Saat Harus Jadi Single Mother

0

Saat Harus Jadi Single Mother

Oleh: Ust. Taufik Anwar

Hannah, seorang muslimah di daratan Eropa yang menjanda karena ditinggal begitu saja oleh suaminya. Dalam sebuah forum online diskusi muslimah, dia curhat tentang delima yang dihadapinya. Di satu sisi dia merasa berat menjalani hidup dan membesarkan anak-anaknya tanpa suami. Di sisi lain, mencari suami muslim, apalagi yang berpredikat “shalih” di negerinya jelas bukan hal mudah.

Jawaban pun berdatangan, sebagian memintanya untuk berdoa, memohon jodoh yang lebih baik kepada Allah. Bagaimanapun juga, berjuang bersama pasangan jelas lebih ringan. Anak anak juga membutuhkan figur ayah. Sebagian lain justru berusaha membangkitkan semangat ibu Hannah untuk berjuang menjadi single mother, mendidik dan membesarkan anak-anaknya sendirian. Mereka pun berbagi pengalaman, bagaimana mereka kuat menjalani hidup sebagai single mother. Mencari lelaki yang baik dan penyayang sangat susah. Apa gunanya menikah algi jika akhirnya harus kandas lagi. Itu bisa lebih menyakitkan dan berpotensi mengganggu mental anak.

Demikianlah, dan diskusi pun berjalan hangat. Kasus semacam itu tak hanya menimpa Hannah. Ada sekian banyak muslimah yang harus menjanda dengan berbagai sebab. Suaminya pergi begitu saja, cerai dan suami tidak bisa atau memang ogah mengurus anak, atau karena sang suami meninggal dunia.

Nah, bagi muslimah yang mengalami masalah ini, pertama hendaknya menambah kedekatannya kepada Allah. Kedua, mulailah menata hati untuk menentukan pilihan. Jika ingin segera move on alias beranjak dari belenggu kesedihan lalu bergerak ke depan dengan menikah lagi, siapkan mental dan hati. Pancangkan niat menikah untuk mencari pasangan yang siap berjuang bersama. Sederhanakan kriteria pada apa yang sebenarnya anda cari dengan menikah. Memusingkan gelar apalagi level ketampanan yang tinggi tentu bukanlah sikap bijak. Fokuslah saja pada kesiapan menerima anda apa adanya dan siap membangun rumah tangga demi meraih ridha-Nya. Semoga Allah memudahkan langkah anda.

Adapun yang bertekad berjuang sendiri menjadi single mother, secara hukum memang tidak terlarang. Hanya saja, langkah ini butuh kesiapan hati, mental, pikiran dan kesabaran yang cukup. Lain dari itu, niat juga harus disesuaikan dengan tujuan syar’i.

Dalam Islam, seorang muslimah yang menjanda boleh tetap menjanda hingga akhir hayatnya dengan niat yang benar.

Pertama, karena ingin tetap menjadi istri dari suaminya yang telah meninggal. Karena sang suami adalah seorang yang shalih, sejauh yang ia tahu, dan sangat dicintai, ia enggan berpindah ke lain hati. Seorang wanita, jika masuk jannah dan suaminya juga masuk jannah, ia akan bersanding kembali dengan sang suami. Adapun jika suami meninggal alu dia menikah lagi, dia akan menjadi istri bagi suami terakhirnya di dunia, tentu jika keduanya masuk jannah.

Melihat keshalihan suaminya, Ummu Darda’ enggan menikah lagi sepeninggal sang suami. Bahkan ketika dilamar oleh sang Khalifah pun, ia bergeming. Diriwayatkan bahwa Muawiyyah bin Abi Sufyan melamar Ummu Darda’, tetapi Ummu Darda’ menolak dengan berkata, “Aku mendengar Abu Darda’ berkata, Rasulullah bersabda, “Wanita itu akan menjadi milik suami terakhir yang menikahinya. Dan aku tidak menginginkan pengganti Abu Darda’.” Disebutkan pula dalam hadits lain:

أَيّمُاَ اِمْرَأَةٍ تُوُفِيَ عَنْهَا زَوْجُهَا ،فَتَزَوَّجَتْ بَعْدَهُ ،فَهِيَ لِآخِرِ أَزْوَاجِهَا

“Seorang istri yang ditingga mati suaminya, lalu menikah lagi setelahnya, dia akan menjadi milik suami terakhir yang menikahinya.” (HR. Ath-Thabrani, dinilai shahih oleh Syaikh Al Albani)

Kedua, ingin fokus membesarkan anak-anak, mendidik mereka dengan berazam untuk tetap menjaga diri dan kehormatannya.

