Mengagungkan Syiar Allah

0

Mengagungkan Syiar Allah

Oleh: Ust. Ibnu Abdil Bari

Allah Ta’ala berfirman,

ذَٰلِكَۖ وَمَن يُعَظِّمۡ شَعَٰئِرَ ٱللَّهِ فَإِنَّهَا مِن تَقۡوَى ٱلۡقُلُوبِ

“Demikianlah (perintah Allah). Dan barangsiapa mengagungkan syiar-syiar Allah, maka sesungguhnya hal itu timbul dari ketakwaan hati.” (QS. Al-Hajj: 32)

Ayat di atas sejatinya berbicara tentang hadyu dalam rangkaian ibadah haji. Makna ayat di atas, sesiapa yang mengagungkan syiar agama Allah berupa hewan hadyu yang terbaik, gemuk dan bernilai tinggi (mahal), maka ia-nya timbul dari hati yang bertakwa.

Tapi, sebagaimana dijelaskan oleh para mufassir, syiar-syiar Allah ialah perintah-perintah-Nya. Artinya seluruh perintah Allah haruslah diagungkan karena ini biasa dilakukan oleh pemilik hati yang bertakwa.

Di antara perintah Allah yang harus diagungkan oleh seorang hamba ialah shalat; waktu bermunajat kepada-Nya.

Mari kita simak tadabbur amali yang dilakukan oleh seorang pemuda yang menghayati benar surat Al-Hajj ayat 32 di atas.

Kisah pemuda ini diceritakan oleh DR. Ja’far.

DR. Dja’far berkata menghikayatkan kisah tentang tadabbur. Beliau berkata, “Suatu hari aku berkunjung ke Markaz Islami di Kinda. Aku melihat seorang muallaf, pemuda Muslim yang baru saja masuk Islam. Tapi ia tidak pernah luput menghadiri shalat fardhu di Markaz.

Ia datang dengan mengendarai sepeda motornya dari rumahnya yang jauh. Waktu yang ditempuh untuk sampai Markaz sekira setengah jam.

Para jamaah di Markaz yang merasa kasihan pun menasehati agar si pemuda tidak memberatkan dirinya dengan menghadiri semua shalat fardhu di Markaz (Shubuh, Zhuhur, Ashar, Maghrib dan Isya’).

Mereka (para jamaah) mengutarakan kepadaku, lanjut DR. Ja’far, bahwa mereka tidak bisa meyakinkan sang pemuda untuk tidak memberatkan dirinya sendiri. Mereka pun memintaku untuk menasehatinya.

DR. Ja’far menuturkan lagi, “Ketika aku berdiskusi dengan pemuda itu, ia menjawab, “Bukankah Allah telah berfirman,

ذَٰلِكَۖ وَمَن يُعَظِّمۡ شَعَٰئِرَ ٱللَّهِ فَإِنَّهَا مِن تَقۡوَى ٱلۡقُلُوبِ

“Demikianlah (perintah Allah). Dan barangsiapa mengagungkan syiar-syiar Allah, maka sesungguhnya hal itu timbul dari ketakwaan hati.” (QS. Al-Hajj: 32)

“Benar.”

“Aku ingin menjadi orang yang mengagungkan syiar Allah; agar Allah meneguhkan ketakwaan dalam hatiku.”

“Demi Allah” lanjut DR. Ja’far, “aku tidak bisa berkata-kata setelah aku mendengar ayat yang dibacanya. Ia telah menyadarkanku tentang makna ayat ini, yang sebelumnya belum pernah aku sadari.

Tidak pernah dalam sehari terdetik dalam benakku bahwa aku pergi ke Masjid sehari lima kali untuk mengagungkan salah satu syiar Allah yang agung; agar Dia meneguhkan ketakwaan dalam hatiku.”

Ketika aku mendengar pernyataannya, aku memohon kepada Allah agar menganugerahinya keteguhan. Dan aku meminta kepada segenap jamaah untuk membiarkan sang pemuda dengan keinginannya yang agung, dan mendoakan kebaikan untuknya. Kisah selesai sampai di sini.

MasyaAllah! Inilah buah dari tadabbur. Satu ayat saja bisa menginspirasi, memperbaiki perilaku, mengubah mindset, dan menggerakkan. Bahkan bisa mengubah perjalanan hidup seorang hamba.

Kisah di atas memberi pelajaran penting, yaitu pemahaman seseorang terhadap ayat Al-Qur’an bertingkat-tingkat, sesuai dengan tadabbur yang ia lakukan. Karena bisa jadi ada orang yang masih belia tetapi ia diberi pemahaman yang lebih dari orang-orang yang lebih besar darinya, baik dalam usia, pengalaman dan juga ilmu.

Pemahaman terhadap ayat Al-Qur’an juga seringkali berbanding dengan seberapa besar intensitas seseorang dalam berinteraksi dengan Al-Qur’an, dan menjadikan Al-Qur’an sebagai karibnya. Semakin dekat, maka Al-Qur’an akan memberikan ‘rahasia-rahasia’-nya, yang tidak ia berikan kepada yang lainnya. Wallahu a’lam bish shawab.

(Sumber: liyadabbaru)