Urgensi Mempelajari Asmaul Husna

0

Urgensi Mempelajari Asmaul Husna | Kajian Kitab Fikih Asmaul Husna 01

Oleh: Ust. Zaid Royani, S.Pd.I

Asmaul husna bermakna nama-nama Allah yang indah. Asma’ adalah jamak dari kata ismun (nama), sedangkan al husna adalah bentuk muannats dari kata ahsan yang artinya paling baik. Sehingga makna lengkapnya adalah nama-nama Allah yang paling indah. Selain itu, keindahan nama-nama Allah bagian dari bentuk kesempuraan dan keagungan dzat Allah Ta’ala.

Meyakini bahwa Allah memiliki nama-nama dan sifat yang indah adalah bagian dari tauhid yang benar. Sebaliknya menolak bahwa Allah tidak memiliki nama atau sifat yang indah maka menjadi indikasi rusaknya tauhid seseorang.

Ada beberapa urgensi mempelajari asmaul husna, yaitu:

Pertama, Ilmu paling mulia

Disebutkan dalam suatu kaidah:

شَرَفُ العِلْمِ بِشَرَفِ مَعْلُوْمِهِ 

“Kemuliaan suatu ilmu berdasarkan kemuliaan apa yang dipelajari.”

Ilmu asmaul husna ini mempelajari tentang Allah ta’ala maka ilmu ini menjadi ilmu paling mulia, karena berkaiatan langsung dengan Allah.

Ada beberapa indikasi yang menguatkan bahwa asmaul husna menjadi ilmu paling mulia yaitu:

Pertama, dalam Al Qur’an sangat banyak menyebutkan tentang Allah lebih banyak daripada berbicara tentang masalah akhirat, kenikmatan surga, hukum-hukum dan lainnya.

Kedua, ayat teragung di Al Qur’an adalah ayat kursi. Jika kita perhatikan makna ayat kursi murni berbicara tentang nama dan sifat Allah.

Ketiga, surat teragung dalam Al Qur’an adalah surat Al Fatihah. Kita dapatkan bahwa surat Al Fatihah dibuka dengan nama nama Allah.

Keempat, surat Al Ikhlas yang menyamai sepertiga Al Qur’an. Surat ini dimulai dengan nama nama Allah.

Keempat indikasi ini sudah cukup untuk menegaskan bahwa asmaul husna merupakan ilmu yang sangat penting dan mulia seiring dengan kemuliaan Allah.

Kedua, Perintah di balik mempelajari nama-nama Allah

Banyak ayat dalam Al Qur’an yang memerintahkan manusia untuk mempelajari nama-nama Allah. Sebagamana firman Allah:

فَٱعۡلَمُوٓاْ أَنَّ ٱللَّهَ عَزِيزٌ حَكِيمٌ

“… ketahuilah bahwa Allah Maha-perkasa, Mahabijaksana.” (Qs. Al-Baqarah: 209)

وَٱتَّقُواْ ٱللَّهَ وَٱعۡلَمُوٓاْ أَنَّ ٱللَّهَ بِكُلِّ شَيۡءٍ عَلِيم

“Dan bertakwalah kepada Allah dan ketahuilah bahwa Allah Maha Mengetahui segala sesuatu.” (Qs. Al-Baqarah: 231)

وَٱتَّقُواْ ٱللَّهَ وَٱعۡلَمُوٓاْ أَنَّ ٱللَّهَ بِمَا تَعۡمَلُونَ بَصِير

“Bertakwalah kepada Allah dan ketahuilah bahwa Allah Maha Melihat apa yang kamu kerjakan.” (Qs. Al-Baqarah: 233)

وَٱعۡلَمُوٓاْ أَنَّ ٱللَّهَ غَفُورٌ حَلِيمٞ

“Dan ketahuilah bahwa Allah Maha Pengampun, Maha Penyantun.” (Qs. Al-Baqarah: 235)

وَقَٰتِلُواْ فِي سَبِيلِ ٱللَّهِ وَٱعۡلَمُوٓاْ أَنَّ ٱللَّهَ سَمِيعٌ عَلِيمٞ

“Dan berperanglah kamu di jalan Allah, dan ketahuilah bahwa Allah Maha Mendengar, Maha Mengetahui.” (Qs. Al-Baqarah: 244)

وَٱعۡلَمُوٓاْ أَنَّ ٱللَّهَ غَنِيٌّ حَمِيدٌ

“Dan ketahuilah bahwa Allah Mahakaya, Maha Terpuji.” (Qs. Al-Baqarah: 267)

Dan masih banyak lagi ayat yang semisal seperti dalam surat Al Maidah: 98, Al Anfal: 40, Al Hijr: 49, Al Thalaq: 12.

