Syirik Khas Zaman Now

0

Syirik Khas Zaman Now

Oleh: Ust. Lukman H. Syuhada, Lc

Syirik dosa terbesar. Bisa menghapus amal. Allah mengancam tak akan memberikan pengampunan bagi orang yang membawa dosa syirik sampai ke liang lahat tanpa taubat sebelum kematiannya.

masih menjadi persoalan serius di tengah umat Islam. Kepekaan umat dalam mengendus syirik masih lemah. Rasa takut umat terhadap syirik terbilang masih rendah.

Kepekaan mengendus, berawal dari persoalan mindset. Syirik kerap hanya dikaitkan dengan hal-hal yang berbau mistik. Padahal syirik lebih luas dari sekedar mistik.

Narasi Datar Tauhid Syirik

Penjelasan soal syirik di negeri ini cenderung hambar. Ibarat makanan, rasanya kurang “nendang”. Ada sesuatu yang kurang, tapi entah apa.

Dampaknya, banyak umat Islam tidak sadar sedang berada di dalam fenomena syirik karena kepekaannya dalam mengendus syirik lemah. Akhirnya umat bersikap santai, tidak gelisah dengan kenyataan yang ada. Bukan karena tidak mau gelisah, tapi kurang peka mengendus bau syirik sehingga gagal gelisah.

Rasa hambar itu agaknya bisa dirunut pada poin-poin di bawah ini, sebagai sebuah analisa mentah (hipotesa) bukan hasil riset yang mendalam. Karenanya boleh setuju boleh tidak.

1. Terjemahan kata tauhid. Sebagai lawan kata syirik, pemahaman terhadap kata tauhid akan mempengaruhi pemahaman terhadap syirik. Tauhid diterjemahkan dengan mengesakan Allah. Padahal mengesakan Allah itu baru mencakup kulit tauhid. Belum intinya.

Terjemahan meng-esa-kan atau Allah Maha Esa terasa sakral bukan karena kandungan maknanya, tapi karena bahasa yang dipakai. Esa dari bahasa Sansekerta, cenderung terasa lebih sakral dibanding satu (Indonesia) atau one (Inggris).

Hal ini merupakan bagian dari nilai budaya khas Indonesia yang menekankan sopan santun berbahasa. Secara budaya, Esa dijadikan kata khas untuk Allah, sementara satu untuk manusia. Sebagaimana kata firman untuk Allah, sabda untuk Nabi saw dan kata untuk orangh biasa. Makna sama.

Secara arti, mengesakan dan Maha Esa itu lebih sebagai penegasan jumlah. Tuhan itu satu, bukan dua atau lebih. Tapi pengakuan dan keyakinan bahwa Allah itu tunggal tidak lantas menjadikan yang bersangkutan menjadi mukmin. Pengakuan Tuhan itu Esa sudah diyakini masyarakat Jahiliyah zaman Nabi saw tapi keyakinan itu tak membuat mereka disebut telah bertauhid.

2. Terjemahan kata syirik. Kata ini selalu diterjemahkan dengan menyekutukan Allah. Atau membuat sekutu bagi Allah.

Secara arti tidak ada masalah dengan terjemahan ini. Benar, sebab kata syirik secara bahasa artinya serikat atau sekutu. Atau kongsi.

Problemnya hanya kata sekutu atau menyekutukan Allah tidak mudah dipahami oleh pikiran orang Indonesia, karena tidak ada pemakaian lain yang bisa dijadikan pembanding. Kata menyekutukan tidak pernah dipakai dalam kehidupan sehari-hari, setidaknya tidak familiar. Pemakaiannya khusus untuk terjemah kata syirik saja.

Orang Indonesia tak mudah menangkap makna kata menyekutukan. Orang Indonesia lebih akrab dengan kata menduakan atau dualisme atau selingkuh. Atau dobel atau ganda atau multiple. Atau membuat tandingan.

Sebagai contoh, ketika ada agen rahasia yang bekerja untuk dua negara, orang menyebutnya agen ganda. Tidak ada yang menyebut menyekutukan keagenan.

Ketika ada istri yang punya suami sah, tapi punya hubungan rahasia dengan pria lain, tak ada yang menyebut perbuatan itu sebagai menyekutukan suami. Tapi orang Indonesia akan menyebutnya dengan berselingkuh atau menduakan suami atau mengkhianati suami.

