Menghias Rumah Dengan Ibadah

0

Menghias Rumah Dengan Ibadah
Oleh: Ust. Marzuki Ibnu Syarqi

Dalam Islam rumah itu memiliki kedudukan yang sangat penting, sehingga syariat pun menetapkan aturan berkenaan dengan fungsi, hukum, adab-adabnya. Rumah adalah tempat keluarga muslim memperoleh ketenangan, perlindungan. Dari rumah pula terbentuk masyarakat muslim yang lebih luas. Jika rumah muslimin sudah terpola dengan aturan dan syariat Islam, maka akan terbentuklah suatu masyarakat yang Islami. Sebaliknya jika rumah umat muslim justru jauh dari suasana islami, atau bahkan sebaliknya terpola oleh adat dan kebiasaan yang berlawanan dengan syariat Islam, maka cita-cinta menjadi masyarakat islami kiranya hanya menjadi angan-angan.

Ibadah Sebagai Pola 

Ibadah adalah misi hidup seorang muslim. Karena itu seluruh agenda hidupnya mengarah pada satu titik ini, termasuk dalam mengatur rumah tinggalnya. Mengatur rumah agar menjadi tempat yang mendukung dan nyaman untuk beribadah dan menyamankan rumah dengan ibadah. Sebab sakinah berasal dari Allah, maka tidak cara meraihnya kecuali mendekat kepada Allah. Mawaddah dari Allah, maka tiada cara paling mudah kecuali dengan ibadah. Rahmah adalah dari Allah maka tiada cara lain meraihnya kecuali dengan ibadah. Mengkodisikan rumah yang agar menjadi tempat ibadah kepada Allah. Menjadi tempat untuk membaca Al-Qur’an, menkaji hadits Nabi, membaca sejarah Nabi dan orang-orang shalih, mendidik generasi islami…

Ragam Ibadah di Rumah 

Ibadah dalam rumah mempunyai manfaat yang sangat luar biasa; Ia lebih dekat dengan keikhlasan dan terhindar dari riya, sebab berlimpahnya berkah, menjadi bahan pembelajaran bagi anak-anak dan menjadi benteng perlindungan dari kejahatan. Ada beragam bentuk ibadah yang bisa atau bahkan dianjurkan untuk dilakukan di rumah;

Dzikir dan Doa

Dzikir secara umum adalah penentram jiwa. Sehingga para penghuninya menjadi tentram dan menentramkan. Dzikir dan doa itu bisa berupa ucapan salam, atau doa ketika hendak masuk dan keluar rumah, ketika akan dan setelah makan, ketika akan masuk dan keluar kamar mandi, ketika hendak dan setelah bagun tidur, ketika bercermin, ketika hendak memakai maupun melepas pakaian. Semua mempunyai rahasia dan faedah yang sungguh luar biasa.

Mengenai ucapan salah, yang mengandung pujian kepada Allah, doa keselamatan dan kesejahteraan, rahmat dan berkah. Karena pentingnya persoalan ini sampai Allah menyebutkan dalam firmanNya,

“Maka apabila kamu memasuki (suatu rumah dari) rumah- rumah (ini) hendaklah kamu memberi salam kepada (penghuninya) kepada dirimu sendiri, salam yang ditetapkan dari sisi Allah, yang diberi berkat lagi baik.” (QS. An Nur: 61)

Suatu ketika Rasulullah menasihati pembantunya, Anas bin Malik, “Wahai anakku, apabila engkau masuk ke keluargamu (rumahmu) maka ucapkanlah salam, niscaya akan turun keberkahan bagimu dan keluargamu.” (HR. At Tirmidzi)

Jabir bin Abdullah menceritakan bahwa Rasulullah n bersabda, “Apabila seseorang masuk ke dalam rumahnya dengan menyebut nama Allah ketika ia masuk dan ketika makan, maka setan berkata, “Tidak ada tempat bagi kalian untuk bermalam dan makan malam disini”. Namun jika ia masuk ke dalam rumah tanpa menyebut nama Allah ketika masuk, maka setan berkata, “Ada tempat bermalam buat kalian” dan jika lupa menyebut nama Allah juga ketika makan, maka ia berkata, “Ada tempat bermalam dan makan malam buat kalian.” (HR. Muslim)

