teori modernisasi mereka mencoba dibuat ilmiah dengan gagasan bahwa masyarakat ”tradisional” identik dengan sistem kekuasaan hirarki. Karenanya, menurut mereka, perubahan tidak mungkin dilakukan dari dalam. Perlu intervensi Barat untuk memodernisasi dan mendemokratisasi Timur. Argumen ini digunakan, dalam berbagai bentuk dan samarannya, oleh semua kekuatan penjajah sejak saat itu. Pada faktanya, Umat Islam berhasil menguasai dan mengatur dunia dengan adil, selama ribuan tahun. Masa kenabian hingga khulafaurrasyidin, selama 4O tahun Islam menata dunia Arab. lmperium Byzantium-Romawi dan lmperium Persia-Majusi takluk di bawah umat Islam.

Kekhilafahan Bani Umayyah menguasai dunia selama kurang lebih 41 tahun. Sedangkan kekhilafahan Bani Abbasiyah mengatur dunia selama 524 tahun.

Turki Utsmaniyah lebih dari 600 tahun, Khilafah Turki Utsmaniyah menguasai dunia: Asia, Afrika, dan Eropa dikendalikan dengan adil, makmur dan sejahtera. Dan hampir selama 800 tahun, Khilafah Bani Umayyah di Andalus (Spanyol) mengendalikan dunia Eropa.

(Ust. Mas’ud Izzul Mujahid Majalah An Najah 158)