Ujian Iman Dibalik Musibah dan Wabah

0

Ujian Iman Dibalik Musibah dan Wabah

Ketakutan. Adalah perasaan dominan yang hari-hari ini dirasakan banyak manusia di dunia. Pandemi Corona adalah alasan ketakutan itu muncul mendominasi hati dan pikiran.

Pemberitaan di media, kabar dan tulisan-tulisan yang banyak memenuhi jagat media sosial selama tiga bulan terakhir belum beralih pada topik lainnya. Virus Corona masih jadi perbincangan di mana-mana.

Angka-angka kematian yang terus bertambah dari hari ke hari, data statistik korban positif yang juga belum menunjukkan angka penurunan berhasil membuat mayoritas manusia merasa; kematian begitu dekat rasanya.

Seakan-akan dunia yang luas ini semakin terasa sempit, ruang gerak semakin terbatas. Tiba-tiba banyak manusia amnesia, bahwa di atas segalanya masih Ada Allah yang Maha Segalanya.

Krisis yang disebabkan oleh pandemi Corona memang berimplikasi pada banyak aspek lainnya; ekonomi, politik, kesehatan dan lainnya. Tapi krisis terbesar yang justru berdampak sangat buruk adalah; kerisis keimanan.

Di mana manusia lupa bahwa segala yang terjadi mutlak dengan izin dan kehendak Allah. Maka cara terbaik saat musibah seperti ini adalah; kembali kepada Dzat yang Maha Segalanya. Menginsafi diri; bahwa manusia, adalah makhluk lemah tak berdaya.

Musibah Adalah Keniscayaan

Ujian dan cobaan adalah paket yang wajib diambil bagi manusia yang hidup di dunia. Karena konskuwensi dari kehidupan adalah ujian dan cobaan. Sebagaimana firman Allah ta’ala:

وَلَنَبۡلُوَنَّكُم بِشَيۡءٍ مِّنَ ٱلۡخَوۡفِ وَٱلۡجُوعِ وَنَقۡصٍ مِّنَ ٱلۡأَمۡوَٰلِ وَٱلۡأَنفُسِ وَٱلثَّمَرَٰتِۗ وَبَشِّرِ ٱلصَّٰبِرِينَ

“Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar.” (QS. Al-Baqarah: 155)

Ujian adalah keniscayaan bagi manusia, untuk menguji mereka; siapa yang jujur dan dusta (imannya), siapa yang putus asa dan sabar. Karena hikmah dari sebuah ujian dan musibah adalah; sebagai pembeda antara ahlul iman dan ahlu syarr. (lihat: Abdurrahman as-Sa’di, Taisir Kalim ar-Rahman fi Tafsir Kalam al-Mannan, 1/75)

Keimanan menjadi bekal utama dalam menghadapi ujian dan cobaan. Karena bagi orang beriman, cobaan dan ujian dalam kehidupan adalah keniscayaan yang Allah pergilirkan.

Orang-orang beriman paham sekali, bahwa ujian dan cobaan pasti Allah berikan, maka mereka akan mengambil sabar sebagai pilihan, tidak berputus asa dari pertolongan Allah, dan mereka percaya, badai ujian akan berlalu bersama waktu.

Macam-macam ujian

Lewat ayat ini, Allah menyebutkan ada beberapa macam ujian; ketakutan, kelaparan, kemiskinan, dan sakit. Di mana hal tersebut adalah yang pasti akan ditemui manusia dalam kehidupan.

Ketakutan dalam ayat ini, menurut Imam al-Qurthubi adalah ketakutan terhadap musuh saat di medan perang. Sedangkan makna kelaparan adalah; yang disebabkan karena musim panceklik dan kekeringan. Adapun menurut Imam Syafi’i maksudnya adalah kelaparan pada bulan Ramadan.

Kemiskinan atau kekurangan harta dalam ayat ini ditafsirkan oleh Syaikh as-Sa’di sebagai kehilangan yang disebabkan banyak faktor. Kehilangan karena dirampas secara dzolim, hilang, rusak, tenggelam dan semisalnya.

Adapun ujian pada jiwa adalah berupa kematian, terbunuh, kehilangan orang-orang yang dicintai, juga karena sakit yang menggerogoti badan atau sakit yang menimpa orang yang disayangi, hal tersebut masuk dalam ujian terhadap jiwa. (Lihat: Tafsir as-Sa’di, 1/175, lihat juga: Tafsir al-Baghawi, 1/169)

Empat hal ini; ketakutan, kelaparan, kemiskinan, dan sakit adalah hal pasti terjadi dan dialami manusia. Sepanjang sejarah peradaban manusia, semua hal itu pernah ada, bahkan dalam masa-masa tertentu keadaannya sangat mengerikan.

