Ternyata Wabah Corona Ada Dalam Al Qur’an

0

Ternyata Wabah Corona Ada Dalam Al Qur’an

Oleh: Ust. Ibnu Abdil Bari

Adakah dalil dari Al-Qur’an yang berbicara tentang virus corona yang sekarang mengguncang dunia? Jika ada, apa faidah dari adanya makhluk kecil yang menewaskan ribuan (bahkan puluhan ribu) orang di dunia ini? Apa tujuan dari adanya pandemi yang meneror penduduk bumi di berbagai negara ini?

Mari kita sejenak menadabburi surat Al-An’am ayat 42. Allah Ta’ala berfirman,

وَلَقَدۡ أَرۡسَلۡنَآ إِلَىٰٓ أُمَمٖ مِّن قَبۡلِكَ فَأَخَذۡنَٰهُم بِٱلۡبَأۡسَآءِ وَٱلضَّرَّآءِ لَعَلَّهُمۡ يَتَضَرَّعُونَ

“Dan sungguh, Kami telah mengutus (para rasul) kepada umat-umat sebelum engkau, kemudian Kami siksa mereka dengan (menimpakan) kemelaratan dan kesengsaraan, agar mereka memohon (kepada Allah) dengan kerendahan hati.” (QS. Al-An’am: 42)

Di dalam ayat yang lain, surat Al-A’raf ayat 94, Allah Ta’ala berfirman,

وَمَآ أَرۡسَلۡنَا فِي قَرۡيَةٖ مِّن نَّبِيٍّ إِلَّآ أَخَذۡنَآ أَهۡلَهَا بِٱلۡبَأۡسَآءِ وَٱلضَّرَّآءِ لَعَلَّهُمۡ يَضَّرَّعُونَ

“Dan Kami tidak mengutus seorang nabi pun kepada sesuatu negeri, (lalu penduduknya mendustakan nabi itu), melainkan Kami timpakan kepada penduduknya kesempitan dan penderitaan agar mereka (tunduk dengan) merendahkan diri.” (QS. Al-A’raf: 94)

Kedua ayat di atas sama-sama berbicara perihal bahwa Allah telah mengutus para Rasul kepada umat-umat sebelum Nabi Muhammad صلى الله عليه وسلم; tetapi mereka mendustakan utusan-utusan itu, lalu Allah menghukum mereka dengan Al-Ba’sa’ dan Adh-Dharra’.

Apa itu Al-Ba’sa’ dan Adh-Dharra’ ?

Para mufassir berbeda-beda dalam mendefinisikannya.

Imam Al-Qasimi memaknai Al-Ba’sa’ dengan Asy-syiddatu wal Qahthu, yaitu kesulitan dan paceklik. Sedang makna Adh-Dharra’ adalah Al-Maradhu wa Nuqshanul Anfusi wal Amwal, yaitu sakit, dan berkurangnya jiwa dan harta.

Sedangkan Imam Ibnu Katsir memaknai Al-Ba’sa’ dengan Al-Faqru wadh Dhiqu fil Ma’asy, yaitu kefakiran dan kesempitan dalam mendapatkan maisyah (penghidupan). Dan memaknai Adh-Dharra’ dengan Al-Maradh wal Asqam wal Alam, yaitu sakit, penyakit dan kepedihan-kepedihan.

Sedangkan menurut Imam Al-Qurthubi, beliau menyederhanakan definisi keduanya. Al-Ba’sa’ adalah Al-Masha’ib fil Amwal, musibah terkait harta. Dan Adh-Dharra’ adalah Al-Masha’ib fil Abdan, musibah terkait nyawa (jiwa).

Kiranya pendapat Imam Al-Qurthubi inilah yang lebih memudahkan pemahaman. Al-Ba’sa’ berkaitan dengan musibah dalam harta, dan Adh-Dharra’ berhubungan dengan musibah dalam jiwa.

Lantas, jika kita kaitkan dengan pandemi corona, kita akan menemukan benang merah, yaitu bagaimana pun virus corona ini menjadi virus yang paling cepat penyebarannya, dan merenggut ribuan nyawa dalam waktu yang relatif singkat, dan ini tentu saja mengancam keselamatan nyawa manusia.

