Pengajaran Ilmu

Saat ini kaum muslimin sedang dihadapkan dengan fitnah yang sangat besar, yang mampu mengalihkan manusia dari tujuan awal kehidupan, yaitu beribadah kepada Allah. Fitnah yang dimaksud adalah fitnah syubhat danfitnah syahwat.

Fitnah Syubhat akan menakibatkan rusaknya tujuan dan keinginan yang benar. Contoh dari penyakit syubhat ini adalah: keraguan dalam agama, kemunafikan, berbuatan bid’ah, kekafiran, dan kesesatan lainnya.

Sedangkan fitnah syahwat akan mengakibatkan rusaknya ilmu dan i`tiqad (kepercayaan). Sebagai contoh dari penyakit syahwat ini adalah, sifat rakus terhadap harta, tamak terhadap kekuasaan, kesenangan terhadap ketenaran, mencari pujian, kecintaan dalam melakukan perkara-perkara keji, seperti berzina, mencuri, memakan harta riba dan berbagai kemaksiatan lainnya.

Dampak ketika manusia terjangkiti atau bahkan menjadi korban kedua fitnah ini adalah ia tidak dapat membedakan yang makruf dan tidak dapat mengingkari yang mungkar (Laa Ya’rifu Ma’ruufan wa Laa Yunkiru Munkaran) hasilnya adalah ia melihat kebenaran sebagai sebuah kebatilan dan melihat kebatilan sebagai sebuah kebenaran. Wal ‘iyadhu billah.

Tidak dapat dipungkiri lagi segala kerusakan yang terjadi di daratan dan lautan dikarenakan ulah tangan manusia yang terjangkiti oleh kedua fitnah ini. sebab segala yang mereka lakukan hanya bersandarkan kepada keinginan hawa nafsu. Ya, hawa nafsulah yang telah mengarahkan, menuntun dan menjadi tuhan mereka. Setiap yang diinginkan hawa nafsu mereka pasti mengerjakannya. Maka pantaslah mereka disebut sebagai hamba dari nafsu mereka sendiri.

Adapun jalan yang harus ditempuh untuk keluar dari fitnah (Makhraj Minal Fitan) ini adalah dengan dua hal:

Pertama, menolak hawa nafsu. Ketika manusia tidak ingin menjadi budak hawa nafsunya maka caranya adalah menolak dan mencegah datangnya hal itu. Sebab, orang yang menjadi korban hawa nafsu hanyalah karena mereka menerima kedatangan hawa nafsu dan menyerapnya sebagaimana kapas menyerap air.

Kedua, mengikuti petunjuk Al-Qur`an dan As-Sunnah. Mengikuti petunjuk Allah Ta’ala adalah kebalikan mengikuti hawa nafsu. Al-Qur`an dan As-Sunnah akan menuntun seseorang kepada jalan menuju ilahiyah yang sesuai dengan fitrah manusia.

Mengikuti petunjuk Allah dan Rasul-Nya merupakan kemaslahatan dunia dan akhirat. Setidaknya di antara buah dari mengikuti petunjuk Allah dan Rasul-Nya adalah lahirnya karakter: aqidah salimah (aqidah yang selamat), ibadah shahihah (ibadah yang benar) dan akhlak karimah (prilaku yang mulia).

Kedua usaha di atas mustahil mampu terwujud tanpa adanya peran ilmu syar’i. memerangi hawa nafsu haruslah menggunakan ilmu begitupula dengan mengikuti Al-Qur`an dan As-Sunnah.

Wal hasil, belajar dan mengajar ilmu syar’i haruslah senantiasa berjalan. Bagi para penuntut ilmu belajar merupakan perkara yang penting, begitupula dengan para ulama mengajarkan ilmu merupakan amalan yang berpahala besar. Hingga hasilnya adalah kehidupan seorang muslim senantiasa dipandu dengan ilmu. Wallahu A’lam.