Ayat-ayat di atas memerintahkan manusia untuk mengetahui nama-nama dan sifat-sifat Allah dengan beragam redaksi yang ada. Banyaknya perintah untuk mengetahui nama-nama Allah menunjukkan pentingnya mempelajari masalah ini.

Ketiga, hikmah penciptaan langit dan bumi

Hikmah Allah menciptakan langit dan bumi adalah agar kita mengenal nama-nama Allah. Hal ini sebagaimana firman Allah:

ٱللَّهُ ٱلَّذِي خَلَقَ سَبۡعَ سَمَٰوَٰتٖ وَمِنَ ٱلۡأَرۡضِ مِثۡلَهُنَّ يَتَنَزَّلُ ٱلۡأَمۡرُ بَيۡنَهُنَّ لِتَعۡلَمُوٓاْ أَنَّ ٱللَّهَ عَلَىٰ كُلِّ شَيۡءٖ قَدِيرٞ وَأَنَّ ٱللَّهَ قَدۡ أَحَاطَ بِكُلِّ شَيۡءٍ عِلۡمَۢا

“Allah yang menciptakan tujuh langit dan dari (penciptaan) bumi juga serupa. Perintah Allah berlaku padanya, agar kamu mengetahui bahwa Allah Mahakuasa atas segala sesuatu, dan ilmu Allah benar-benar meliputi segala sesuatu.” (Qs. Ath-Thalaq: 12)

Keempat, usaha Nabi dalam menjelaskan asmaul husna

Nabi shallahu ‘alaihi wasallam dalam banyak kesempatan berusaha menjelaskan kepada para sahabatnya tentang nama nama Allah dengan perumpamaan yang mudah dipahami. Hal tersebut dapat kita temui dalam beberapa riwayat berikut ini:

Ketika ingin menjelaskan sifat Ar Rahim (Maha Pengasih). Diriwayatkan dari sahabat Umar bin Khattab radhiyallahu ‘anhu, beliau mengisahkan:

قَدِمَ عَلَى رَسُولِ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم بِسَبْىٍ فَإِذَا امْرَأَةٌ مِنَ السَّبْىِ تَبْتَغِى إِذَا وَجَدَتْ صَبِيًّا فِى السَّبْىِ أَخَذَتْهُ فَأَلْصَقَتْهُ بِبَطْنِهَا وَأَرْضَعَتْهُ فَقَالَ لَنَا رَسُولُ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم: أَتَرَوْنَ هَذِهِ الْمَرْأَةَ طَارِحَةً وَلَدَهَا فِى النَّارِ قُلْنَا لاَ وَاللَّهِ وَهِىَ تَقْدِرُ عَلَى أَنْ لاَ تَطْرَحَهُ فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم: لَلَّهُ أَرْحَمُ بِعِبَادِهِ مِنْ هَذِهِ بِوَلَدِهَا 

“Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam memperoleh banyak tawanan perang. Tiba-tiba ada seorang perempuan dari mereka yang mencari bayinya dalam kelompok tawanan tersebut. Kemudian dia mengambil bayi itu, memeluknya kemudian menyusuinya. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bertanya kepada kami, “Menurut kalian, apakah perempuan ini tega melemparkan anaknya itu ke api ?” Kamipun menjawab, “Demi Allah, tidak akan melemparkannya ke api selama dia masih mampu untuk tidak melemparnya”. Lalu Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Sungguh Allah lebih sayang kepada para hamba Nya melebihi kasih sayang perempuan ini terhadap anaknya” (HR. Bukhori 5999, Muslim 2754.)

Ketika ingin menjelaskan sifat At Tawwab (Maha Penerima Taubat). Diriwayatkan dari sahabat Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu, bahwa Rasulullah shallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

لَلَّهُ أَشَدُّ فَرَحًا بِتَوْبَةِ عَبْدِهِ حِينَ يَتُوبُ إِلَيْهِ مِنْ أَحَدِكُمْ كَانَ عَلَى رَاحِلَتِهِ بِأَرْضِ فَلاَةٍ فَانْفَلَتَتْ مِنْهُ وَعَلَيْهَا طَعَامُهُ وَشَرَابُهُ فَأَيِسَ مِنْهَا فَأَتَى شَجَرَةً فَاضْطَجَعَ فِى ظِلِّهَا قَدْ أَيِسَ مِنْ رَاحِلَتِهِ فَبَيْنَا هُوَ كَذَلِكَ إِذَا هُوَ بِهَا قَائِمَةً عِنْدَهُ فَأَخَذَ بِخِطَامِهَا ثُمَّ قَالَ مِنْ شِدَّةِ الْفَرَحِ اللَّهُمَّ أَنْتَ عَبْدِى وَأَنَا رَبُّكَ.أَخْطَأَ مِنْ شِدَّةِ الْفَرَحِ