Dari sisi ini, pandemi corona bisa dikategorikan sebagai Adh-Dharra’, yaitu musibah yang berkaitan dengan nyawa.

Di sisi yang lain, pandemi corona juga berimbas pada perekonomian dunia; pasar menjadi lesu, pabrik berhenti berproduksi, ribuan karyawan di-Phk, pedagang harian tidak menemukan pembeli, banyak toko lebih memilih untuk tutup.

Tidak diragukan lagi bahwa krisis ekonomi sedikit banyak diakibatkan oleh pandemi virus ini. Maka, secara tidak langsung, virus ini juga menjadi Al-Ba’sa’ yaitu nusibah yang berkaitan dengan harta.

Dengan demikian bisa disimpulkan bahwa kita tengah diuji dengan Al-Ba’sa’ dan Adh-Dharra’ sekaligus. Ini tentu berat sekali.

Ujian ini, kata Imam Al-Qurthubi, bertujuan untuk mendidik manusia. Sedangkan menurut Syaikh As-Sa’di, ia adalah sebentuk rahmat dari Allah untuk manusia. Sedangkan Syaikh Ibnu Asyur menyebut bahwa ujian ini merupakan rahmat yang teramat sangat karena tuntutan hikmah (kebijaksanaan)-Nya.

Hikmah Dibalik Musibah

Lantas, apa hikmah dibalik adanya pandemi corona yang mengancam keselamatan jiwa dan memberikan dampak buruk terhadap -utamanya- perekonomian ini?

Allah menjawab,

لَعَلَّهُمۡ يَتَضَرَّعُونَ

Apa makna Yatadharra’un? Mayoritas mufassir menyebutkan bahwa makna Yatadharra’un adalah agar manusia tunduk kepada Allah, khusyuk di hadapan-Nya, dan bertaubat kepada-Nya.

Inilah faidah dari munculnya virus yang tidak kasat mata tapi kita yakini keberadaannya. Yaitu, agar manusia tunduk, mendekatkan diri, khusyuk dan bertaubat kepada Allah.

Sebagai penutup, ada baiknya kita merenungi pernyataan Imam Ibnu Qayyim Al-Jauziyyah رحمه الله terkait musibah dan ujian -tentu ujian pandemi corona termasuk di dalamnya.

Dalam bukunya Thariqul Hijratain hal. 163, Imam Ibnul Qayyim رحمه الله berkata -dengan maknanya,
“Apabila Allah menguji hamba-Nya dengan berbagai musibah dan ujian; lalu musibah dan ujian itu menjadikannya kembali kepada Allah; menghadap kepada-Nya dan mengetuk pintu-Nya, maka ia menjadi pertanda bagi kebahagiaannya, dan bahwa Allah menghendaki kebaikan baginya. Ia telah mendapat ganti yang lebih baik dan lebih agung daripada musibahnya. Bahkan, baginya, musibah itu adalah ‘ainun ni’mah, nikmat itu sendiri

Sebaliknya, jika musibah dan ujian itu membuat si hamba semakin jauh dari Allah, lupa untuk mengingat Rabbnya dan tunduk kepada-Nya, serta tidak bertaubat kepada-Nya, maka ini adalah tanda kesengsaraannya, dan bahwa Allah menghendaki keburukan baginya. Musibah dan ujian tersebut bencana (malapetaka) baginya._

Demikian. Pandemi corona memang tidak disebutkan secara spesifik dalam Al-Qur’an namun secara global ia disebutkan dalam ayat-ayat ujian dan cobaan. Tak terkecuali surat Al-An’am ayat 42 di atas. Dan faidah dari adanya ujian -termasuk pandemi corona ialah agar kita semakin bermesra dengan Allah; merendahkan diri di hadapan-Nya, khusyuk kepada-Nya dan bertaubat kepada-Nya.

Jika keberadaan wabah corona ini menjadikan kita semakin dengan Allah, maka ia adalah nikmat, tetapi jika ia justru menjauhkan kita dari Allah, ia adalah bencana yang lain -yang seringkali tidak disadari oleh kebanyakam manusia. Wallahu a’lam bish shawab

sumber: channel telegram tadabbur al qur’an.