Mengenang dan Mencintai Sang Nabi

0

Mengenang dan Mencintai Sang Nabi
(Serial Tadabbur Sirah 6)
Oleh: Ust. Fajar Jaganegara, S.Pd.I

Kehilangan sosok yang dicintai adalah sakit hati paling perih. Jiwa manusia Allah jadikan begitu rapuh jika sudah berurusan tentang cinta dan perasaan, yang dengan keduanya manusia dengan mudah mengorbankan apa yang dimilikinya demi kebahagian sosok yang dicintai.

Cinta sepasang kekasih memang selalu mendebarkan. Tapi pernahkah kita berfikir bahwa ada kisah yang lebih hebat yang mampu merekatkan jiwa tapi bukan dengan dorongan asmara, melainkan sokongan iman sebagai landasannya.

Senin 12 Rabiul Awwal tahun 11 Hijriah, sebagaimana yang disebutkan oleh Syaikh Syafiyurrahman al-Mubarakfuri dalam kitabnya, hari terakhir sebelum kota Madinah dibanjiri air mata kesedihan. Satu hari sebelum awan gelap kepiluan menyelimuti kota Madinah karena wafatnya Sang Nabi tercinta.

Tentang episode ini Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu meyebutkan, ketika shalat Subuh di hari itu, kaum muslimin diimami oleh Abu Bakar radhiyallahu ‘anhu sebagaimana perintah Nabi, karena Nabi sendiri sudah beberapa hari tidak keluar dari rumahnya karena sakit.

Subuh itu Nabi menyingkap tabir kamar ‘Aisyah dan tersenyum melihat para sahabat yang sedang berbaris rapi dalam shaf shalat mereka. Para sahabat begitu gembira dan berharap Nabi akan shalat bersama mereka. Namun Nabi memberi isyarat untuk tetap melanjutkan shalat tanpa kehadiran beliau. Itulah senyum terakhir Sang Nabi yang akan mereka lihat.

Hari itu adalah hari yang Allah janjikan untuk Nabi-Nya. Kematian yang dijanjikan kepada setiap manusia, datang mengetuk pintu rumah Sang Nabi mulia. Tidak ada yang akan luput dari kematian, siapa pun dia, bahkan Nabi shalallahu ‘alaihi wa salam pun merasakannya.

Allah berfirman:

إِنَّكَ مَيِّتٌ وَإِنَّهُم مَّيِّتُونَ

“Sesungguhnya kamu akan mati dan sesungguhnya mereka akan mati (pula).” (QS. Az-Zumar: 30)

Detik-detik wafatnya Nabi shalallahu ‘alahi wa salam

Imam al-Bukhari dan Imam Muslim menyebutkan riwayat detik-detik sebelum Rasulullah menemui Allah. Di pangkuan Ibunda ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha beliau menghadapi sakaratul maut dengan begitu tenang, begitu damai.

Tangan Rasulullah terangkat sesaat sebelum maut datang menjemput, beliau berkata, “Ila ar- Rafiq al-A’la”, menuju kekasih yang Tertinggi (Allah). “Laa Ilaha illallahu. Tidak ada Tuhan selain Allah. Sungguh kematian itu memang ada sakaratnya.”(HR. al-Bukhari dan Muslim)

Tangan Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa salam yang mulanya terangkat menunjuk langit perlahan mulai melemah lalu jatuh. Ruh suci Sang Nabi telah pergi hari itu menuju Allah dengan penuh kebahagiaan dan meninggalkan kesedihan yang besar bagi kaum muslimin yang ditinggalkan.

12 Rabiul Awal, hari senin, bakda tergelincirnya Matahari, Nabi shalallahu ‘alaihi wa salam meninggalkan dunia yang fana ini. Anas bin Malik berkomentar tentang memori pilu tersebut dengan ungkapan:

“Aku tidak pernah melihat hari yang lebih baik dan lebih terang dari hari saat Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa salam masuk ke tempat kami (Madinah), dan aku tidak melihat hari yang lebih buruk dan lebih muram selain hari di mana Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa salam diwafatkan.” (HR. Ahmad dan Timidzi)

Meninggalnya Nabi shalallahu ‘alaihi wa salam adalah musibah besar bagi kaum muslimin. mendadak kota Madinah menjadi mendung meski panas mentari terik membakar, Madinah dipenuhi banjir air mata, wanita-wanita menangis dengan tangisan pilu.