Namun ujian-ujian tersebut disebutkan oleh Allah dengan sifat ‘sedikit’, yang bermakna ujian, musibah dan cobaan yang Allah berikan kepada manusia ini hanya sedikit. Karena tujuannya adalah untuk menguji, bukan untuk membinasakan.

Untuk menguji siapa yang benar keimanannya serta sabar dalam ujian, dan siapa yang dusta serta berputus asa.

Pandemi Corona: Ujian Keimanan

Pandemi corona yang terjadi di dunia telah mengubah banyak hal. Termasuk Indonesia, semenjak kasus pertama yang diumumkan pada awal bulan maret, Virus ini telah merengut banyak hal.

Pandemi ini benar-benar menjadi ujian bagi manusia, terkhusus bagi orang beriman. Di mana bersabar atas realitas dan mengimani hal tersebut bagian dari ujian mutlak dibutuhkan.

Musibah pandemi Corona menimbulkan dampak yang sangat serius pada banyak sisi . Pada sisi ekonomi. Pertokoan banyak yang tutup, para pekerja dirumahkan, dan barang-barang pokok mulai langka di pasaran. Corona telah menimbulkan ketakutan dan kekhawatiran.

Semua bentuk ujian yang Allah berikan kepada manusia, nyaris semuanya berlaku saat ini. Ketakutaan ada di mana-mana, virus Corona menjadi musuh bersama yang harus segera dikalahkan.

Ekonomi dunia yang kian lesu menimbulkan kelaparan dan kekurangan pangan, karena produksi di negara-negara tertentu turun sehingga berdampak pada negara pengimpor. Banyak perusahaan merumahkan para pekerja, pasar lesu, UKM (usaha kecil dan menegnah) layu dan tumbang satu per satu.

Efeknya penghasilan para buruh dan pekerja harian semakin tidak menentu. Sementara kebutuhan harian masyarakat selama masa-masa karantina meningkat pesat. Maka kekurangan pangan yang berakhir pada kelaparan sangat mungkin terjadi di kemudian hari.

Kematian yang disebabkan oleh virus ini juga telah merengut 134.354 jiwa di dunia per 16 April, hari ini.  Sedangkan untuk Indonesia ada 469 korban meninggal per 15 April kemarin. Suasana kehilangan sangat terasa, kematian terasa sangat dekat, kehidupan terasa tercekat.

Inilah saat-saat di mana keimanan diuji dan kesabaran harus terus diperbarui.  Seperti yang dikatakan oleh Sayyid Qutb, musibah adalah ujian untuk menempa jiwa, dan hal ini adalah keniscayaan untuk meneguhkan kyakinan orang-orang beriman.

Maka pelajaran dari setiap musibah adalah, kembalinya kita mengingat Allah, berusaha mengosongkan hati dari segala hal, kecuali yang ditunjukkan kepada Allah. Agar hati kita terbuka bahwa; tidak ada kekuatan dan daya upaya kecuali dari Allah, sehingga manusia kembali hanya mengabdi  kepada –Nya. (Sayyid Qutb, Fii Dzilal al-Quran, 1/174)

Jika musibah itu dari Allah, maka Allah juga yang akan mengangkat dan menghilangkannya. Maka memperbaiki hubngan dengan Allah di masa-masa seperti ini adalah keharusan.

Allah telah menjelaskan cara untuk mendapatkan pertolongan tersebut; dengan cara sabar dan shalat. Allah berfirman:

يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ ٱسۡتَعِينُواْ بِٱلصَّبۡرِ وَٱلصَّلَوٰةِۚ إِنَّ ٱللَّهَ مَعَ ٱلصَّٰبِرِينَ

“Hai orang-orang yang beriman, jadikanlah sabar dan shalat sebagai penolongmu, sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar.” (QS. Al-Baqarah: 153)

Membenahi ruhiyah umat penting dalam menghadapi krisis seperti ini. Menjadikan sabar sebagai sikap dalam menghadapi berbagai ujian, dan menjadikan shalat sebagai bentuk ketundukan dan kepasrahan. Dua hal ini yang membuat pertolongan Allah segera diturunkan.

Mari rawat iman kita, pupuk sabar kita. Karena Allah membersamai orang-orang yang sabar.

(Ust. Fajar Jaganegara, S.Pd.I)