Muhasabah Di Penghujung Ramadan

0

Muhasabah Di Penghujung Ramadan

Oleh: Ust. Fajar Jaganegara, S.Pd.I

Bulan suci Ramadan nyaris habis, tertinggal sisa-sisa waktu dari bulan penuh kemuliaan ini. Ibarat kapal, sebentar lagi ia mengangkat jangkar lalu siap pergi berlayar, dan baru akan merapat kembali di tahun depan.

Rasanya baru kemarin kita mengucapkan ‘Marhaban Ya Ramadan’ Selamat datang bulan Ramadan, bulan penuh ampunan, bulan penuh kemuliaan, bulan di mana segala amal kebaikan dilipatgandakan.

Tapi telah tiba saatnya untuk kita mengucapkan kalimat perpisahan, ‘wada’an ya Ramadan’, selamat tinggal Ramadan. Ingin rasanya kita berucap, ‘pelan-pelan Ramadan’ jangan cepat-cepat meninggalkan kami, kami masih rindu.

Dosa-dosa masih menggunung, pada maksiat masih terikat, sedangkan amal shalih belum lagi cukup, ampunan masih terus diharap. Duhai, Ramadan. Pelan-pelan saja.

Sepertki kata pepatah, ‘Waktu itu bagai pedang, jika kau tidak memotongnya, ia memotongmu’. Karena tabiat dari waktu itu kejam, tidak akan pernah kompromi untuk mereka yang tidak mengerti. Waktu akan menggilas mereka yang tidak tahu diri.

Maka memeriksa diri adalah bagian dari kebiasaan para salaful ummah. Mengoreksi amal-amal yang sudah dikerjakan sembari menyisakan satu keresahan yang selalu mereka jaga; akankah amal-amal ini diterima.

Begitulah para salaf tidak mudah berpuas diri dari amal-amal mereka. Karena rasa khawatir amal tidak diterima adalah bagian dari untuk terus berbenah. Merasa tidak pernah cukup dengan amal-amal yang sudah ada.

Muhasabah para salaf di penghujung Ramadan

Para salaful ummah adalah contoh sekaligus teladan terbaik perihal bagaimana beramal ketika Ramadan. Mereka adalah pribadi-pribadi agung yang selalu bersemangat ketika Ramadan tiba.

Mereka adalah generasi terbaik dari umat Nabi, hal itu telah dijamin lewat sabda Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa salam:

خَيْرُ النَّاسِ قَرْنِي ثُمَّ الَّذِينَ يَلُونَهُمْ ثُمَّ الَّذِينَ يَلُونَهُمْ

“Sebaik-baik generasi adalah generasiku, kemudian generasi setelahnya, kemudian generasi setelahnya.” (HR. al-Bukhari dan Muslim)

Ada tiga generasi terbaik umat ini; generasi para sahabat, para tabi’in dan tabiut tabi’in. Dan mereka adalah contoh terbaik bagi generasi selanjutnya perihal bagaimana menjalankan agama ini.

Terkhusus ketika bulan Ramadan, para salaf setelah memenuhi bulan Ramadan dengan amal-amal ketaatan dan keshalihan. Lalu mereka menutupnya dengan bermuhasabah; memeriksa kembali setiap amal yang dikerjakan.

Hal ini berdasarkan firman Allah Ta’ala:

يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ ٱتَّقُواْ ٱللَّهَ وَلۡتَنظُرۡ نَفۡسٍ مَّا قَدَّمَتۡ لِغَدٍۖ

Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat).” (QS. Al-Hasyr: 18)

Imam al-Ghazali mengomentari ayat ini, bahwa ayat ini mengandung isyarat untuk melakukan muhasabah atas setiap amal yang telah dikerjakan.

Umar bin Khattab juga pernah berkata, “Hisablah diri kalian sebelum kelak dihisab, dan timbanglah amal kalian sebelum kelak ditimbang.” (Ihya’ Ulumuddin, Muhammad bin Muhammad al-Ghazali, 1777)

Para salaf terdahulu, setelah selesai dari sebuah amal, maka mereka menyisakan satu ruang kekhawatiran di dalam diri mereka; kekhawatiran bahwa amal-amal tersebut tidak Allah terima.

Imam Ibnu Rajab menjelaskan, bahwa para salaf terdahulu adalah orang-orang yang sangat sungguh-sungguh dalam beramal dan menyempurnakan amal mereka. Kemudian mereka khawatir akan diterimanya amal tersebut.

Hal tersebut juga merupakan pesan dari ‘Ali bin Abi Thalib, “Jadikan perhatian kalian atas diterimanya amal lebih besar dibandingkan amal tersebut. Karena Allah berfirman:

إِنَّمَا يَتَقَبَّلُ ٱللَّهُ مِنَ ٱلۡمُتَّقِينَ

“Sesungguhnya Allah hanya menerima dari orang-orang yang bertakwa”. (QS. Al-Maidah: 27)”

Kegembiraan para salaf terdahulu adalah ketika mereka mengetahui bahwa amal-amal mereka telah diterima oleh Allah. seperti yang dikatakan Fadhalah bin ‘Ubaid, “Sekiranya aku mengetahui bahwa Allah telah menerima amalku yang sebesar biji sawi, lebih aku cintai daripada dunia dan seisinya.” (lihat: Lathaif al-Ma’arif, Ibnu Rajab al-Hanbali, 375)

Inilah teladan para salaful ummah tentang bagaimana mereka bermuhasabah di penghujung Ramadan. Setelah sebulan beramal dan menumpuk ketaatan, mereka masih memiliki satu rasa kekhawatiran akan tidak diterimanya amal.

