Mutiara Hidup Seorang Muslim

0

Mutiara Hidup Seorang Muslim

Oleh: Ust. Oemar Mita, Lc

Mutiara yang paling indah serta berkilau dalam hidup seorang hamba ialah ibu-bapak. Seorang Ibu telah melahirkan dan merawat tanpa letih seorang anak hingga layak mengarungi kehidupan. Membalut hidup sang anak dengan untaian doa ketulusan yang ia panjatkan kepada Sang Rahman.

Dengan hatinya yang lapang dan lebar selalu memaafkan anak dengan segala khilaf dan aib-nya. Dengan keridhoanya, mengakhirkan butuh dan hajatnya hanya karena mendahulukan anak dalam kebutuhannya.

Dengan sabarnya terkadang ia menangis di hatinya tapi tetap tersenyum supaya menjaga hati anak-nya supaya tidak larut dalam kesedihan. Lebih memilih sakit dan mati untuk dirinya daripada melihat buah hati terkena sakit. Maka mutiara berharga di kehidupan dunia ialah ibu serta bapak.

Salaf dan mutiara hidup mereka

Suatu hari, Ibnu Umar melihat seorang yang menggendong ibunya sambil thawaf mengelilingi Ka’bah. Orang tersebut lalu berkata kepada Ibnu Umar, “Wahai Ibnu Umar, menurut pendapatmu apakah aku sudah membalas kebaikan ibuku?” Ibnu Umar menjawab, “Belum, meskipun sekadar satu erangan ibumu ketika melahirkanmu. Akan tetapi engkau sudah berbuat baik. Allah akan memberikan balasan yang banyak kepadamu terhadap sedikit amal yang engkau lakukan.” (Al-Kabair, karya adz-Dzahabi)

Ali bin Husain bin Ali bin Abi Thalib adalah seorang yang terkenal sangat berbakti kepada ibunya, sampai-sampai ada orang yang berkata kepadanya, “Engkau adalah orang yang paling berbakti kepada ibumu, akan tetapi kami tidak pernah melihatmu makan bersama ibumu.” Beliau menjawab, “Aku takut kalau-kalau tanganku mengambil makanan yang sudah dilirik oleh ibuku. Sehingga aku berarti mendurhakainya.” (Uyunul Akhyar, karya Ibnu Qutaibah)

Abu Hurairah menempati sebuah rumah, sedangkan ibunya menempati rumah yang lain. Apabila Abu Hurairah ingin keluar rumah, maka beliau berdiri terlebih dahulu di depan pintu rumah ibunya seraya mengatakan, “Keselamatan untukmu, wahai ibuku, dan rahmat Allah serta barakahnya.” Ibunya menjawab, “Dan untukmu keselamatan wahai anakku, dan rahmat Allah serta barakahnya.” Abu Hurairah kemudian berkata, “Semoga Allah menyayangimu karena engkau telah mendidikku semasa aku kecil.” Ibunya pun menjawab, “Dan semoga Allah merahmatimu karena engkau telah berbakti kepadaku saat aku berusia lanjut.” Demikian pula yang dilakukan oleh Abu Hurairah ketika hendak memasuki rumah.” (Adab al-Mufrad, karya Imam Bukhari)

Dari Anas bin Nadzr al-Asyja’i, beliau bercerita, suatu malam ibu dari sahabat Ibnu Mas’ud meminta air minum kepada anaknya. Setelah Ibnu Mas’ud datang membawa air minum, ternyata sang Ibu sudah ketiduran. Akhirnya Ibnu Mas’ud berdiri di dekat kepala ibunya sambil memegang wadah berisi air tersebut hingga pagi.” (Birrul walidain, karya Ibnu Jauzi)

Sufyan bin Uyainah mengatakan, “Ada seorang yang pulang dari bepergian, dia sampai di rumahnya bertepatan dengan ibunya berdiri mengerjakan shalat. Orang tersebut enggan duduk padahal ibunya berdiri. Mengetahui hal tersebut sang ibu lantas memanjangkan shalatnya, agar makin besar pahala yang di dapatkan anaknya. (Birrul walidain, karya Ibnu Jauzi)

Membuka pintu langit

Tiada kebaikan yang Allah segerakan balasanya kecuali kebaikan yang diberikan kepada ibu bapaknya, sebagaimana kejahatan yang Alloh segerakan pembalasanya kecuali kejahatan kepada ibu bapak.

Renungkanlah, seorang Uwais al Qorni seorang tabiin yang senantiasa doanya membuka pintu langit serta tiada pernah tertolak disisi Alloh, kemuliaaan sedemikian agungnya ia peroleh karena baktinya tiada putus kepada ibu-nya dalam sakit hingga meninggal.

Siapapun yang hari ini ditemani ibu bapak, maka bersuka citalah karena engkau masih diberikan kesempatan mendapatkan pintu tengah syurga, yaitu pintu tengah yang paling indah menuju indahnya surga.