Meniti Jalan Menuju Keluarga Idaman

0

Meniti Jalan Menuju Keluarga Idaman

Oleh: Ust. Abu Harits, Lc.

Kehidupan berkeluarga bagi seorang mukmin bukan hanya memenuhi kebutuhan biologis dan psikologis semata. Namun hal itu di mata seorang mukmin menjadi kenikmatan yang sarat dengan amal sholih serta ladang kebaikan untuk meraih Jannatur Rohman. Betapa indahnya ungkapan dalam al Quran, tatkala menyinggung tentang kehidupan berkeluarga;

هُنَّ لِبَاسٌ لَكُمْ وَأَنْتُمْ لِبَاسٌ لَهُنَّ

“… mereka (para istri) menjadi pakaian bagi kalian dan kalian menjadi pakaian bagi mereka..” (Al Baqoroh: 187)

Dikarenakan antara mereka berdua menjadi penutup aurat bagi masing-masing. Imam Al Qurthubi menjelaskan dalam tafsirnya, bahwa kebersamaan suami-istri ibarat seseorang dengan bajunya ke mana ia pergi senantiasa tertutupi dengan bajunya. (Al Jami’ li Ahakmil Quran, Imam Al Qurthubi: 2/693(

            Imam Ibnu katsir dalam tafsirnya menukil pendapat dari Ibnu Abbas yang menyebutkan bahwa makna dari ayat tersebut adalah mereka (para istri) menjadi tempat singgah (pelabuhan jiwa) bagi para suami dan begitu sebaliknya.  (Tafsir Al Quran Al Adzim, Imam Ibnu Katsir: 1/208)

Duhai indahnya jika pasangan sumai-istri seperti itu terus menerus. Namun seringnya di awal pernikahan kobaran cinta masih menyala-nyala. Sapaan mesra dari belahan jiwa selalu menebar asa, mengusir gundah gulana dalam dada. Tapi tatkala waktu telah berjalan, hal baru di waktu lalu telah menjadi usang,  sapaan mesrapun tak kunjung datang, percekcokan dengan atas nama cinta menjadi kebiasaan, masing-masing saling menuntut untuk diberi perhatian dan pengertian namun seringnya mereka tak menjaga mana hak dan kewajiban.

Memang telah menjadi sunnatullah bahwa bahtera rumah tangga tak akan pernah sepi dari gejolak ombak yang menyapa, tiupan angin yang datang menerpa. Namun itu semuanya hendaknya disikapi oleh seorang mukmin dan mukminah sebagai sebuah pernak-pernik hiasan kehidupan yang sarat dengan makna dan pelajaran.

Dalam makalah sederhana ini penulis mencoba mengangkat pemaparan tentang pilar-pilar utama dalam menggapai keluarga idaman yang seringya disebut sebagai keluarga sakinah. Meskipun telah banyak disebutkan dalam beberapa literatur tentang hal tersebut, namun masih banyak orang yang tidak mengetahuinya disebabkan oleh banyak faktor bisa jadi kurangnya ilmu atau belum meluasnya kesadaran untuk menuju ke arah itu. Tentunya tema ini, masih aktual untuk dikemukakan mengingat problematika rumah tangga adalah bagian dari kehidupan manusia yang bersentuhan setiap hari.

Keluarga idaman dalam perspektif  Al Quran

            Telah disebutkan dalam al Quran, di antara hikmah disyari’atkannya berkeluarga adalah demi menggapai ketenangan jiwa serta menghiasi kehidupan dengan warna kasih sayang dan cinta. Allah ta’ala telah berfirman :

وَمِنْ آيَاتِهِ أَنْ خَلَقَ لَكُمْ مِنْ أَنْفُسِكُمْ أَزْوَاجًا لِتَسْكُنُوا إِلَيْهَا وَجَعَلَ بَيْنَكُمْ مَوَدَّةً وَرَحْمَةً إِنَّ فِي ذَلِكَ لَآيَاتٍ لِقَوْمٍ يَتَفَكَّرُونَ

“Dan di antara tanda-tanda kebesaran-Nya adalah diciptakan-Nya bagi kalian pasangan-pasangan dari jenis kalian sendiri agar kalian cenderung dan merasa tentram kepadanya, dan dijadikan-Nya di antara kalian rasa kasih dan sayang. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang mau berfikir”. (QS. Ar Rum: 21)

            Dari ayat tersebut, bisa diambil sebuah ibrah ataupun pelajaran bahwa perintah Allah ta’ala kepada manusia untuk menikah  memiliki tujuan menggapai tiga unsur kemaslahatan (kebaikan) yang diebutkan dalam ayat tersebut. Ketiga unsur kemaslahatan itu adalah sakinah, mawaddah dan rohmah. Dengan kata lain, terbentuknya keluarga idaman manakala terwujudnya tiga unsur kemaslahatan tersebut. Ketika tiga unsur itu ada maka itulah potret keluarga idaman.