Para salaf terdahulu membagi tahun mereka menjadi dua. Enam bulan sebelum Ramadan mereka berdoa kepada Allah agar menyampaikan usia mereka hingga tiba datangnya bulan mulia.

Adapun setelah Ramadan selesai, mereka bermunajat pada paruh waktu sisanya agar Allah menerima amal mereka ketika Ramadan. Dan hal ini merupakan satu hal yang selalu mereka ingatkan.

Pada satu kesempatan shalat ‘Idul Fitri, Umar bin Abdul ‘Aziz menyampaikan Khutbanya:

أَيُّهَا النَّاسُ! إِنَّكُمْ صُمْتُمْ لِلّهِ ثَلَاثِينَ يَوْمًا، وَقُمْتُمْ ثَلَاِثينَ لَيْلَةً، وَ خَرَجْتُمْ الْيَومَ تَطْلُبُونَ مِنَ اللهِ أَنْ يَتَقَبَّلَ مِنْكُمْ

“Wahai sekalian manusia, sesungguhnya kalian telah berpuasa karena Allah selama tiga puluh hari, dan kalian telah qiyamullail selama tiga puluh hari juga. Dan hari ini kalian keluar (untuk shalat ‘id) meminta kepada Allah agar menerima amal-amal kalian.” (Lata’if al-Ma’arif, Ibnu Rajab al-Hanbali, 376)

Begitulah para salaf berharap, agar Allah menerima amal-amal mereka. Maka salah satu sunnah ketika ’idul fitri tiba adalah; saling mendoakan di antara kita, agar Allah menerima amal taat selama Ramadan.

Salah satu sunah dan kebiasaan para sahabat adalah saling mendoakan ketika hari raya ‘id dengan saling mengucapkan:

تَقَبَّلَ اللهُ مِنَّا وَ مِنْكُمْ

Semoga Allah menerima amal kami dan kalian.” (HR. al-Baihaqi dalam Sunan al-Kubra)

Jangan Menjadi Orang Yang Rugi

Rasulullah shalallahu ‘alahi wa salam mengingatkan, bahwa setiap amal tergantung niatnya. Dan juga, setiap amal tergantung dengan bagaimana akhirnya:

إِنَّمَا الْأَعْمَالُ بِالْخَوَاتِيْمِ

“Sesungguhnya setiap amalan tergantung pada akhirnya.” (HR. al-Bukhari)

Bayangkan, bagaimana para salaf terdahulu beramal begitu penuh kesungguhan di dalam bulan Ramadan. Puasa mereka baik, qiyamullail mereka baik, bacaan quran mereka baik. Akan tetapi masih khawatir, masih takut Allah tidak menerima amal mereka.

Lantas di mana kita dibandingkan para salaf terdahulu. Jauh panggang dari api, masih terlalu jauh dan sangat jauh amal-amal kita dibandingkan mereka.

Amal-amal masih terlalu sedikit, dosa-dosa kita masih membukit. Dan celakanya, kita masih tenang-tenang saja, tanpa khawatir apakah puasa kita diterima atau justru pahalanya menguap sia-sia.

Sebagaimana sabda Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasalam dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu:

رُبَّ صَائِمٍ لَيْسَ لَهُ  من صيامه اِلَّا الْجُوْعُ، وَ رُبَّ قّائِمٍ لَيْسَ لَهُ مِنْ قِيَامِهِ اِلَّا السَّهْرُ

“Betapa banyak mereka yang berpuasa tidak mendapatkan apa-apa (pahala) dari puasanya kecuali rasa lapar dan dahaga. Dan berapa banyak mereka yang bangun malam (untuk ibadah), tidak mendapatkan apa-apa (dari ibadahnya) kecuali hanya begadang.” (HR. an-Nasai, dan Ibnu Majah)

Maka salah satu jenis manusia yang merugi dalam Ramadan ini, adalah mereka yang hanya mendapatkan bagian lapar dan dahaga sebagai konskwensi dari puasa. Akan tetapi, pahala mereka lenyap menguap.

Maka masih ada waktu dan kesempatan untuk berbenah. Jika di awal waktu dari bulan suci ini kita melewatinya dengan sia-sia, maka pastikan di detik-detik terakhir kita segera perbaiki.

Jika kita memulai Ramadan ini dengan baik, maka di penghujung waktu dari Ramadan ini adalah kesempatan untuk meningkatkan amal ketaatan.

Karena amal itu tergantung akhirnya, tergantung endingya. Usaha dan amal-amal kita yang menentukan apakah Ramadan tahun ini akan berakhir dengan happy endding husnul khatimah.  Atau justru berkahir sad ending su’ul khatimah yang berbuah kecewa dan sia-sia.

Tulisan singkat ini kami tutup dengan bait kalimat dari Ibnu Rajab al-Hanbali tentang perpisahan dengan bulan penuh ampunan:

Duhai Ramadan, Pelan-pelan.

Air mata para pecinta pecah tak tertahan.

Hati mereka perih dengan perpisahan.

Semoga jedamu dari berpisah bisa mematikan api kerinduan.

Semoga kesempatan sesaat untuk bertaubat menambal puasa yang penuh kecacatan

Semoga amal-amal mendapat tempat penerimaan.

Semoga mereka yang tertawan dosanya memperoleh ampunan.

Semoga mereka yang sepantasnya menerima neraka dibebaskan.

Dan semoga, atas para pendosa, Rahmat-Nya berkenan diberikan.

(Lataif al-Ma’arif, Ibnu Rajab, 388)