Tren Dakwah Hijrah

0

Tren Dakwah Hijrah
Oleh: Ust. Burhan Shodiq S.S

Menarik kiranya membahas tentang apa yang sekarang terjadi di hadapan kita. Anak anak muda berbondong bondong menyibukkan diri dengan kajian. Mereka memenuhi medsos yang mereka miliki dengan banyak foto kajian dan kalimat kalimat bagus. Tentu saja hal ini menjadi sebuah pertanda yang baik dan arah yang sangat bagus.

Komunitas-komunitas dakwah pun bermunculan. Beberapa muncul di kota besar, yang kemudian menginisiasi tumbuhnya komunitas yang sama di kota kota lain daerah. Sifatnya sama, yakni anak-anak muda yang dikatakan pernah kehilangan arah, kini balik kepada Islam menyembah Allah dan Rasulnya.

Pada akhirnya memunculkan sebuah sikap nyinyir dari beberapa kalangan yang menilai ini hanya tren sesaat? Selain itu kalangan nyiyir juga mengatakan bahwa gerakan ini bukan dibimbing ulama, melainkan hanya dipimpin oleh anak anak muda yang modal pintar berceramah. Alih alih mendukung, kelompok ini terus menerus menggoyang eksistensi gerakan dakwah hijrah dengan berbagai hal kontroversial.

Bagaikan bola salju, gerakan dakwah hijrah terus melaju kencang. Awalnya dulu hanya orang biasa  yang hijrah ingin menemukan jalan terangnya, kini semakin banyak kalangan artis yang tak terduga juga ikut dalam gerakan ini. mereka masih artis, masih ganteng, masih populer, masih gaul dan masih menawan, tetapi ikut nyemplung ke dalam gerakan dakwah hijrah yang sedang tren ini.

Apakah ini sesat?

Dulu pernah ramai dakwah seorang ustadz dengan gaya khas sedekahnya. Lalu umat menyambut hingar bingar ini. sedekahnya meluas menjadi semakin tidak terbendung. Dimana mana pembahasan soal sedekah. Tapi lambat laun dakwah sedekah ini hilang seiring gerakan dakwah sedekah ini berubah menjadi organisasi bisnis.

Pertanyaannya, apakah dakwah hijrah juga akan mengalami hal sama? Awalnya sukses dan lancar lalu kelak akan menghilang? Mungkin terlalu dini kalau kita menjawab pertanyaan ini. sebab jika melihat perkembangannya, dakwah hijrah mengajak anak muda berpindah dari kehidupan sia sia menjadi kehidupan yang luar biasa ini sangat menjanjikan.

Dakwah ini menemukan momentumnya. Di saat kebebasan dalam banyak hal terjadi. Orang berpendapat dan berbuat sekehendak hati sehingga nampak dosa dan kesalahan di muka bumi, dakwah hijrah ini muncul sebagai jawaban atas kegelisahan. Gelisah melihat kemungkaran yang nyata di depan mata, gelisah melihat Islam dihantam dari berbagai arah.

Kemudian kegelisahan ini bertemu dengan para dai yang secara sukses mempu menarik minat anak anak muda. Dai dai muda yang secara kapasitas ilmu mencukupi, tetapi memiliki sisi marketing yang bagus yang pintar mengelola konten dakwahnya. konten yang sedemikian mentah bisa diracik dengan racikan yang pas dan mengena. disesuaikan dengan kondisi kekinian yang serba milenial, sehingga dakwah nya menjadi kenyal dan siap menghadapi gerusan zaman.

Materi tazkiyah

Dakwah hijrah ini kental dengan materi tazkiyah. Menyoal diri dan dosa serta kesalahan. Menyentil sisi kepekaan hati apakah selama ini terjerembab dalam dosa dan maksiat atau tidak. Kalau iya, apakah berkenan untuk kembali kepada Allah dengan taubat yang benar. Berjalan tertatih bersama dengan para pemburu ampunan lainnya.

Karena fokus kepada materi penyucian jiwa dan hati, orang banyak yang suka dan tersentuh. Teringat dosa dan kesalahan kesalahannya. Lalu mencoba untuk mengubah diri menjadi lebih baiklah dan lagi.

Bukan soal siapa anda dan siapa mereka, tetapi pembahasan yang diketengahkan lebih kepada hal-hal yang minim perdebatan. Tidak akan menimbulkan masalah keutaman, karena lebih fokus pada bagaimana menyatukan perbedaan perbedaan itu.

Tema tema yang diangkat adalah tema tema kembali kepada Allah. Mengutamakan persoalan persoalan ukhuwwah, kerukunan dan kebersamaan. Serta menunda pembahasan pembahasan aqidah yang mungkin akan dikhawatirkan memunculkan masalah masalah baru di kemudian hari.

Hal hal yang perlu diwaspadai

Dari perkembangan dakwah hijrah yang sangat maju ini ada beberapa hal yang harus diwaspadai. Yakni perasaan mencukupkan diri pada soal soal semangat saja, sehingga menghilangkan keinginan untuk lebih dalam lagi belajar agama.

Jika sudah senang dengan kegiatan yang nampak hingar bingar dan serimonial, dikhawatirkan menjadi malas ketika harus menuntut ilmu secara berketerusan.

Kekhawatiran kedua adalah, menculnya sikap ashobiah golongan. Misalnya perasaan sebagai kelompok eksklusif. Menyamakan diri dengan atribut dan sikap sikap tertentu. Yang pada akhirnya akan menyebabkan seseorang menjadi lebih eksklusif dibanding dengan umat lainnya. Jika ini dibiarkan dan tidak diobati maka akan memecah persatuan di kalangan umat Islam. Maka jawaban dari itu semua adalah, masing masing pihak harus menihilkan perasaan perasaan seperti itu. Melihat dan menilai bahwa semua hamba pada posisi yang sama. Sedangkan pakaian dan aksesoris komunitas hanya sebagai penanda gerakan saja.

Jika masing masing pihak sudah memahami hal ini, maka efek gerak dakwah hijrah ini akan menjadi semakin bagus untuk masa depan nanti.

PR kedepan

Para dai yang bergerak di bidang ini harus secara serius menyiapkan diri menghadapi fenomena setelahnya. Jika sebuah gerakan sudah mencapai puncaknya, biasanya akan terjadi proses berikutnya yakni proses penurunan. Orang akan merasa jenuh dengan perkembangan yang ada, lalu mulai mencari sesuatu yang lain yang bisa mereka geluti. Jika elemen dakwah tidak siap dengan program program baru, maka mereka bisa saja bosan dan meninggalkan dakwah ini. Kemudian secara jumlah akan menurun dan secara pengaruh akan menurun juga.

Kedepan, pekerjaan rumah para dai masih sangat banyak. Sehingga butuh terobosan terobosan dakwah yang lebih jitu.

(Majalah ar risalah, edisi: 216)