            Untuk itulah perlunya penggalian makna ketiga unsur tersebut :

  1. Sakinah; secara etimologi adalah ketenangan dan kemantapan.
  2. Mawaddah, secara etimologi bermakna kecintaan dan pengharapan.
  3. Rohmah, secara bahasa memiliki makna kelembutan, kasih sayang, kebaikan dan kenikmatan.

Imam Ibnu katsir menuturkan dalam tafsirnya, “Merupakan bagian dari rohmat Allah untuk bani Adam diciptakan-Nya pasangan-pasangan mereka  dari jenis mereka (bukan dari jenis jin atau selain manusia) dan telah menjadikan di antara mereka mawaddah yaitu rasa cinta dan rohmah yaitu kasih sayang (ro’fah), sesungguhnya seorang laki-laki menjaga istrinya dikarenakan kecintaannya kepadanya atau kasih sayangnya untuknya disebabkan dirinya memiliki keturunan darinya atau kebutuhan istri terhadap nafkah dan kelembutan di antara keduanya”. (Tafsir Al Quran Al Adzim, Imam Ibnu Katsir: 3/414)

           Dengan memahami tujuan berkeluarga tersebut, pasangan suami-istri hendaknya berupaya semaksimal mungkin untuk mewujudkan ketiga rasa itu. Tentunya perlu disadari bersama bahwa hidup di dunia fana ini tak lepas dari permasalahan-permasalahan yang dengannya Allah menguji kita apakah kita termasuk yang bersyukur dan sabar ataukah termasuk orang kufur. Namun betapapun besarnya ujian yang menerpa kehidupan keluarga hendaknya tetaplah berupaya menghadirkan ketiga rasa itu sebagai solusi.

           Tidak layak bagi pasangan suami-istri mukmin-mukminah berpaling dari ketauladanan sumi-istri ideal yaitu Nabi Muhammad shallahu ‘alaihi wasallam beserta para istri-istri beliau kemudian mengambil sosok-sosok pasangan suami-istri zaman kini yang dipenuhi kemaksiatan sebagai contoh ataupun dijadikan figure. Cukuplah bagi kita ketauladanan yang ditampakkan dari pribadi luhur dan insan pilahan Nabi Muhammad shallahu ‘alaihi wasallam beserta istri-istri beliu dan juga para murid sekaligus para sahabat beliau. Tengoklah ketegaran beliau  shallahu ‘alaihi wasallam tatkala menghadapi ujian dalam peristiwa “haditsatul ifki” yaitu tuduhan dari kaum munafikin bahwa istri beliau ‘Aisyah  radhiyallahu ‘anha berlaku serong. Sungguh ini adalah tuduhan yang keji dan tak pelak membuat semua penduduk Madinah gempar serta hati Rosululloh pun bersedih. Namun apakah serta merta Rosululloh mencampakkan dan berlaku kasar terhadap istrinya? Tidak, sekali-kali tidak. Denga ketabahan dan kesabaran yang dimiliki, beliau berupaya untuk menjaga agar jalinan renda kemesraan dan kasih sayang tetap terajut. Hal itu terbukti dengan sapaan beliau kepada ‘Aisyah; “kaifa tiikum? (bagaimana kabarmu?) setiap kali mengunjungi beliau.

           Dari uraian tersebut, bisa diambil sebuah kesimpulan sederhana bahwa terwujudnya ketiga unsur kebaikan dalam pernikahan dan keluarga adalah dengan adanya tiga pilar pendukung yang hakikatnya adalah sebuah anggota komponen kelurga itu sendiri; yaitu suami yang sekaligus menjadi ayah bagi anaknya, istri yang sekaligus ibu bagi anaknya dan anak yang menjadi buah hati dan penyejuk jiwa bagi kedua orang tuanya. Dalam hal ini, kesholihan dari masing-masing anggota keluarga menjadi penentu dan factor utama terwujudnya keluarga sakinah, mawaddah dan rohmah.

