Prioritas Dakwah di Pedalaman

0

Prioritas Dakwah di Pedalaman

Dalam beberapa tahun terakhir, geliat dakwah Islam melanda wilayah perkotaan dan generasi muda. Beberapa ulama muda tampil menjadi juru dakwah kondang di kalangan menengah ke atas, pejabat, pengusaha, dan bahkan artis. Sebut saja misalnya Ust. Abdus Shomad di Riau, Ust. Bachtiar Nashir, Adi Hidayat, Dan Oemar Mita di Jabodetabek, Ust. Hanan Attaki di Bandung, Ust. Salim A. Fillah di Yogyakarta, dan Ust. Khalid Basalamah di Makasar.

Kegiatan dakwah para ulama muda tersebut meningkatkan semangat keislaman di kalangan pelajar, mahasiswa, dosen, pengusaha, pejabat, dan artis di kota-kota besar. Masjid-masjid mulai ramai oleh jamaah shalat dan jamaah pengajian dari kalangan remaja dan pemuda. Penerbitan Al-Qur’an dan terjemahannya, juga buku-buku bacaan Islam, juga mengalami peningkatan yang cukup signifikan. Vidio-vidio ceramah dan kajian keislaman mereka di chanel youtube disaksikan oleh ratusan ribu pemirsa.

Patut disayangkan, semarak dakwah di wilayah perkotaan dan masyarakat menengah ke atas tersebut belum menular ke wilayah pedesaan dan pelosok pedalaman secara merata. Apa yang harus dilakukan oleh para da’I untuk meningkatkan pembinaan dakwah Islam di wilayah pedesaan dan pelosok pedalaman?

Meningkatkan Kwantitas Da’i

Tidak diragukan lagi bahwa banyak desa dan wilayah pelosok pedalaman yang masih kosong dari keberadaaan para da’I. langkah pertama yang harus ditempuh adalah mengirim para da’I untuk berdakwah ke wilayah pedesaan dan pelosok pedalaman. Baik da’i yang akan menetap di daerah garapan dakwah tersebut maupun da’i yang datang ke wilayah garap tersebut secara berkala, misalnya sepekan sekali atau sebulan sekali.

Tentu sangat baik apabila umat Islam atau ormas-ormas Islam menyiapkan seorang da’i untuk setiap kampung. Dengan keberadaan minimal seorang da’i dalam setiap kampung, niscaya da’i tersebut dapat mengisi kajian keislaman secara bergiliran dalam dua sampai empat masjid atau mushalla dalam sebuah kampung. Ia juga bisa menjadi imam rawatib di masjid jami’ dalam kampung tersebut, sebagai pusat kegiatan pembinaan umat Islam.

Selama ini program minimal seorang da’i untuk setiap kampung belum mampu dilakukan oleh umat Islam. Di antara kendalanya adalah jumlah da’i yang belum cukup. atau karena tidak ada dukungan dana untuk biaya hidup sang da’i dan kegiatan-kegiatan dakwahnya, atau karena lemahnya koordinasi dan kerjasama dakwah di antara ormas-ormas Islam di tanah air. Masing-masing kendala harus diurai dan dipecahkan satu per satu, agar penempatan minimal seorang da’i untuk masing-masing kampung bisa terpenuhi.

Meningkatkan Kwalitas Da’i

Da’i-da’i yang ditugaskan, atau bertugas secara sukarela, di wilayah pedesaan dan pelosok pedalaman tertuntut untuk memiliki kwalitas yang tinggi. Baik kekuatan imannya, tingkat keilmuan dan pengetahuan keagamaannya, kesabaran dan ketabahannya dalam berjuang, maupun kemampuan bergaul dengan masyarakat. Kemampuan tersebut hendaknya tidak kalah jauh dengan para da’i yang berdakwah di perkotaan.

Lebih dari itu, sang da’i sebaiknya memiliki keahlian mencari nafkah sesuai kondisi alam pedesaan tempatnya berdakwah, seperti keahlian bercocok tanam, beternak, bertukang, atau berdagang misalnya. Kemandirian ekonomi sangat penting bagi da’i di pedesaan dan pelosok pedalaman, agar ia tidak menjadi “beban tambahan” bagi masyarakat yang menjadi obyek dakwahnya. Sebab, wilayah pedesaan dan pelosok pedalaman rata-rata bukanlah “lahan basah” layaknya dakwah di perkotaan.

Akan lebih baik lagi apabila sang da’i di pedesaan dan pelosok pedalaman menjadi pemberi solusi atas problem ekonomi yang seringkali menjadi beban hidup mayorltas penduduk pedesaan. Di wilayah pertanian, misalnya, Jika sang da’i membawa teknologi pengolahan hasil bumi menjadi produk makanan yang harganya tinggi, insya Allah dakwahnya akan lebih diterima oleh masyarakat petani. Sebab, kehadirannya dirasakan memberi manfaat ekonoml oleh warga, di samping manfaat keagamaan.

Totalitas Dakwah

Salah satu tugas berat para da’i di pedesaan dan pelosok pedalaman adalah memberikan bimbingan keislaman untuk semua umat Istam, dengan beragam usia, jenis kelamin, dan latar belakang Pendidikan mereka. Para da’i tersebut dituntut untuk mengerahkan totalitas usaha, waktu, pikiran dan tenaganya bagi keberlangsungan dakwah Islam di tempat tugasnya.

Di antara wujudnya adalah:

Para da’i tersebut harus mengajak masyarakatnya,mengajarkan dan memberikan keteladanan nyata kepada mereka dalam perkara shalat wajib lima waktu secara berjamaah di masjid. Tidak jarang para da’i harus berperan sebagai marbot masjid, muadzin, Imam shalat dan khatib Jum’at sekaligus.

Menghidupkan gerakan ngaji untuk anak-anak usia TK, SD,SMP dan SMA. Baik dalam bentuk TPA maupun madrasah diniyah.

Mengadakan kajian bapak-bapak, kajian ibu-ibu, maupun kajian umum. Minimal sekali dalam sepekan.

Penyaluran zakat, infak, dan sedekah kaum muslimin kepada masyarakat obyek dakwahnya.

Wallahu a’lam.

[Abu Ammar majalah hujjah edisi 55]