“Sesungguhnya Allah sangat gembira dengan taubat hamba-Nya ketika ia bertaubat pada-Nya melebihi kegembiraan seseorang di antara kalian yang berada di atas kendaraannya dan berada di suatu tanah yang luas (padang pasir), kemudian hewan yang ditungganginya lari meninggalkannya. Padahal di hewan tunggangannya itu ada perbekalan makan dan minumnya. Sehingga ia pun menjadi putus asa. Kemudian ia mendatangi sebuah pohon dan tidur berbaring di bawah naungannya dalam keadaan hati yang telah berputus asa. Tiba-tiba ketika ia dalam keadaan seperti itu, kendaraannya tampak berdiri di sisinya, lalu ia mengambil ikatnya. Karena sangat gembiranya, maka ia berkata, ‘Ya Allah, Engkau adalah hambaku dan aku adalah Rabb-Mu.’ Ia telah salah mengucapkan karena sangat gembiranya.” (HR. Muslim no. 2747).

Ketika menjelaskan Sifat Al Ghafur (Maha Pengampun). Diriwayatkan dari sahabat Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu:

 عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِيمَا يَحْكِي عَنْ رَبِّهِ عَزَّ وَجَلَّ قَالَ أَذْنَبَ عَبْدٌ ذَنْبًا فَقَالَ اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِي ذَنْبِي فَقَالَ تَبَارَكَ وَتَعَالَى أَذْنَبَ عَبْدِي ذَنْبًا فَعَلِمَ أَنَّ لَهُ رَبًّا يَغْفِرُ الذَّنْبَ وَيَأْخُذُ بِالذَّنْبِ ثُمَّ عَادَ فَأَذْنَبَ فَقَالَ أَيْ رَبِّ اغْفِرْ لِي ذَنْبِي فَقَالَ تَبَارَكَ وَتَعَالَى عَبْدِي أَذْنَبَ ذَنْبًا فَعَلِمَ أَنَّ لَهُ رَبًّا يَغْفِرُ الذَّنْبَ وَيَأْخُذُ بِالذَّنْبِ ثُمَّ عَادَ فَأَذْنَبَ فَقَالَ أَيْ رَبِّ اغْفِرْ لِي ذَنْبِي فَقَالَ تَبَارَكَ وَتَعَالَى أَذْنَبَ عَبْدِي ذَنْبًا فَعَلِمَ أَنَّ لَهُ رَبًّا يَغْفِرُ الذَّنْبَ وَيَأْخُذُ بِالذَّنْبِ اعْمَلْ مَا شِئْتَ فَقَدْ غَفَرْتُ لَكَ قَالَ عَبْدُ الْأَعْلَى لَا أَدْرِي أَقَالَ فِي الثَّالِثَةِ أَوْ الرَّابِعَةِ اعْمَلْ مَا شِئْتَ

Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam dari apa yang telah dikhabarkan oleh Allah Subhanahu Wa Ta’ala, beliau bersabda: “Dahulu, ada seorang yang telah berbuat dosa. Setelah itu, ia berdoa dan bermunajat; ‘Ya Allah, ampunilah dosaku! ‘ Kemudian Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman: ‘Sesungguhnya hamba-Ku mengaku telah berbuat dosa, dan ia mengetahui bahwasanya ia mempunyai Tuhan yang dapat mengampuni dosa atau memberi siksa karena dosa.’ Kemudian orang tersebut berbuat dosa lagi dan ia berdoa; ‘Ya Allah, ampunilah dosaku! ‘ Maka Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman: ‘Hamba-Ku telah berbuat dosa, dan ia mengetahui bahwasanya ia mempunyai Tuhan yang mengampuni dosa atau menyiksa hamba-Nya karena dosa. Oleh karena, berbuatlah sekehendakmu, karena Aku pasti akan mengampunimu (jika kamu bertaubat).’ (HR. Muslim 4953)

Ketiga riwayat ini menjelaskan keseriusan Rasulullah dalam mengajarkan para sahabatnya tentang makna asmaul husna.