Rasulullah bersabda, “Aku dan wanita yang hitam kedua pipinya seperti ini di hari kiamat.” Yazid (sang perawi) berisyarat dengan jari tengah dan jari telunjuknya. Dia adalah seorang wanita yang menjanda karena ditinggal mati suaminya. Dia terhormat dan cantik, tapi rela menahan dirinya untuk membersamai anak-anak yatim yang ditinggal mati ayahnya sampai mereka memisahkan diri atau meninggal dunia.” (HR. Abu Daud dan Ahmad)

Syuaib Al-Arnauth berkata bahwa hadits ini statusnya bisa diterima dengan nilai “hasan lighairihi.” Akan tetapi Syaikh Al-Albani menyatakan hadits ini lemah, sebagaimana disebutkan dalam kitab Dhaif Sunan Abi Daud.

Namun demikian, sejarah telah mengisahkan kesuksesan muslimah-muslimah yang memilih menjadi single mother. Mareka adalah wanita-wanita luar biasa yang meski namanya tak terkenal, tapi sejarahnya mewangi bersama wanginya nama sang putra.

Ibunda Imam Ahmad salah satunya. Beliau adalah single mother yang hebat. Sang suami telah mangkat sejak Imam Ahmad kecil. Beliau pun melanjutkan hidup dengan fokus mendidik putranya untuk belajar Islam. Beliau senantiasa memotivasi, mendisiplinkan diri dan putranya untuk beribadah dan mencintai ilmu. Hasilnya, sang putra menjadi ahli hadits ternama dan Imam Madzhab.

Ibunda Imam Syafi’i pun demikian. Sejak sang suami wafat, beliau fokus mendidik Imam Syafi’i. Kekurangan harta tak menghalangi sang ibu untuk terus menghasung putranya agar terus belajar Islam. Ia terus mendaras doa agar berkah Allah turun kepada Syafi’i kecil dengan deras. Bahkan ia rela melepas Syafi’i pergi mencari ilmu, padahal sebenarnya ia berharap, Syafi’i dapat menjadi tumpuannya saat masa tuanya tiba. Usaha, doa dan pengorbanannya pun tidak sia-sia. Anaknya menjadi seorang Imam besar yang taat kepada Allah, berwawasan luas dan menjadi panutan umat.

Satu lagi. Ibunda Imam Bukhari. Beliau juga membesarkan sang Bukhari kecil tanpa bantuan sang ayah yang meninggal saat Imam Bukhari masih kanak-kanak. Meski harta peninggalan sang ayah lebih dari cukup, namun tetap saja mendidik seorang anak hingga bisa menjadi ‘orang besar’ membutuhkan perjuangan. Dan akhirnya, sukses! Sang putra menjadi ahli hadits yang ternama sedunia. Bahkan kitab yang disusunnya menjadi landasan nomer wahid dalam hal keshahihan hadits.

Pilihan ada di tangan anda. Dua-duanya sama baik asalkan dijalani dengan mengikuti arahan syariat dan disertai usaha yang maksimal. Memilih menikah merupakan pilihan yang sesuai sunnah, dekat dengan berkah dan membuat hidup lebih mudah. Adapun memilih tetap menjanda, atau memang sementara belum ada pilihan lain selain menjadi single mother, pun bukan pilihan salah. Pintu kebaikan tetap terbuka dan peluang menjadi ibu sukses terbentang di hadapan anda. Jalani semuanya dengan hati yang senantiasa menengadah kasih, rahmat, dan anugerah kesabaran dari-Nya. Insyallah, Allah akan menuntun anda menemui takdir terbaik daam hidup anda. Wallahul musta’an.

(sumber majalah ar risalah edisi 155)