Dengan demikian, kata menyekutukan itu susah ditangkap maksudnya oleh akal orang indonesia, meski benar secara terjemahan. Akibatnya, rasanya kurang “nendang”. Substansinya tidak tertangkap. Perlu penjelasan lagi panjang lebar dengan kalimat berbeda agar masyarakat paham dan bisa menangkap substansinya.

3. Dalam pembahasan syirik, seringnya pandangan mata kita lebih tertuju kepada sosok yang dijadikan sekutu bagi Allah dalam sejarah manusia. Berhala menjadi sosok nomor wahid yang seolah identik dengan contoh syirik. Menyembah berhala adalah contoh syirik paling populer di mata masyarakat.

Pada zaman Jahiliyah, ada berhala bernama Latta, Uzza, Manat, Hubal dan lain-lain. Pada zaman Nuh as, ada Wadd, Suwa’, Yaghuts, Ya’uq, dan Nasr. Mereka adalah nama orang-orang shalih yang sudah wafat, lalu dikenang dengan cara dibuatkan patung dirinya agar masyarakat bisa mengaktualkan keteladanan mereka. Tapi bergantinya generasi membuat patung diri tersebut disembah.

Mereka hanya tahu bahwa menyekutukan Allah itu menyembah berhala, dan menyembah berhala itu menyekutukan Allah. Dua hal yang identik. Bahkan jika masyarakat awam diminta memberi contoh menyekutukan Allah selain menyembah berhala, cenderung bingung.

4. Pembahasan syirik lebih fokus pada mekanisme menjadikan sosok tertentu sebagai tandingan Allah.

Pada zaman Musa as ada sosok tiran arogan bernama Firaun. Ia menepuk dada sebagai Tuhan tandingan Allah dengan perkataannya ana rabbukumul a’la. Sosok Fir’aun menjadi sosok jahat yang dibenci manusia dalam sejarah karena kesombongannya mengklaim dirinya sebagai Tuhan.

Pada zaman jahiliyah, masyarakat Arab jika tidak menemukan berhala untuk disembah, mereka cukup membuat gundukan pasir lalu diberi perahan susu, maka mereka bisa menyembahnya seketika. Begitu mudah mereka menciptakan tuhan tandingan Allah.

Kita disuguhi narasi bagaimana orang-orang terdahulu menyekutukan Allah. Karenanya, syirik dipahami sebagai tindakan membuat tandingan untuk Allah.

5. Dalam membahas berhala, titik tekan narasi pada kekonyolan perbuatan menjadikan berhala sebagai tuhan yang disembah. Padahal berhala buatan manusia sendiri, bagaimana mungkin manusia menciptakan tuhan untuk dirinya sendiri. Lalu, betapa naif penyembahan itu, bukankah berhala tak bisa mendengar, melihat dan bicara?

Pesan yang lebih ditangkap masyarakat adalah sisi jahil alias dungu yang ditunjukkan oleh para penyembah berhala. Manusia berakal tapi menyembah batu yang benda mati, bukankah sebuah kedunguan alias jahiliyah? Bukan pesan “perselingkuhan” keyakinannya yang tertangkap.

6. Pembahasan syirik lebih fokus pada frasa “menyembah selain Allah”.

Menyembah dalam persepsi masyarakat harus mengandung gerakan seperti ruku’, sujud atau menangkupkan tangan di dada. Akibatnya, syirik menjadi identik dengan berhala, karena penyembahan semacam itu hanya terjadi pada berhala.

Dampak dari pemahaman ini, syirik menjadi sangat sempit, dan kini dianggap sudah tidak ada umat Islam menyembah berhala. Syirik semacam cerita masa lalu, sudah punah pada masa sekarang. Pemahaman umat terhadap syirik seolah terbingkai kata “menyembah”. Padahal syirik itu bisa datang melalui pintu wala’ (loyalitas), bukan hanya penyembahan.

Pemaknaan Sesuai Zaman

Zaman berhala sudah berlalu. Setidaknya di tengah umat Islam. Dan mungkin Yahudi. Atau Nasrani. Tradisi keberhalaan masih hidup di kalangan Hindu, Budha dan Konghucu. Mereka masih menjadikan berhala sebagai sembahan, di zaman semodern ini.

Pada zaman sekarang, orang membuat patung bukan untuk disembah. Tapi sekesar karya seni sebagaimana karya seni lain. Sebagaimana kita lihat di tugu Pancoran, tuhu Tani, patung selamat datang di bundaran HI, patung kuda di Monas dan lain-lain. Tidak ada lagi masyarakat yang datang menabur bunga di bawah patung-patung itu atau menangkupkan tangan sebagai simbol persembahan.

