Meraih Lailatul Qadar Meski Di Rumah

0

Meraih Lailatul Qadar Meski Di Rumah

Dalam hitungan kalender komariyah (lunar calender) jumlah hari dalam setahun sebanyak 354 hari atau 355 hari. Dan dalam satu tahun terdapat 12 bulan yang berbeda-beda berikut ciri khas dan keutamaanya sendiri-sendiri. Dan Bulan Ramadhan adalah bulan yang paling utama di antara bulan lainnya.

Salah satu sebab Ramadan menjadi yang paling mulia dan utama adalah karena di salah satu malam di antara malam-malamnya terdapat sebuah malam yang nilainya di sisi Allah lebih baik dari seribu bulan.

Adalah malam lailatul qadar, sebuah malam yang Allah selipkan di antara  tiga puluh malam bulan Ramadan yang penuh keberkahan. Sebuah malam yang padanya Allah taburkan keberkahan, Allah luaskan kemuliaan, dan Allah lapangkan ampunan bagi siapa saja yang Dia kehendaki.

Deskripsi tentang keutamaan malam ini termaktub dalam al-Quran, Allah berfirman:

إِنَّآ أَنزَلۡنَٰهُ فِي لَيۡلَةِ ٱلۡقَدۡرِ، وَمَآ أَدۡرَىٰكَ مَا لَيۡلَةُ ٱلۡقَدۡرِ،لَيۡلَةُ ٱلۡقَدۡرِخَيۡرٌ مِّنۡأَلۡفِ شَهۡرٍ، تَنَزَّلُ ٱلۡمَلَٰٓئِكَةُ بِإِذۡنِ رَبِّهِم مِّن كُلِّ أَمۡرٍسَلَٰمٌ هِيَ حَتَّىٰ مَطۡلَعِ ٱلۡفَجۡرِ   

“Sesungguhnya Kami telah menurunkannya (Al Quran) pada malam kemuliaan. Dan tahukah kamu apakah malam kemuliaan itu? Malam kemuliaan itu lebih baik dari seribu bulan. Pada malam itu turun malaikat-malaikat dan malaikat Jibril dengan izin Tuhannya untuk mengatur segala urusan. Malam itu (penuh) kesejahteraan sampai terbit fajar.” (QS. Al-Qadar: 1-5)

Syaikh as-Sa’di menjelaskan bahwa Allah menurunkan malam lailatul qadar pada bulan Ramadan sebagai bentuk Rahmat Allah atas hamba-hamba Nya. Adapun penamaan lailatul qadar adalah karena keagungan dan kemulian yang telah Allah tetapkan di dalamnya. (Taisir Kalim ar-Rahman fi Tafsir Kalam al-Mannan, Abdurrahman as-Sa’di, 1098)

Malam lailatul Qadar lebih baik dari seribu bulan, Imam al-Qurthubi menjelaskan bahwa maksud dari ayat ini adalah; Allah menjadikan pada malam tersebut banyaknya kebaikan dan keutamaan. Maka mereka yang beribadah pada malam tersebut mendapatkan keutamaan ibadah selama seribu bulan. (al-Jami’ Li Ahkami al-Quran, Muhammad bin Ahmad al-Qurthubi, 22/393)

Seribu bulan sama dengan 83 tahun 4 bulan, sebuah waktu yang panjang bagi usia manusia, terlebih usia manusia pada masa sekarang. Maka bayangkan, jika seseorang mendapatkan keutamaan beramal pada malam tersebut, ia mendapatkan keutamaan ibadah selama 83 tahun.

Maka ada dua hal yang harus kita jawab, pertama; kapan malam tersebut Allah turunkan? kedua; bagaimana meraih kemulian malam lailatur Qadar?

Kapan Datangnya Malam Lailatul Qadar?

Dari dua belas bulan dalam setahun, Allah telah mengerucutkan pencarian malam lailatul qadar hanya pada bulan Ramadan saja. Karena Allah menyelipkan malam mulia ini di antara malam-malam bulan Ramadan.

Tidak ada nash dari al-Quran maupun hadist-hadist Nabi yang menyebutkan secara pasti datangnya malam lailatul Qadar. Akan tetapi Nabi shalallahu ‘alahi wa salam memberikan tanda-tanda yang bisa kita ikuti sebagai petunjuk untuk meraihnya.

Dalam beberapa riwayat Rasulullah menyebutkan kapan seharusnya malam lailatul qadar dicari. Bahkan beberapa riwayat menyebutkan dengan begitu detail. Akan tetapi secara umum mengerucut pada riwayat yang menunjukkan bahwa ia turun pada sepuluh malam terakhir.

Pertama, Seperti sebuah hadist yang diriwayatkan oleh ibunda ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha, Rasulullah shalallahu ‘alahi wa salam bersabda:

تَحَرَّوْا لَيْلَةَ الْقَدْرِ فِى الْعَشْرِ الأَوَاخِرِ مِنْ رَمَضَانَ

“Carilah malam lailatul qadar pada sepuluh hari terakhir bulan Ramadan” (HR. al-Bukhari dan Muslim)

Dalam riwayat Imam al-Bukhari dengan text riwayat yang lebih detail, Rasulullah shallahu ‘alahi wa salam bersabda:

تَحَرَّوْا لَيْلَةَ الْقَدْرِ فِي الْوِتْرِ مِنْ الْعَشْرِ الْأَوَاخِرِ مِنْ رَمَضَانَ

“Carilah malam lailatul qadar pada malam-malam ganjil di sepuluh hari terakhir bulan Ramadan” (HR. al-Bukhari)

Kedua, hadist riwayat Ibnu Umar radhiyallahu ‘anhu, Rasululllah shalallahu ‘alahi wa salam bersabda:

تَحَرَّوْا لَيْلَةَ الْقَدْرِ فِى السَّبْعِ الأَوَاخِرِ

“Carilah malam lailatul Qadar pada tujuh malam terakhir (Ramadan)” (HR. Muslim)

Waktu turunnya malam lailatul qadar adalah rahasia Allah. Tidak bisa dipastikan perihal kapan waktu turunnya secara pasti. Akan tetapi Nabi shalallahu ‘alahi wa salam memerintahkan untuk mencarinya di sepuluh malam terakhir di bulan Ramadan.