Kelima, Sumber cinta & takut kepada Allah

Dengan mengenal nama-nama Allah yang indah seorang hamba akan semakin mencintai Rabbnya dan sekaligus semakin takut kepada-Nya serta semakin rajin ibadah kepada-Nya.

Ahmad bin Ashim Al Anthaqi berkata:

مَنْ كَانَ بِاللهِ  أَعْرَفُ كَانَ مِنْهُ أَخْوَفُ

“Barangsiapa yang semakin kenal Allah maka ia akan semakin takut kepada-Nya.”

Ketika seseorang mengenal bahwa Allah Maha Melihat, Maha Mendengar maka ia tidak akan bermaksiat. Berbeda jika pengetahuan seseorang kepada Allah lemah, ia tidak tahu bahwa Allah Maha Mengetahui, Maka Melihat maka ia akan mudah untuk bermaksiat.

Dalam sebuah vidio yang banyak tersebar di internet, ada pengendara mobil yang menemui seorang pengembala kambing milik tuannya, kemungkinan peristiwa ini terjadi di Yaman. Pengembala ini nampak dengan pakaian sederhana, sangat polos, ketika pengendara mobil tersebut menawarkan kepada pengembala agar menjual seekor kambingnya, dengan alasan jika satu ekor engkau jual maka tuanmu tidak mengetahuinya, dan kamu bisa mengambil uang hasil penjualan ini.

Maka dengan sederhana pengembala itu menjawab, ada Allah yang selalu mengetahuinya. Ini adalah sekelumut contoh dari pengetahuan seseorang terhadap Allah. Tidak butuh titel pendidikan yang tinggi untuk mengenal nama Allah.

Keenam, Atsar asmaul husna pada hamba-Nya

Allah menyukai atsar (tanda) nama-nama-Nya ada pada perbuatan hamba-hamba-Nya. Maknanya Allah mencintai hamba-hamba-Nya yang mencontoh sebagian dari sifat-sifat mulia-Nya. Dengan demikian memaksa kita untuk mempelajari nama-nama-Nya agar kita bisa meniru sebagaian atsar nama-nama-Nya.

Sebagai contoh diriwayatkan dari Abdullâh bin Mas’ud radhiyallahu anhu bahwa Rasalullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

إِنَّ اللهَ جَمِيْلٌ يُحِبُّ الْجَمَالَ

“Sesungguhnya Allah Maha Indah dan mencintai keindahan…” (HR. Muslim 91)

Sebagaimana Allah memiliki sifat jamil (indah), maka ia menyukai tanda keindahan-Nya ada pada hamba-hamba-Nya. Dengan itu setiap muslim dianjurkan untuk memperindah penampilan, pakaian, kendaraan, dan lainnya.

Contoh lain firman Allah: “Sesungguhnya Allah menyukai orang orang yang baik.” (Qs. Al Baqarah: 195)

Allah menyukai orang yang berbuat baik, karena Allah adalah Al Muhsin (Maha Baik).

Dan masih banyak lagi contoh contoh yang lain, seperti: Allah Maha Dermawan dan menyukai kedermawanan. Allah Maha pengampun dan menyukai ampunan. Allah Maha Penyayang dan menyukai hamba penyang.

Ketujuh, Ibadah khusus di balik asmaul husna

Di balik setiap nama Allah ada ibadah khusus yang bisa dikerjakan oleh seorang hamba. Maknanya nama Allah menjadi motivasi lahirnya ibadah-ibadah khusus.

Sebagai contoh: ar razzaq, ketika seseorang memahami makna nama Allah yakni ar razzaq (Maha Pemberi Rezeki), maka akan melahirkan amalan shalih.

Ia hanya akan mencari harta yang halal saja, tidak mengambil yang haram.Mengapa orang sampai berani mengambil harta haram, karena ia tidak yakin bahwa Allah adalah ar razzaq.

Ia tidak akan meninggalkan shalat kalau dia memahami ar razzaq. Orang yang lalai shalat karena mencari rezeki karena ia tidak paham makna ar razzaq.

Ia tidak akan menggantungkan rezekinya dengan manusia dan sebab rezeki. Sebab iyaa memahami bosnya hanya perantara datangnya rezeki bukan pemberi rezeki.

Demikianlah ketujuh urgensi memahami asmaul husna, yang akan memotivasi kita sekalian agar lebih perhatian dalam mempelajari nama-nama Allah yang indah. Wallahu a’lam.

(pembahasan fikih asmaul husna banyak merujuk kepada kitab fikih asmaul husna karya Dr. Abdurrazzaq bin Abdul Muhsin Al Badr)