Suami dan ayah idaman

            Pernah sutu ketika Rosululloh shallahu ‘alaihi wasallam memasuki rumah beliau. Lalu bertanya kepad istri beliau tercinta ‘Aisyah  radhiyallahu ‘anha “apakah engkau memiliki sesutau yang bisa dimakan?” ‘Aisyah menjawab: tidak ada, wahai Rosululloh. Kemudian Rosululloh pun bersabda : “Kalau begitu aku puasa hari ini”. (HR. Muslim no. 2770)

            Sungguh betapa mulianya pribadi Rasulullah shallahu ‘alaihi wasallam, beliau tidak banyak menuntut terhadap istri sampai pada urusan makan. Bila ada makanan beliau makan dan bila tidak ada maka beliaupun berpuasa.

Dari ketauladanan beliau tersebut bisa diambil sebuah pelajaran bahwa salah satu karakteristik keluarga yang ideal ataupun idaman adalah kesadaran mereka untuk lebih mengedepankan penunaian kewajiban ketimbang penuntutan hak.

Untuk itulah seorang suami yang sekaligus menjadi ayah haruslah memahami betul kewajiban-kewajiban yang harus ditunaikan. Di antara kewajiban yang harus ditunaikan sebagai seorang suami dan ayah adalah sebagai berikut :

  1. Menjadi pembimbing bagi istri dan anak-anaknya.
  2. Mencari nafkah untuk keluarganya.
  3. Memberikan sandang, pangan dan papan untuk keluarganya.
  4. Tidak boleh berlaku kasar dan keras kepada istri dan anak-anaknya.
  5. Berupaya menjaga kemesraan dengan istri.
  6. Menjadi guru dan tauladan bagi anak-anaknya.
  7. Wajib mengajarkan kepada istri dan anaknya perkara-perkara syari’at Islam.
  8. Mudah memaafkan terhadap kesalahan istri dan anaknya.
  9. Tidak boleh membuka aib istri di depan orang lain.
  10. Bersikap ‘iffah (menjaga diri dari perkara-perkara harom)
  11. Bersikap husnu dzon terhadap istri dan anaknya
  12. Berlaku adil terhadap keluarganya.
  13. Memberikan izin kepada istrinya untuk keluar dalam perkara yang ma’ruf
  14. Berpenampilan rapi dan tampan di depan istri.

Demikian beberapa perkara penting yang harus diperhatikan bagi seorang suami sekaligus ayah yang selalu mendamba terwujudnya keluarga sakinah.

Istri dan ibu idaman

            Pernah suatu ketika ibunda ‘Aisyah bercerita kepada suami tercinta; Rasulullah shallahu ‘alaihi wasallam. Sebuah cerita yang sudah menjadi cerita yang merakyat tentang kemesraan pasangan suami-istri. Cerita tersebut sering dikenal dengan cerita Umu Zar’i. Dengan seksama Nabi shallahu ‘alaihi wasallam mendengarkan cerita ibunda ‘Aisyah meskipun sudah sering beliau mendengar cerita itu namun beliau tidak bosan untuk mendengarkannya dari ibunda ‘Aisyah  radhiyallahu ‘anha.

            Cerita rakyat itu dituturkan oleh ibunda ‘Aisyah :

            Dahulu kalah ada 11 orang wanita yang mereka saling berjanji untuk tidak menyimpan rahasia sedikitpun tentang pasangannya.

            Berkatalah wanita pertama: suamiku adalah daging onta yang kurus di atas gunung yang tidak ada lembahnya (maksudnya sulit didaki) dan tidak pula ada daging yang dipindahkan.

            Kemudian wanita kedua berkata: adapun suamiku  maka aku tidak menyebarkan kabarnya, sesungguhnya aku takut kalau aku tidak meninggalkannya, apabila aku mengingatnya maka aku pun akan mengingat urat-urat kemarahan di wajahnya.

            Berkatalah wanita yang ketiga: suamiku adalah orang yang tinggi buruknya, apabila aku berbicara pasti aku diceraikannya, dan apabila aku diam pasti aku didiamkannya seakan-akan dirinya tidak memiliki istri.

            Wanita yang keempat berkata; suamiku seperti kelembutan lembah Tuhamah,  tidak panas, tidak pula ada rasa takut dan tidak pula bosan. (maksudnya: aku hidup bersama suamiku dengan aman, tenang, nyaman, tidak ada ketakutan seperti halnya penduduk Tuhamah mereka menikmati keindahan malam dengan udaranya yang sejuk).