Artinya, kalaupun kita menolak kehadiran patung, lebih disebabkan Islam melarang visualisasi makhluk hidup dalam rupa patung, bukan karena ia adalah berhala yang disembah masyarakat. Niat pembuatnya juga bukan untuk disembah, tapi sebagai karya seni instalasi untuk hiasan kota. Berbeda dengan zaman dahulu, sejak awal pembuatnya meniatkan untuk disembah.

Dengan demikian, penjelasan syirik dengan hanya menyembah berhala, pada zaman modern sudah tidak relevan. Maksudnya, penyembahan berhala dijadikan satu-satunya bentuk syirik, tidak diperluas pada kasus lain yang serupa. Penjelasan syirik dengan menyembah berhala masih relevan jika hanya dijadikan contoh untuk menjelaskan bentuk-bentuk syirik lain yang terjadi di tengah masyarakat. Masyarakat modern harus dikenalkan bentuk syirik modern, jangan masyarakat modern dikenalkan bentuk syirik klasik yang sudah hilang dengan bergantinya zaman. Kurang nyambung.

Maka diperlukan pemaknaan syirik yang lebih substansial. Sebuah makna yang tak lekang oleh zaman. Sebagai pegangan nilai dalam melihat fenomena setiap zaman yang terus berubah.

Inti Makna Syirik

Inti makna syirik adalah tidak tunggal, tidak sendiri, bukan satu-satunya, ada yang lain. Kongsi dagang antara 3 orang, disebut syirkah – salah satu varian kata syirik. Kepemilikan dalam syirkah terbagi sesuai jumlah pemiliknya; bisa tiga, empat atau lebih. Saat untung dibagi sesuai porsi masing-masing, saat rugi juga dibagi sesuai porsi masing-masing.

Dengan demikian, substansi syirik adalah tidak menjadikan Allah sebagai satu-satunya, tapi menjadikan Allah hanya salah satu. Baik dalam kapasitas sebagai Pencipta, Raja, Pemilik, Pengatur, hak loyalitas, hak kecintaan, hak sembahan dan sebagainya.

Substansi syirik bukan pada membuat tandingannya, meski tidak salah sebagai penjelasan syirik. Bukan pada menyembahnya. Bukan pada mencintai selain Allah. Bukan pada jumlahnya yang tidak Esa. Tapi pada “meletakkan Allah hanya sebagai salah satu, bukan satu-satunya”.

Inti makna ini tak lekang oleh zaman. Sejak zaman Nuh as, Ibrahim as, Musa as, sampai kepada Muhammad saw substansi makna ini yang jadi persoalan. Termasuk pada zaman modern, yang kini berganti menjadi zaman millenial.

Substansi makna ini selaras dengan naluri atau sunnatullah alam semesta. Misalnya naluri bawaan manusia – salah satunya, suami. Bahwa hal yang membuat suami cemburu itu bukan pada siapa laki-laki yang dijadikan selingkuhan istrinya – jika lebih ganteng maka cemburu, jika lebih jelek maka tidak cemburu – tapi “pokoknya istri saya tidak menjadikan saya sebagai satu-satunya lelaki yang dicintainya maka saya cemburu”. Tidak ada urusan dengan lebih ganteng, lebih gagah, lebih kaya atau lebih yang lain.

Demikian pula dengan Allah swt. Berhala yang dijadikan tandingan lalu disembah hanyalah benda mati, tak akan menandingi kekuasaan Allah, tapi mengapa Allah cemburu? Berarti letak cemburunya bukan pada siapa sosok yang dijadikan tandingan, tapi pada “menduakannya” itu.

Demikian pula Firaun yang menepuk dada sebagai Tuhan tandingan Allah. Sehebat-hebatnya Fir’aun akan dengan mudah dicabut nyawanya oleh Allah, sama sekali bukan tandingan Allah yang patut diperhitungkan. Tapi karena tindakan itu menduakan Allah, maka Allah cemburu.

Maka segala bentuk pikiran, keyakinan, ucapan, tulisan, tindakan dan keputusan yang mengandung unsur menduakan Allah, layak disebut syirik. Jika yang diduakan Allah, maka istilah bakunya syirik. Istilah dan substansi sama – syirik. Jika yang diduakan Kitabullah, istilah bakunya bukan syirik, tapi secara substansi syirik. Jika yang diduakan Islam, istilah bakunya bukan syirik, tapi secara substansi syirik. Demikianlah seterusnya.