Para sahabat tidak kalah hebat tangisan mereka, hati-hati terluka perih, jiwa-jiwa meronta pedih. Sang Nabi yang mereka cintai melebihi dari cinta mereka terhadap diri mereka sendiri telah pergi selama-lamanya.

Madinah berduka, para Sahabat terluka.

Ibnu Rajab berkata tentang peristiwa ini, “Ketika Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa salam wafat, kaum muslimin goncang. Di antara mereka ada yang terkejut, kemudian menjadi bingung. Di antara mereka ada yang terduduk hingga tidak mampu berdiri. Di antara mereka ada yang terbungkam mulutnya tanpa bisa berkata-kata sama sekali. Di antara mereka bahkan ada yang mengingkari kematian Sang Nabi.” (Muhammad Ali ash-Shalabi, Sirah Nabawiyah, 1124)

Adalah Umar bin Khattab radhiyallahu ‘anhu termasuk sahabat yang amat terpukul akan kehilangan Sang Nabi. Ia tidak percaya bahwa Nabi meninggalkan mereka begitu cepat. Sampai di mana Umar radhiyallahu anhu mengancam dengan pedangnya, bahwa siapa yang berani mengatakan Rasulullah telah meninggal maka akan dipenggal.

Perihnya kehilangan itu tergambar dalam kalimat Umar radhiyallahu ‘anhu, “Beliau tidak mati, tetapi pergi kepada Rabbnya sebagaimana yang dilakukan Musa bin Imran. Dia telah pergi selama 40 hari dan kembali kepada kaumnya. Demi Allah, Rasulullah akan kembali seperti Musa kembali. Maka siapa yang beranggapan Rasulullah telah mati, maka hendaknya tangan dan kaki mereka dipotong.” (Sirah Ibnu Hiysam, hlm.668)

Umar radhiyallahu ‘anhu kehilangan sikap warasnya. Kesedihan membebat hati dan pikirannya. Umar tetap seperti itu sampai Abu Bakar datang, memasuki bilik ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha untuk melihat Nabi shalallahu ‘alaihi wa salam  yang sudah tertutup kafan, membukanya sejenak untuk memandang wajah Sang Nabi sekali lagi, air matanya jatuh, kesedihan terpahat jelas di kerut wajah tua Abu Bakar radhiyallahu ‘anhu.

Kemudian Abu Bakar keluar menemui kaum muslimin, Umar tetap dalam keadaan demikian, mengacungkan pedang dan mengancam. “Duduk dan diamlah, Umar!” kalimat ini diucapkan beberapa kali, tapi Umar tidak peduli. Kemudian Abu Bakar berbicara di hadapan manusia mengingatkan mereka tentang hari berat itu.


“Wahai manusia, Barangsiapa yang menyembah Muhammad maka sungguh Muhammad telah mati. Dan barangsiapa yang menyembah Allah semata, sungguh Allah adalah Dzat yang Maha Hidup, tidak pernah mati.” Kemudian Abu Bakar membacakan surat Ali Imran ayat 144:

وَمَا مُحَمَّدٌ إِلَّا رَسُول قَدۡ خَلَتۡ مِن قَبۡلِهِ ٱلرُّسُلُۚ أَفَإِيْن مَّاتَ أَوۡ قُتِلَ ٱنقَلَبۡتُمۡ عَلَىٰٓ أَعۡقَٰبِكُمۡۚ وَمَن يَنقَلِبۡ عَلَىٰ عَقِبَيۡهِ فَلَن يَضُرَّ ٱللَّهَ شَيۡ‍ٔاۗ وَسَيَجۡزِي ٱللَّهُ ٱلشَّٰكِرِين

“Muhammad itu tidak lain hanyalah seorang rasul, sungguh telah berlalu sebelumnya beberapa orang rasul. Apakah Jika dia wafat atau dibunuh kamu berbalik ke belakang (murtad)? Barangsiapa yang berbalik ke belakang, maka ia tidak dapat mendatangkan mudharat kepada Allah sedikitpun, dan Allah akan memberi balasan kepada orang-orang yang bersyukur.” (QS. Ali Imran: 144)

Seketika semua orang tersentak. Tersadar dengan ayat yang Abu Bakar bacakan. Seakan-akan ayat ini baru pertama kali mereka dengarkan.