            Adapaun wanita kelima berkata: suamiku adalah seperti singa yang masuk dan seperti singa yang keluar, dan tidak pernah bertanya tentang apa yang pernah dia dapatkan. (maksudnya: saumiku seperti singa yang aku tidak sabar ketika aku melihatnya, dan dia seperti singa di luar rumah karena keberaniannya, dan dia selalu membawakan untukku pakaian, makanan dan minuman tanpa bertanya kemana perginya barang ini dan itu).

            Wanita keenam berkata; suamiku adalah orang yang apabila ia makan pastilah ia rakus, apabila ia minum pastilah ia habiskan semuanya, apabila ia tidur selau jauh dariku, dan tidak memperhatikan diriku.

            Wanita ketujuh berkata: suamiku adalah orang yang bodoh lagi mandul, setiap penyakit adalah penyakit baginya.

            Wanita kedelapan berkata: suamiku seperti bulu kelinci yang lembut, dan baunya seperti bau wangi zarnab (maksudnya suamiku suka berdandan).

            Wanita kesembilan berkata: suamiku orang yang memiliki bangunan bertiang tinggi lagi mempunyai tempat menggantungkan pedang yang tinggi dan banyak kayu bakarnya dan rumahnya selalu dikunjungi orang untuk mencari jalan keluar (maksudnya: suamiku adalah orang yang dermawan dan mulia serta baik pergaulannya).

            Wanita kesepuluh berkata: suamiku namanya Malik, dan ia bukan malik (berarti raja), dan Malik lebih baik dari itu semua, dia mempunyai onta banyak yang diberkahi dan disiapkan untuk menyambut tamu, apabila onta-onta itu mendengar suara cambukan maka mereka yakin bahwa mereka menjadi milik para tuannya.

            Berkata wanita kesebelas : suamiku bernama Abu Zar’i, maka apakah Abu Zar’i itu, ia adalah orang yang peka pendengarannya, lengannya penuh lemak, dia selalu membahagiakan aku dan aku pun membahagiakan dirinya, dia mendapatiku ketika dirinya baru saja menikahiku sedang aku hidup dengan keluargaku dengan kefakiran dan dalam gembalaan yang sedikit yang senantiasa kami gembala di tengah lembah. Kemudian setelah itu ia menjadikan untukku dalam kesejahteraan dengan melimpahnya kuda, onta, lading dan burung-burung. Selama aku di sisinya belum belum pernah ia menjelekkan aku dan akupun tidak pula menjelekkannya, dan ketika aku tertidur maka akupun tidak terganggu hingga tiba waktu pagi, dan ketika aku minum maka aku meminumnya hingga hilang dahaga dariku.

            Ibunda dari Abu Zar’i seperti keadilan yang luas dan rumahnya senantiasa terbuka untukku. Adapaun anaknya Abu Zar’i adalah seorang anak yang tidur dengan nyenyaknya.

            Adapun anak perempuan Abu Zar’i maka ia adalah anugrah untuk ayah dan ibunya yang memenuhi kantongnya dan geriba airnya.

            Adapun budaknya Abu Zar’I maka ia tidak menyebarkan pembicaraan kami dan tidak pula mengkhianati warisan kami dan tidak pula memenuhi rumah kami dengan kotoran (maksudnya selalu membersihkannya).

            Lalu keluarlah Abu Zar’i untuk memerah susu sedang ia dalam keadaan letih. Lalu ia bertemu seorang wanita bersama dua orang anaknya yang bermain di bawah dirinya, lalu ia pun menceraikanku dan menikahi wanita itu.

            Setelah itu aku menikah dengan seorang pembesar yang mengendarai tunggangan yang mulia, dan ia memanjakan diriku dengan kenikmatan, kemudian ia berkata: makanlah wahai Ummu Zar’i, dan sambunglah keluargamu dan muliakanlah mereka. Lalu Ummu Zar’i berkata: kalau saja engkau bisa mengumpulkan semuanya dan engkau memberikan kepadaku semuanya pastilah hal itu belum bisa menyamai satu bejana kecil milik Abu Zur’ah.”