Terkhusus di malam-malam ganjil seperti yang telah disebutkan oleh hadist ‘Aisyah. Dan ini pendapat yang banyak disebutkan oleh para ulama perihal waktu turunnya malam lailatul qadar.

Bagaimana Meraih Malam Lailatul Qadar?

Teladan dan contoh terbaik untuk mendapatkan malam lailatul qadar tentulah dari apa yang Rasulullah shalallahu ‘alahi wa salam contohkan pada sepuluh malam terakhir di bulan Ramadan, waktu di mana dianjurkan untuk mencari lailatul qadar.

‘Aisyah radhiyallahu ‘anha meriwayatkan perihal teladan Nabi pada sepuluh hari terakhir bulan Ramadan. ‘Aisyah berkat:

كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا دَخَلَ الْعَشْرُ شَدَّ مِئْزَرَهُ وَأَحْيَا لَيْلَهُ وَأَيْقَظَ أَهْلَهُ

“Bahwa Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa salam jika telah memasuki sepuluh hari terakhir (Ramadan), beliau akan mengencangkan sabuknya, menghidupkan malamnya, dan membangunkan keluarganya.” (HR. al-Bukhari dan Muslim)

Ibnu Hajar al-Asqalani menjelaskan bahwa makna dari Rasulullah mengencangkan sabuknya adalah beliau menjauhi istri-istri dan fokus beribadah dengan mengurangi tidurnya dan menghidupkan malam dengan amal-amal shaleh. Kemudian Rasulullah juga membangunkan keluarganya untuk mengerjakan shalat. (Fathu al-Bari Syarhu Shahih al-Bukhari, Ibnu Hajr al-Asqalani, 4/269)

Dalam riwayat lain juga dijelaskan, bahwa ibadah terbaik untuk meraih malam lailatul qadar adalah dengan menghidupkan malamnya. Seperti dalam riwayat Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shalallahu ‘alahi wa salam bersabda:

وَمَنْ قَامَ لَيْلَةَ الْقَدْرِ إِيمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ

“Barangsiapa yang menghidupkan malam lailatul qadar dengan penuh keimanan dan mengharap (pahala dari Allah) maka Allah akan ampuni dosa-dosanya yang telah berlalu.” (HR. Muslim)

Substansi dari riwayat-riwayat yang telah disebutkan adalah; bahwa cara untuk meraih malam lailatul qadar adalah dengan kesungguhan dalam beribadah yang berlandaskan iman dan mengharap pahala dari Allah Ta’ala.

Maka pada sepuluh malam terakhir, terkhusus malam-malam ganjil kita dianjurkan untuk lebih meningkatkan ibadah baik secara kualitas maupun kuantitas. Hal ini juga diperkuat dengan keterangan dari ‘Asiyah radhiyallahu ‘anha:

كَانَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- يَجْتَهِدُ فِى الْعَشْرِ الأَوَاخِرِ مَا لاَ يَجْتَهِدُ فِى غَيْرِهِ.

Bahwasanya Rasulullah shalallahu ‘alahi wa salam bersungguh-sungguh (dalam ibadah) pada sepuluh malam terakhir (Ramadan) yang tidak beliau lakukan di malam-malam lainnya.” (HR. Muslim)

Meraih Lailatul Qadar Selama Masa Karantina

Malam lailatul qadar dengan segala kemulian dan keberkahan selalu bisa jadi motifasi bagi kaum muslimin untuk bergegas memompa semangat untuk meningkatkan ibadah demi mendapatkannya.

Salah satu sunnah Nabi yang biasa dilakukan untuk meraihnya adalah dengan i’tikaf di sepuluh malam terakhir, dan hal tersebut termasuk kebiasaan Nabi yang senantiasa beliau lazimi.

Sayangnya, pada masa-masa pandemi seperti hari ini, di mana masjid-masjid harus ditutup demi mencegah penyebaran virus Corona, maka otomatis ibadah i’tikaf pun ditiadakan.

Kemudian timbul pertanyaan apakah bisa beri’tikaf di rumah. Jawabanya tidak bisa, karena menurut kesepakatan para ulama i’tikaf hanya sah dilakukan di masjid. Tidak di tempat selain masjid. ( al-Iqna’ fi Masail al-Ijma’, Abi al-Hasan bin Qathan, 1/242)

Akan tetapi, meski demikian bukan berarti kesempatan untuk meraih malam lailatul qadar pupus dan putus. Karena dengan beribadah di rumah pun kesempatan untuk meraih lailatul qadar terbuka lebar.

Sebagaimana petunjuk dari perbuatan Nabi shalallahu ‘alahi wa salam ketika memasuki sepuluh terakhir bulan Ramadan; yaitu mengupgrade kualitas dan kuantitas ibadah pada waktu-waktu tersebut.

Maka semoga dengan kesungguhan, niat yang ikhlas dan hati yang khusuk Allah perkenankan kita meraih malam lailatul qadar pada Ramadan kali ini. Malam yang lebih baik dari hitungan seribu bulan. Wallahu a’lam.