Umar pun kaget dan sadar, “Demi Allah seakan-akan orang-orang belum pernah mengetahui bahwa Allah pernah menurunkan ayat tersebut sampai Abu Bakar membacakannya. Aku tersungkur ke tanah, kakiku kebas kehilangan pijakan. Dan detik itu aku sadar bahwa Nabi telah meninggalkan kami.” (Sirah Ibnu Hisyam, 668)

Kehilangan Nabi yang begitu dicintai adalah patah hati dan luka yang tidak akan pernah dilupakan. Ingatan hari itu bergelayut di setiap kepala para sahabat sebagai ingatan yang selalu mendatangkan kesedihan ketika mengingatnya. Selalu menumpahkan air mata ketika mengenangnya.

Membuktikan Cinta Kepada Nabi

Ketika setiap kita ditanya dengan pertanyaan, “Siapa cinta Nabi?”, “Siapa rindu Nabi?”. Setiap kita akan mengatakan kami cinta Nabi, kami rindu Nabi. Dan memang demikianlah seharusnya seorang muslim memberikan loyalitas mereka kepada Nabinya.

Karena tidak akan sempurna iman seseorang sampai Rasulullah shalallahu ‘alaihi salam dijadikan sosok yang paling dicintai melebihi sosok manapun di dunia ini.

عَنْ أَنَسٍ قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: لاَ يُؤْمِنُ عَبْدٌ، وَفِي حَدِيثِ عَبْدِ الْوَارِثِ: الرَّجُلُ، حَتَّى أَكُونَ أَحَبَّ إِلَيْهِ مِنْ أَهْلِهِ وَمَالِهِ وَالنَّاسِ أَجْمَعِينَ

Dari Anas bin Malik Radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa salam bersabda, “Tidak beriman (sempurna imannya) salah seorang di antara kalian, sampai aku lebih dia cintai dari keluarganya, hartanya, dan seluruh manusia.” (HR. Muslim)

Hadist ini menjelaskan bahwa mencintai Nabi adalah bagian dari keimanan seorang muslim, maka tidaklah beriman seseorang yang tidak menjadikan Nabi sosok yang paling ia cintai, bahkan dibandingka dirinya sendiri.

Umar bin khattab radhiyallahu ‘anhu suatu ketika pernah berkata, “Ya Rasulullah sesungguhnya engkau lebih aku cintai dari segala sesuatu kecuali diriku sendiri.” Kemudian Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa salam bersabda, “Tidak, demi Dzat yang jiwaku berada di Tangan-Nya, (Imanmu belum sempurna) hingga aku lebih engkau cintai daripada dirimu sendiri.” Kemudian Umar berkata,  “Demi Allah, sekarang engkau lebih aku cintai dari diriku  sendiri ya Rasulullah.” (HR. al-Bukhari)

Adalah cinta yang dusta jika mereka yang mengaku mencintai tapi tidak mengenal sosok yang dicintai, tidak membela yang dicintai dan tidak mengikuti yang dicintai.

Maka ukuran cinta kita kepada Nabi shalallahu ‘alaihi wa salam adalah diukur dari sejauh apa kita mengenal Nabi shalallahu ‘alaihi salam, sejauh apa kita menteladani sunnah-sunnahnya dan sejauh apa kita membela ketika ada yang melecehkan kehormatannya.

Ada tiga hal yang harus dilakukan untuk membuktikan cinta kita kepada Nabi shalallahu ‘alaihi wa salam:

Pertama, membaca dan mempelajari sirahnya serta mengambil pelajaran dari perjalanan hidup Nabi shalallahu ‘alaihi wa salam. Karena bagaimana mungkin seseorang mengaku mencintai Nabi tapi tidak mengenal sosoknya!?