Syirik Modern Nan Khas

Sosok penguasa arogan yang mengklaim diri sebagai Tuhan – seperti Fir’aun – tidak ada di zaman modern. Berhala yang disembah juga sudah tidak ada, setidaknya di Indonesia dan negeri-negeri umat Islam lain.

Masih tersisa tradisi sedekah bumi, melarung kepala kambing ke pantai, perdukunan, sihir, pesugihan, dan sejenisnya yang dikategorikan syirik. Tapi lebih sebagai dampak pengajaran Islam yang belum tuntas dibanding sebagai inti ideologi sebagaimana pada zaman jahiliyah.

Ada fenomena modern yang lebih berbahaya dari itu. Layak masuk istilah syirik modern. Dan ia menjadi ruh ideologi negara. Punya orang tua asuh, negara super power dunia. Karenanya mengandung sentimen hidup mati yang keras.

Syirik modern itu bernama pemikiran, keyakinan dan ideologi Liberalisme / Pluralisme. Inilah sosok syirik khas zaman modern. Mereka tidak perlu menepuk dada sebagai Tuhan tandingan Allah, tidak perlu menciptakan patung, tidak perlu ziarah makam keramat, tidak perlu sedekah bumi, cukup dengan pemikiran, keyakinan dan ideologi. Tapi berangkat dari ideologi tersebut, semua menjadi mungkin dan bisa terjadi.

Liberalisme / Pluralisme merupakan ideologi yang mengharamkan Allah menjadi satu-satunya. Bagi Liberalisme / Pluralisme, Allah hanya boleh menjadi salah satu. Semua Tuhan yang diyakini masyarakat sesuai agamanya masing-masing, tidak ada yang salah, semuanya benar. Dan tidak ada yang boleh menyalahkan. Salah satu Tuhan itu, Allah. Dan itu harga mati. Mereka siap perang bubat dalam rangka mempertahankan ideologi Allah hanya salah satu tersebut.

Celakanya, Liberalisme / Pluralisme diadopsi sebagai jantung ideologi negara. Bukan hanya di sini, tapi seluruh negeri umat Islam.

Sebetulnya bukan salah penguasa sepenuhnya, karena mereka hanya boneka. Tapi biang kerok yang memaksakan ideologi ini adalah sang super power dunia – Amerika Serikat dan PBB.

Meski para penguasa hanya boneka, rasa cinta dan pembelaan terhadap ideologi Liberalisme / Pluralisme itu begitu kuat, bahkan lebih kuat dari sang super power sendiri. Entah dikasih makan atau mantera apa, para penguasa itu begitu loyal membela syirik modern ini. Mereka berani berdarah-darah head to head melawan umat Islam sendiri, yang menyoal ideologi syirik tersebut.

Penguasa kini sangat sensi. Mereka menciptakan stigma mujarab untuk menyingkirkan ideologi “Allah satu-satunya” dengan sebutan radikal. Bukan hanya menyasar mereka yang mendakwahkannya, bahkan siapapun yang punya pikiran “Allah satu-satunya” akan diberi label radikal. Luar biasa. Mereka sudah sampai pada level menghakimi pikiran. Mereka mengkhianati ideologi Liberal itu sendiri, sebab Liberalisme menjunjung tinggi kebebasan berpendapat – apalagi pikiran. Mereka mensakralkan Liberalisme tapi mengkhianati Liberalisme. Dasar !

Berarti kita masih terbelenggu oleh paham dan ideologi syirik. Bukan sembarang syirik, tapi syirik yang menyatu dengan kekuasaan, dan dipayungi Super Power dunia. Seperti syirik Fir’aun yang menyatu dengan kekuasaan. Syirik zaman Ibrahim as juga menyatu dengan kekuasaan raja Namrudz. Dan syirik zaman Nabi saw juga menyatu dengan kekuasaan Quraisy. Pertarungan menyingkirkan syirik yang menyatu dengan kekuasaan selalu berlangsung keras. Dan stigma radikal baru muqaddimah untuk babak panjang pertarungan itu – wal’iyadzu billah. Selamat datang hari-hari sabar, yang akan menyaring orang-orang sabar. Semoga kita semua dikaruniai kesabaran oleh Allah SWT.

والله أعلم بالصواب

(sumber: channel telegram Islam Mulia)