Abu Umamah meriwayatkan bahwa Rasulullah n bersabda, “Tiga golongan manusia yang kesemuanya mendapatkan jaminan dari Allah, apabila ia hidup maka akan tercukupi dan apabila ia mati maka masuk surga; Siapa saja yang masuk ke dalam rumah dengan mengucap salam maka ia mendapat jaminan dari Allah, siapa saja keluar -rumah untuk- menuju masjid maka ia mendapat jaminan dari Allah, siapa saja keluar -untuk- berjuang di jalan Allah maka ia mendapat jaminan dari Allah.”  (HR. Abu Dawud dan dishahihkan oleh Syaikh Al Albani)

“Perumpamaan rumah yang di dalamnya digunakan untuk berdzikir kepada Allah dengan rumah yang tidak digunakan untuk berdzikir kepadaNya adalah seperti –perbedaan- orang hidup dan orang mati.” (HR. Muslim)

Imam An-Nawawi berkata, “Di dalam hadits ini ada pelajaran untuk senantiasa berdzikir di dalam rumah, serta jangan sampai rumah itu kosong dari berdzikir kepada Allah.”

Membaca Al-Qur’an dan Sunnah

Membaca Al-Qur’an adalah bentuk lain dari dzikir. Secara khusus ada keutamaan memperbanyak memperbanyak bancaan dan kajian Al-Qur’an di rumah. Ia berbalas satu hingga sepuluh kebaikan setiap hurufnya, berbalas sakinah, naungan malaikat, dan diliputi rahmat, juga akan menjauhkan setan dan kejahatannya.  Rasulullah n bersabda,

“Tidaklah suatu kaum berkumpul di dalam satu rumah di antara rumah-rumah Allah, mereka membaca kitabullah dan saling mengajarkan kepada mereka melainkan mereka akan diliputi rahmat, diturunkan  kepada mereka ketentraman, dinaungi oleh para malaikat,dan disebut-sebut oleh Allah di kalangan malaikat di sisiNya.” (HR. Muslim)

Dalam hadits lain Abu Hurairah meriwayatkan bahwa Rasulullah bersabda, “Sesungguhnya suatu rumah akan terasa lapang bagi penghuninya, didatangi malaikat, dijahui setan, serta banyak kebaikannya, jika di dalamnya dibacakan Al-Qur’an. Sebaliknya rumah akan terasa sempit bagi penghuninya, dijahui malaikat, disenangi setan, dan sedikit kebaikannya manakala di dalamnya tidak dibacakan Al Qur’an.” (HR. Ad-Darimi)

Sebaliknya rumah yang sepi dari dzikir, dari bacaan Al-Qur’an akan menjadi rumah yang sempit, jauh dari sakinah, dan disenangi oleh setan. “Janganlah kalian jadikan rumah-rumah kalian kuburan, sungguh setan akan lari dari rumah yang di dalamnya dibacakan surat Al Baqarah.” (HR. Muslim)

Shalat sunnah

Shalat adalah ibadah yang agung. Ia adalah penghubung yang kuat antara seorang hamba dengan Rabbnya. Bagi kaum laki-laki tempat shalat wajib yang paling utama baginya adalah shalat di masjid. Akan halnya untuk shalat sunnah, maka yang paling utama adakag di rumah. Bahkan Rasulullah menyebutnya bahwa shalat sunnah terbaik adalah shalat sunnah yang dikerjakan di rumah. Zaid bin Tsabit  menuturkan bahwa Rasulullah n bersabda,

فَعَلَيْكُمْ بِالصَّلَاةِ فِي بُيُوتِكُمْ فَإِنَّ خَيْرَ صَلَاةِ الْمَرْءِ فِي بَيْتِهِ إِلَّا الصَّلَاةَ الْمَكْتُوبَة

“Hendaknya kalian melaksanakan shalat di rumah-rumah kalian, karena sebaik-baik shalat seseorang adalah shalat yang dilaksanakan di rumahnya, kecuali shalat yang wajib.” (Muttafaq alaih)

Dalam hadits yang lain Rasulullah memerintahkan, Dari Ibnu Umar ra., dari Rasulullah n bersabda, “Kerjakan sebagian dari shalat kalian di rumah, dan jangan jadikan ia seperti kuburan”. (Muttafaq alaih)

Salah seorang sahabat Rasulullah berkata, “Salat tathawwu’ (sunnah) seseorang yang dilaksanakan di dalam rumahnya selain (tambahan) dari shalat tathawwu’nya yang dilaksanakan di hadapan manusia ibarat keutamaan shalat seseorang ketika berjama’ah dengan shalat sendirian.”