Mulailah membaca kitab-kitab sirah Nabi yang jumlahnya sangat banyak sekali. Bisa dimulai dari kitab-kitab sirah yang populer seperti ar-Rahiq al-Mahktum tulisan Syaikh Syafiyurrahman al-Mubarakfuri dan Sirah Nabawiyah tulisan Syaikh ‘Ali ash-Shalabi atau Syamail an-Nabi karya Imam at-Tirmidzi, atau juga bisa langsung merujuk kitab induk seperti Sirah Ibnu Hisyam.

Kedua, mempelajari sunnah-sunnahnya dan mengamalkannya. Karena dengan mengikuti sunnah dan ajaran Nabi adalah wasilah mendapatkan cinta Allah Ta’ala sekaligus bukti kongkrit cinta itu sendiri. Sebagaimana firman Allah Ta’ala:

“Katakanlah: “Jika kamu (benar-benar) mencintai Allah, ikutilah aku” (QS. Ali Imran :31)

Imam Ibnu Katsir rahimahullah berkomentar tentang ayat ini, bahwa siapa saja yang mengaku cinta kepada Allah akan tetapi tidak sesuai dengan cara yang diajarkan Nabi shalallahu ‘alaihi wa salam, maka sesungguhnya dia berdusta. Sampai ia mengikuti syariat yang Nabi bawa baik dalam perkataan, perbuatan, dan seluruh ajarannya. (Ibnu Katsir, Tafsir al-Quran al-‘Adzim, 2/32)

Ketiga, membela kehormatan Nabi shalallahu ‘alaihi wa salam dari yang merendahkan dan melecehkan. Karena pembelaan adalah bukti cinta, di mana orang yang mencintai tidak akan rela jika sosok yang ia cintai direndahkan dan dihinakan.

Salah satu bentuk kongrit pembelaan terhadap Nabi adalah dengan mengagungkan ajaran dan sunnah-sunnahnya. Maka sebagai umatnya, kita wajib menjadi brand ambassador yang mengkampanyekan ajaran dan sunnah-sunnha Nabi di tengah manusia.

Adapun pembelaan terkait mereka yang menghina Nabi shalallau ‘alaihi wa salam dalam bentuk verbal dan penghinaan lainnya. Maka para ulama sepakat sebagaimana yang dijelaskan oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah dalam kitabnya Sharimul Maslul ‘Ala Syatimir Rasul, “Bahwa siapa yang mencela Nabi shalallahu ‘alaihi wa salam maka dia telah kafir dan wajib dibunuh.” Imam Ibnu Munzir juga menyebutkan bahwa telah menjadi konsensus (Ijma’) bahwa siapa yang mencela dan menghina Nabi maka ia wajib dibunuh. (Ibnu Taimiyah, Ash-Shorim al-Maslul ‘ala Syatim ar-Rasul, hlm.3)

Maka ekspresi kemarahan atas segala bentuk pelecehan terhadap pribadi Nabi shalallahu ‘alaihi wa salam adalah bagian dari kecintaan dan loyalitas kepada beliau dan bagian dari keimanan seorang muslim kepada Nabi shalallahu ‘alaihi wa salam.

Maka ini adalah hal prinsip yang menjadi garis merah batas toleransi terhadap urusan yang menyangkut pribadi Nabi shalallahu ‘alaihi wa salam.

Semoga tulisan serial tadabbur kali ini bisa sedikit mengenang sosok Nabi shalallahu ‘alaihi wa salam pada kesempatan bulan maulid Nabi, sekaligus memahami sikap yang perlu diambil terkait bagaimana seharusnya seorang mukmin terhadap Nabinya.

Tentunya bukan hanya bulan ini kita mengenang Nabi Muhammad shalallahu ‘alaihi wa salam. Akan tetapi kewajiban ittiba’ akan petunjuk dan sunnah-sunnah berlaku atas kita sepanjang usia. Semoga Alllah karuniakan keistiqomahan dalam meniti jalan juang Nabi beserta sahabatnya. Wallahu a’lam.