Mudik Ke Kampung Akhirat

0

Mudik Ke Kampung Akhirat

Oleh: Ust. Zaid Royani, S.Pd.I

Baru saja pemerintah Indonesia melarang rakyatnya untuk mudik di tahun ini.

Mudik adalah istilah yang umum digunakan untuk tradisi pulang ke kampung halaman bagi para perantau saat moment lebaran idul fitri.

Sebagaimana mudik ke kampung halaman terjadi di dunia maka mudik juga bakal terjadi di akhirat. Namun terdapat perbedaan antara mudik di dunia dan mudik di akhirat.

Mudik ke kampung akhirat adalah keniscayaan bagi setiap insan. Sedangkan mudik di dunia bukan hal yang pasti. Bisa jadi ingin mudik namun terkendala biaya, sehingga muncullah ungkapan: “pulang malu tidak pulang rindu”. Atau karena halangan lainnya semisal saat pandemi covid 19.

Begitu pula jika mudik di dunia besifat sementara, maka mudik ke kampung akhirat berlaku untuk selamanya.

Maka mudik ke kampung akhirat memiliki beberapa hakikat:

Pertama, Pertanggungjawaban amalan.

Mudik ke kampung akhirat hakikatnya adalah untuk mempertanggungjawabkan amalan. Barangsiapa amalnya baik ia akan bahagia namun barangsiapa amalnya buruk maka akan sengsara. Allah Ta’ala berfirman:

مَنۡ عَمِلَ صَٰلِحٗا فَلِنَفۡسِهِۦۖ وَمَنۡ أَسَآءَ فَعَلَيۡهَاۖ ثُمَّ إِلَىٰ رَبِّكُمۡ تُرۡجَعُونَ

“Barangsiapa mengerjakan kebajikan maka itu adalah untuk dirinya sendiri, dan barangsiapa mengerjakan kejahatan, maka itu akan menimpa dirinya sendiri, kemudian kepada Tuhanmu kamu dikembalikan.” (QS. Al-Jatsiyah: 15)

Berbeda ketika di dunia, setiap yang mudik ke kampung halamannya cenderung akan bahagia dan tidak ada ikatan untuk mempertanggungjawabkan perbuatannya.

Kedua, Datang dengan sendirian.

Setiap manusia akan pulang ke kampung akhirat dengan sendirian. Sebagaimana firman Allah Ta’ala:

وَلَقَدۡ جِئۡتُمُونَا فُرَٰدَىٰ كَمَا خَلَقۡنَٰكُمۡ أَوَّلَ مَرَّةٖ

“Dan kamu benar-benar datang sendiri-sendiri kepada Kami sebagaimana Kami ciptakan kamu pada mulanya…” (QS. Al-An’am: 94)

Setiap manusia akan mempertanggungjawabkan amalannya sendiri-sendiri, disibukkan dengan urusannya sendiri hingga tidak sempat memikirkan urusan orang lain. Tidak sebagaimana mudik di dunia yang terkadang dilakukan dengan rombongan bisa saling tolong-menolong.

Ini memberikan satu pelajaran bahwa setiap manusia harus mempersiapkan dirinya masing-masing agar selamat dari siksa akhirat. Membekali diri dengan ilmu, senantiasa memperbaiki amal baik zahir maupun batin. Barulah setelah itu kita berusaha mengajak orang lain untuk sama-sama dalam kebaikan.

Ketiga, Perjalanan Panjang.

Mudik ke kampung akhirat adalah sebuah perjalanan yang panjang dan melelahkan. Sebagaimana firman Allah:

وَيَسۡتَعۡجِلُونَكَ بِٱلۡعَذَابِ وَلَن يُخۡلِفَ ٱللَّهُ وَعۡدَهُۥۚ وَإِنَّ يَوۡمًا عِندَ رَبِّكَ كَأَلۡفِ سَنَةٖ مِّمَّا تَعُدُّونَ

“Dan mereka meminta kepadamu (Muhammad) agar azab itu disegerakan, padahal Allah tidak akan menyalahi janji-Nya. Dan sesungguhnya sehari di sisi Tuhanmu adalah seperti seribu tahun menurut perhitunganmu.” (QS. Al-Hajj: 47)

Sehari di dunia sebanding dengan seribu tahun di akhirat. Hal ini menunjukkan sejauh apapun jarah tempuh menuju kampung halaman kita di dunia maka tidak ada bandingannya dengan perjalalan di akhirat.

Maka carilah bekal yang cukup untuk perjalanan yang panjang ini. Jika mudik ke kampung halaman saja butuh bekal yang banyak maka untuk mudik ke akhirat seharusnya butuh bekal yang jauh lebih banyak dan sebaik-baik bekal bagi orang yang berakal adalah ketakwaan.

Inilah beberapa gambaran mudik ke kampung akhirat. Semoga kita bisa mengambil pelajaran dari setiap episode kehidupan kita di dunia. Walahu a’lam.