Berbuat Baik kepada Tetangga

Tentangga  adalah orang-orang terdekat setelah kerabat, sehingga diberikan hak istimewa oleh syariat. Allah berfirman,  

“Sembahlah Allah dan janganlah kamu mempersekutukan-Nya dengan sesuatupun. Dan berbuat baiklah kepada kedua orangtua, karib-kerabat, anak-anak yatim, orang-orang miskin, tetangga yang dekat dan tetangga yang jauh, dan teman sejawat, Ibnu sabil.” (QS. An Nisaa’: 36)

Karenanya Nabi banyak mengingatkan tentang hak-hak tetangga; menjaga kehormatan, kemuliannya, menutupi aib, memberi pertolongan, menjaga lisan, dan hal-hal yang bisa menyakitinya. Ibnu Umar a menuturkan bahwa Nabi n bersabda,

مَا زَالَ جِبْرِيلُ يُوصِينِي بِالْجَارِ حَتَّى ظَنَنْتُ أَنَّهُ سَيُوَرِّثُهُ

“Jibril masih saja mewasiatkan kepadaku untuk –berbuat baik kepada- tetangga hingga aku mengira bahwa ia hendak –menyampaikan perintah Allah untuk- memberikan warisan kepada mereka (tetangga)” (Muttafaqun ‘alaih)

مَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ فَلَا يُؤْذِي جَارَهُ

“Barang siapa beriman dengan Allah dan hari akhir maka janganlah ia menyakiti tetangganya.” (Muttafaq ‘alaih) “Hendaknya ia berlaku baik kepada tetangganya.” (HR. Muslim)

Bahkan seorang muslim  kepada tetangganya menjadi ukuran kebaikan di sisi Allah. Ibnu Amr  menuturkan bahwasanya Rasulullah n bersabda,

خَيْرُ الْأَصْحَابِ عِنْدَ اللَّهِ خَيْرُهُمْ لِصَاحِبِهِ وَخَيْرُ الْجِيرَانِ عِنْدَ اللَّهِ خَيْرُهُمْ لِجَارِهِ

“Sebaik-baik kawan dimata Allah adalah mereka yang paling baik dengan kawannya, dan sebaik-baik tetangga dimata Allah adalah mereka yang paling baik dengan tetangganya.” (HR. Ahmad dan At-Tirmidzi)

Berbuat Baik kepada Pembantu

Islam juga mengatur sampai pada urusan pembantu rumah tangga; tentang bagaimana seorang muslim menghargai pembantu, berbuat adil; memberikan mereka makan seperti yang kita makan, pakaian seperti yang kita pakai, dan memberikan upah dengan segera. Sebaliknya tidak berbuat semena-mena dengan merendahkannya baik dengan ucapan maupun perbuatan, juga pula membebaninya dengan perkerjaan diluar batas kemampuan, atau diluar kesepakatan.   

Suatu ketika Nabi n memberikan nasihat kepada Abu Dzar, “Mereka adalah saudara kalian, Allah menjadikannya dibawah kuasa kalian, maka berilah mereka makan sebagaimana kalian makan, berilah mereka pakaian sebagaimana kalian berpakaian, serta jangan berikan beban kepada mereka melebihi batas kemampuannya, dan apabila kalian memberikan beban kepada mereka maka bantulah.” (HR. Muslim)

  Dari Abu Mas’ud Al Badri beliau menceritakan, “Suatu ketika aku memukul pembantuku. Tiba-tiba mendengar suara seseorang menegur dari arah belakangku, “Dengarkanlah wahai Abu Mas’ud. Allah lebih sanggup untuk melakukan itu padamu dari apa yang telah kamu perbuat kepadanya. Kemudian aku menoleh, ternyata beliau adalah Rasulullah, lalu aku berkata, “Wahai Rasulullah. Dia aku bebaskan karena Allah, maka beliau bersabda, “Duhai seandainya kau tak melakukannya, -yang dengannya- kau akan dibakar neraka atau disentuh api neraka.” (HR. Muslim)