Sillaturrahmi Saat Pandemi

0

Sillaturrahmi Saat Pandemi

Oleh: Ust. Zaid Royani, S.Pd.I

Kita berada di bulan syawwal, diantara tradisi masyarakat Indonesia sejak dahulu hingga sekarang saat lebaran adalah sillaturrahmi, baik dengan mudik, berkunjung ke tetangga, sahabat dan lainnya.

Namun ada yang berbeda pada lebaran kali ini, hal mana tradisi ini belum memungkinkan untuk dilakukan disebagian tempat karena pademi covid 19. Hal ini tentunya membuat kesedihan tersendiri bagi kaum muslimin, karena tidak bisa sillaturrahmi secara langsung.

Namun, ada beberapa cara yang bisa kita lakukan agar tetap bisa sillaturrahmi dan mendapat pahalanya meski tidak bertemu secara langsung. Yaitu dengan melakukan beberapa hal:

Pertama, Saling mendo’akan.

Saling mendoakan kebaikan sesam a muslim termasuk bentuk sillaturrahmi.  Rasulullah shallallahu ‘alaihi  wasallam bersabda:

مَا مِنْ عَبْدٍ مُسْلِمٍ يَدْعُو لِأَخِيهِ بِظَهْرِ الْغَيْبِ، إِلَّا قَالَ الْمَلَكُ: وَلَكَ بِمِثْلٍ

“Tidak ada seorang hamba Muslim yang berkenan mendoakan saudaranya tanpa sepengetahuan orang yang didoakan kecuali malaikat mendoakan orang yang berdoa tersebut dengan kalimat ‘Kamu juga mendapat sama persis sebagaimana doa yang kamu ucapkan itu,” (HR. Muslim: 4094).

Kedua, Memberi sedekah atau hadiah

Bentuk sillaturrahmi lainnya adalah dengan memberikan sedekah atau hadiah, infak kepada kerabat atau saudara yang membutuhkan. Jika termasuk orang yang berkecukupan maka pemberian kita bisa menjadi hadiah baginya.

Bahkan sebelum memberi sedekah kepada orang lain hendaknya memulai dari kerabat atau saudara yang membutuhkan.  Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

أَفْضَلُ الصَّدَقَةِ جُهْدُ الْمُقِلِّ وَ ابْدَأْ بِمَنْ تَعُوْلُ

Sedekah yang paling utama adalah sedekah maksimal orang yang tidak punya, dan mulailah dari orang yang kamu tanggung.” (HR. Abu Dawud dan Hakim, dishahihkan oleh Syaikh al-Albani dalam Shahihul Jami’ no. 1112)

Mengapa keluarga lebih diutamakan untuk diberi sedekah daripada orang lain?, hal ini dikarenakan selain bernilai sedekah hal tersebut terhitung sebagai amal shillaturrahmi. Sehingga pelakuknya mendapat dua pahala sekaligus.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam juga bersabda:

اَلصَّدَقَةُ عَلَى الْمِسْكِيْنِ صَدَقَةٌ وَ هِيَ عَلَى ذِي الرَّحِمِ اثْنَتَانِ  :  صَدَقَةٌ وَ صِلَةٌ

Bersedekah kepada orang miskin adalah satu sedekah, dan kepada kerabat ada dua (kebaikan); sedekah dan silaturrahim.” (HR. Ahmad, Tirmidzi, Nasa’i, Ibnu Majah dan Hakim, Shahihul Jami’ no. 3858)

Ketiga: Membersamai Dalam Suka dan Duka

Sikap saling peduli, simpati dan perhatian kepada keluarga baik dalam keadaan senang atau sedih akan menguatkan tali sillaturrahmi.

Ketika keluarga sedang dalam keadaan bahagia kita ikut dalam kebahagiaan itu, jika saat sedang mengalami kesedihan maka kita ikut juga dalam kesedihan itu.