            Setelah mendengar cerita dari istri tercinta ‘Aisyah, maka Rosulullah shallahu ‘alaihi wasallam pun bersabda; “Aku bagimu seperti pelayanan Abu Zar’i kepada Ummu Zar’i”. (HR. Bukhori dan Muslim)

            Betapa mesranya Rosululloh shallahu ‘alaihi wasallam bersama istrinya. Tentunya kemesraan itu bukan dibangun atas keelokan tubuh semata, melainkan buah dari kecantikan pribadi seorang istri sholihah yang bisa meramu kepenatan suami menjadi keceriaannya, kesedihan yang merundung suaminya diubahnya menjadi ketabahan.

            Dalam kesempatan lain ibunda Khodijah  radhiyallahu ‘anha juga memberikan contoh ketegaran hati seorang istri yang mendampingi perjuangan suaminya. Selama tiga tahun Nabi diboikot oleh kaum Kuffar Quroisy, dengan keteguhan jiwa, ibunda Khodijah sedia menemani beliau meskipun dalam kondisi yang teramat sulit.

            Tentunya munculnya sosok-sosok wanita tangguh seperti para istri Nabi shallahu ‘alaihi wasallam dan para sahabat wanita disebabkan pahamnya mereka akan suatu tugas dan kewajiban mulia yang harus ditunaikan. Di antara tugas dan kewajiban mulia itu adalah  terangkum dalam tiga sisi:

  • Menjadi pendamping bagi suami.
  • Menjadi murobbiyah bagi anak-anaknya.
  • Menjadi bagian dari unsur pembentuk mujtama’ Islamiy dengan peran-peran da’wah dan sosial.

Anak idaman

Rasulullah shallahu ‘alaihi wasallam pernah bersabda :

إِذَا مَاتَ الإِنْسَانُ انْقَطَعَ عَنْهُ عَمَلُهُ إِلاَّ مِنْ ثَلاَثَةٍ إِلاَّ مِنْ صَدَقَةٍ جَارِيَةٍ أَوْ عِلْمٍ يُنْتَفَعُ بِهِ أَوْ وَلَدٍ صَالِحٍ يَدْعُو لَهُ

Apabila seseorang telah meninggal maka terputuslah amalannya kecuali dari tiga perkara; shodaqoh jariyah, ilmu yang bermanfaat dan anak sholih yang mendoakan untuknya.

Sungguh istemawanya anak sholih itu. Hakikatnya dia menjadi tabungan akhirat bagi ayah dan ibunya.

Tidak dipungkiri bahwa memiliki anak yang berbakti adalah idaman setiap orang tua. Namun yang menjadi pertanyaan besar bagi kita adalah, sudah seberepakah pendidikan yang kita tanamkan pada anak kita untuk menjadi anak yang sholih dan sholihah? Sudahkah orang tua menjadi contoh dan panutan terbaik bagi anak-anaknya? Sudahkah kita berupaya menanamkan aqidah yang benar dalam lubuk sanubari hati anak kita?

            Sering sekali para orang tua tertipu dengan merasa cukup bahwa pendidikan bagi mereka adalah pembekalan ketrampilan hidup (life skill). Mereka merasa puas dengan mengikut sertakan anaknya di berbagai lembaga bimbingan belajar yang ternyata itu semuanya diniatkan agar anaknya besok di hari tuanya bisa menjadi kebanggaan yang dibanggakan di depan orang banyak. Maka apakah benar seperti ini? Kalau memang demikian caranya, lalu siapakah yang menjamin kalau anak kita sudah besar nanti akan bisa berbakti kepada kedua orang tuanya? Sementara materi-materi yang dijejalkan ke otak anaknya hanyalah muatan-muatan duniawi yang berujung pada cinta materi.

            Jelas .., dan sudah pasti.. bahwa munculnya anak sholih dan pandai berbakti kepada orang tuanya bukan berasal dari model pendidikan seperti itu. Pendidikan yang menghasilkan anak-anak sholih dan berbakti kepada kedua orang tuanya adalah pendidikan yang menanamkan dominasi aqidah yang benar kepada anaknya. Karena Aqidah berperan penting dalam control perilaku seseorang.

            Setidak-tidaknya dalam pengajaran anak-anak ada tiga ilmu yang harusnya diprioritaskan terlebih dahulu:

  1. Al Quran
  2. As sunnah
  3. Al Faroidl

Inilah tiga rumpun ilmu yang hendaknya menjadi asupan pertama bagi anak kita. Sebagaimana yang telah menjadi tradisi ilmiyah oleh keluaraga para ulama. Dalam hal ini ayah dan ibunya yang paling berperang dalam menjadi guru, minimal di rumahnya. Wallahu a’lam.