Diriwayatkan dari  Nu’man bin Basyir bahwa Rasulullahshallallahu ‘alaihi wa sallam juga bersabda:

مَثَلُ الْمُؤْمِنِينَ فِي تَوَادِّهِمْ وَتَرَاحُمِهِمْ وَتَعَاطُفِهِمْ مَثَلُ الْجَسَدِ إِذَا اشْتَكَى مِنْهُ عُضْوٌ تَدَاعَى لَهُ سَائِرُ الْجَسَدِ بِالسَّهَرِ وَالْحُمَّى

Perumpamaan orang-orang mukmin dalam hal kasih sayang bagaikan satu tubuh, apabila satu anggota badan merintih kesakitan maka sekujur badan akan merasakan panas dan demam. (HR. Muslim)

Jangan sampai yang terjadi justru terbalik, saat keluarga lapang kita bersama mereka namun saat kesusahan justru kita tinggalkan.

Keempat, Tidak saling menyakiti, seperti menghibah, memfitnah dll.

Menahan diri untuk tidak menyakiti saudara muslim termasuk bentuk sillaturrami. Karena makna sillaturahmi adalah berupaya berbuat baik kepada kerabat dan saudara dan berupaya untuk tidak memberikan keburukan.

Al Qoti’ (orang yang memutus sillaturrahmi) adalah orang yang tidak berbuat baik dan menyakiti saudaranya, seperti menghibah, fitnah, adu domba dan lainnya.

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ : قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صلى الله عليه وسلم : لاَ تَحَاسَدُوا وَلاَ تَنَاجَشُوا وَلاَ تَبَاغَضُوا وَلاَ تَدَابَرُوا وَلاَ يَبِعْ بَعْضُكُمْ عَلَى بَيْعِ بَعْضٍ وَكُوْنُوا عِبَادَ اللهِ إِخْوَاناً. الْمُسْلِمُ أَخُو الْمُسْلِمِ لاَ يَظْلِمُهُ وَلاَ يَخْذُلُهُ وَلاَ يَكْذِبُهُ وَلاَ يَحْقِرُهُ. التَّقْوَى هَهُنَا –وَيُشِيْرُ إِلَى صَدْرِهِ ثَلاَثَ مَرَّاتٍ – بِحَسَبِ امْرِئٍ مِنَ الشَّرِّ أَنْ يَحْقِرَ أَخَاهُ الْمُسْلِمَ، كُلُّ الْمُسْلِمِ عَلَى الْمُسْلِمِ حَرَامٌ دَمُهُ وَمَالُهُ وَعِرْضُهُ

Dari Abu Hurairah radhiallahuanhu dia berkata: Rasulullah shallallahu`alaihi wa sallam bersabda: Janganlah kalian saling dengki, saling menipu, saling marah dan saling memutuskan hubungan. Dan janganlah kalian menjual sesuatu yang telah dijual kepada orang lain. Jadilah kalian hamba-hamba Allah yang bersaudara. Seorang muslim adalah saudara bagi muslim yang lainnya, (dia) tidak menzaliminya dan mengabaikannya, tidak mendustakannya dan tidak menghinanya. Taqwa itu disini (seraya menunjuk dadanya sebanyak tiga kali). Cukuplah seorang muslim dikatakan buruk jika dia menghina saudaranya yang muslim. Setiap muslim atas muslim yang lain; haram darahnya, hartanya dan kehormatannya.” (Riwayat Muslim).

Kelima, Mengajak kepada kebaikan dan mencegah dari kemungkaran

Mengajak keluarga kepada kebaikan adalah bentuk sillaturrahmi. Karena mengajak kepada kebaikan berarti ingin memberikan kebaikan itu kepada orang yang kita cintai. Sebaliknya membiarkan keluarga dalam kelalaian terhadap ibadah termasuk bentuk memutus sillaturrahmi.

Banyak ayat Al Qur’an yang memerintahkan agar mengajak keluarga kepada kebaikan. Allah ta’ala berfirman:

Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, keras, dan tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan. (QS. At Tahrim: 6)

Dalam ayat lainnya dijelaskan:

“Dan perintahkanlah kepada keluargamu mendirikan shalat dan bersabarlah kamu dalam mengerjakannya.” (QS. Thaha: 132)

Inilah beberapa amalan yang bisa kita lakukan agar tetap bisa bersillaturahmi dan mendapatkan pahalanya meski tidak bisa bertemu secara langsung, semoga kita bisa mengamalkannya. Wallahu a’lam.